Tanggui

Tanggui adalah tudung kepala (sejenis caping) khas Banjar yang berbentuk setengah bola besar, mirip dengan tudung saji. Terbuat dari daun pandan, nipah atau rumbia.[1] Tanggui biasanya dipakai oleh para perempuan saat bertani, berladang, dan lumrah digunakan para pedagang pasar terapung.
Saat ini para produsen tanggui di Banjarmasin masih bisa ditemukan terutama di kawasan Alalak.[2]
Sejarah
Sejarawan Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin, Mansyur menukil tulisan AC Krusemen (1922) dalam tulisannya Aarde en haar volken, menceritakan bahwa toko penjualan tanggui sudah menjadi tujuan wisata sejak zaman kolonial Belanda. Salah satu hotel di Banjarmasin saat itu, Hotel Bandjer menyediakan paket wisata susur sungai dan toko tanggui yang berada di kawasan Sungai Kuin menjadi salah satu tujuan populer. [3]
Galeri
-
Para pedagang di pasar terapung Banjarmasin menggunakan tanggui.

Lihat pula
Referensi
- ^ "Tanggui, Topi Tradisional Khas Banjarmasin". 10 Oktober 2020. Diarsipkan dari asli tanggal 2021-07-25. Diakses tanggal 12 Maret 2021.
- ^ "Kisah Tanggui, Caping Khas Banjar dan Nasib Para Pembuatnya Kini". Banjarmasinpost.co.id. Diakses tanggal 2025-12-07.
- ^ Syarifuddin, Endang. "Tahulah Pian, Penjual Tanggui di Banjarmasin di Era Kolonial Belanda - Radar Banjarmasin". Tahulah Pian, Penjual Tanggui di Banjarmasin di Era Kolonial Belanda - Radar Banjarmasin. Diakses tanggal 2025-12-07.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


