Tari Babangsai Bakanjar


Tari Babangsai Bakanjaran adalah salah satu bentuk seni pertunjukan kreasi baru yang berasal dari Kalimantan Selatan, Indonesia. Tarian ini merupakan hasil penggabungan dua tari tradisional, yaitu Tari Babangsai yang ditarikan oleh perempuan dan Tari Bakanjar yang ditarikan oleh laki-laki. Tari Babangsai Bakanjaran diciptakan oleh para seniman di Sanggar La Bastari Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, sebagai bentuk inovasi dari tradisi tari Babangsai yang berasal dari upacara adat Aruh Ganal masyarakat Dayak Loksado atau Suku Bukit di Pegunungan Meratus.[1]

Sejarah

Tari Babangsai Bakanjaran berakar pada tradisi sakral masyarakat Dayak Loksado yang melaksanakan upacara Aruh Ganal sebagai ungkapan syukur atas hasil panen. Dalam upacara tersebut, Tari Babangsai berfungsi sebagai tarian penyambutan roh leluhur Datu Nini. Seiring perkembangan zaman, para seniman di Kalimantan Selatan mengembangkan bentuk tarian ini menjadi karya kreasi yang bersifat hiburan dan edukatif tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya aslinya.

Sanggar La Bastari, yang berdiri sejak tahun 1989 di Kandangan, berperan penting dalam melestarikan dan memperkenalkan bentuk kreasi baru tersebut kepada masyarakat luas. Versi kreasi ini memadukan gerak, musik, dan tema yang lebih dinamis agar dapat dipentaskan dalam berbagai acara kebudayaan dan sosial.[2]

Tari Babangsai Bakanjaran menggambarkan kisah sosial tentang proses pencarian jodoh antara laki-laki dan perempuan. Tema ini dipilih sebagai simbol keharmonisan, ketulusan, dan keseimbangan dalam hubungan manusia.

Penyajian

Struktur penyajian tarian terdiri atas tiga bagian utama:

  1. Gerak awal, menggambarkan proses perkenalan antara laki-laki dan perempuan (payi).
  2. Gerak klimaks, menggambarkan proses pendekatan dan interaksi sosial (manasai, bataharep, menggiring, bagandang, mintih, dan hatalikut).
  3. Gerak akhir, menggambarkan keberhasilan mendapatkan pasangan (hapasang).

Jumlah penari umumnya terdiri atas lima penari perempuan dan dua penari laki-laki. Dalam penyajian, jumlah penari laki-laki tidak boleh melebihi jumlah penari perempuan untuk menjaga keseimbangan makna simbolis tarian.[3]

Musik pengiring Tari Babangsai Bakanjaran menggunakan perpaduan alat musik tradisional Kalimantan Selatan, di antaranya:

  1. Saron
  2. Babun ganal dan halus
  3. Luma
  4. Kecapi Sunda
  5. Serunai
  6. Agung

Irama musik disesuaikan dengan alur dramatik gerakan penari, dimulai dengan tempo lembut, kemudian meningkat pada bagian klimaks, dan menurun pada bagian akhir pertunjukan.

Penari perempuan menggunakan rias cantik dengan busana khas Banjar, seperti baju kida-kida, rok panjang, ikat kepala, dan bunil. Penari laki-laki mengenakan baju Banjar, celana panjang, sabuk ulur, dan laung Banjar. Properti utama yang digunakan adalah gandang Dayak dan karimpit, yang berfungsi memperkuat ekspresi gerak serta menambah nilai estetika pertunjukan.[3]

Tari Babangsai Bakanjaran memiliki sifat penyajian yang fleksibel dan dapat dipentaskan di berbagai tempat, baik di ruang tertutup maupun terbuka. Pertunjukan ini sering dihadirkan pada acara-acara sosial dan budaya seperti resepsi pernikahan, khitanan, perayaan daerah, hingga festival seni tradisional.

Sifat adaptif dan komunikatif dalam bentuk penyajiannya membuat tarian ini menjadi media ekspresi yang efektif dalam memperkenalkan nilai-nilai budaya lokal Kalimantan Selatan kepada masyarakat luas.

Upaya Pelestarian

Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan secara aktif melakukan pembinaan dan promosi terhadap tari Babangsai Bakanjaran melalui kegiatan festival dan pelatihan seniman muda.[4] Pada tahun 2025, tarian ini diusulkan sebagai salah satu kandidat Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan kepada Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. Selain pelestarian melalui jalur formal, masyarakat lokal serta Sanggar La Bastari turut berperan dalam menjaga keberlanjutan tradisi ini dengan menampilkan tarian pada berbagai kegiatan kebudayaan tingkat daerah dan nasional.[5]

Referensi

  1. ^ https://kerajaanbanjar.wordpress.com/2007/04/24/upacara-aruh-ganal/
  2. ^ Kurniawan, N. (2020). Manajemen organisasi sanggar seni Posko La Bastari Kandangan Hulu Sungai Selatan
  3. ^ a b Mahdiansyah. (2016). Tari Kreasi Babangsai Bakanjaran di Sanggar Labastari Kandangan Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Pelataran Seni, 1(1), 39–46
  4. ^ https://hulusungaiselatankab.go.id/pemkab/tim-verifikasi-wbtb-kunjungi-hss-tinjau-tari-babangsai-dan-bakanjar-sebagai-warisan-budaya-takbenda-indonesia/
  5. ^ https://jukung.co.id/2025/08/14/tarian-bakanjar-babangsai-menuju-warisan-budaya-tak-benda-nasional/

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement