Tari Gatotkaca Gandrung

Gatoet Kotjo, zijne vrouw Arimbi en zijn zoon Radhen Ario Wrekoedoro, KITLV

Tari Gatotkaca Gandrung merupakan tari tunggal berkarakter gagah khas gaya Surakarta yang merepresentasikan tokoh kesatria Gatotkaca dari epos Mahabharata. Tarian ini umumnya ditampilkan dalam pertunjukan wayang wong (wayang orang), khususnya pada adegan-adegan yang menampilkan tokoh Gatotkaca. Tari ini muncul pada masa pemerintahan KGPAA Mangkunegara V. Pada periode tersebut, Pendapa Pura Mangkunegaran menjadi tempat diselenggarakannya pertunjukan wayang wong pendhapan, yaitu pementasan drama tari yang mengangkat cerita-cerita dari Ramayana dan Mahabharata. Dalam beberapa pementasan tertentu, muncul lakon yang menampilkan Gatotkaca sebagai tokoh sentral, dan dari sinilah Tari Gatotkaca Gandrung berkembang sebagai bagian dari tradisi seni pertunjukan keraton. Sejak tahun 2021, Pemerintah menetapkan Tari Gatotkaca Gandrung sebagai Warisan Budaya Takbenda.[1]

Sejarah

Tari Gatotkaca Gandrung berasal dari masa pemerintahan KGPAA Mangkunegara V. Pada periode tersebut, di Pendapa Pura Mangkunegaran kerap diselenggarakan pertunjukan drama tari yang mengangkat kisah-kisah dari epos Ramayana dan Mahabharata, yang dikenal dengan istilah wayang wong pendhapan. Dalam beberapa lakon tertentu, tokoh Gatotkaca ditampilkan sebagai karakter utama, yang kemudian melahirkan bentuk tarian khas dengan nama Gatotkaca Gandrung.[1]

Gatotkaca dalam kisah pewayangan berasal dari epos Mahabharata. Ia merupakan putra Bimasena (Werkudara) dari bangsa Rakshasa melalui pernikahannya dengan Dewi Arimbi. Dalam tradisi pewayangan Jawa, Gatotkaca dikenal sebagai sosok berkarakter kuat dan gagah berani. Tokoh ini masyhur dengan kekuatan fisiknya yang luar biasa, sehingga dijuluki "otot kawat, balung wesi", yang secara harfiah berarti "berotot kawat, bertulang besi", menggambarkan ketangguhan tubuh dan kemampuannya dalam medan pertempuran.[1]

Dramatari pementasan

Tari Gatotkaca Gandrung tahun 1952

Tari Gatotkaca Gandrung terinspirasi dari kisah dalam lakon Gatotkaca Krama (Gatotkoco Kromo), yang mengisahkan pergolakan batin tokoh Gatotkaca saat mengalami cinta yang tak berbalas. Dalam cerita tersebut, Gatotkaca jatuh hati kepada Dewi Pregiwa, putri dari Raden Arjuna. Meskipun keduanya saling mencintai, lamaran Gatotkaca ditolak, yang menyebabkan dirinya merasa kecewa dan terluka secara emosional. Penolakan tersebut menjadi pukulan berat bagi Gatotkaca, seorang kesatria yang dikenal sakti, gagah, dan tampan. Kisah ini mengandung makna bahwa sekuat dan sehebat apa pun seseorang, ia tetap dapat merasakan kesedihan mendalam ketika menghadapi kegagalan dalam percintaan.[2]

Pada akhirnya, cerita Gatotkaca Krama berakhir dengan Gatotkaca yang berhasil mempersunting Dewi Pregiwa. Namun, fase awal kisah yang penuh gejolak batin inilah yang kemudian diwujudkan dalam bentuk tari Gatotkaca Gandrung. Tarian ini merepresentasikan kegandrungan atau hasrat cinta mendalam Gatotkaca terhadap Dewi Pregiwa, sekaligus menggambarkan sisi emosional dan kerentanan seorang kesatria dalam menghadapi cinta.[2]

Makna

Tari Gatotkaca Gandrung mengandung makna dan nilai estetika yang dapat diapresiasi melalui unsur bentuk, kualitas gerak, dan penyajiannya. Dari sudut pandang estetika, pertunjukan tari ini menampilkan kesatuan elemen artistik yang harmonis, membentuk sebuah repertoar yang khas dan memiliki identitas tersendiri dalam khazanah seni pertunjukan.[2]

Referensi

  1. ^ a b c "Tari Gatotkaca: Ragam Unsur Gerak, Tata Rias, dan Fungsinya". kumparan. Diakses tanggal 2025-06-17.
  2. ^ a b c Nurjanah, Dewi; Sakti, Meiga Fristya Laras (2023-08-30). "TARI GATOTKACA GANDRUNG KARYA R. ONO LESMANA KARTADIKOESOEMAH DI PADEPOKAN SEKAR PUSAKA SUMEDANG". Jurnal Seni Makalangan (dalam bahasa Inggris). 10 (1). doi:10.26742/mklng.v10i1.2710. ISSN 2714-8920.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement