Tammu Taung
Tammu Taung adalah tradisi adat masyarakat Bugis-Makassar yang dilaksanakan di beberapa daerah di Sulawesi Selatan, terutama di Kampung Salomatti, Kabupaten Maros, dan di Pulau Pa’jenekang, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep).[1][2] Tradisi ini merupakan bentuk ungkapan rasa syukur masyarakat terhadap alam dan Sang Pencipta atas hasil panen serta keberkahan kehidupan.
Asal-usul dan Persebaran
Istilah Tammu Taung berasal dari bahasa Bugis-Makassar yang berarti “ulang tahun” atau “perayaan tahunan”.[2] Tradisi ini dilaksanakan secara rutin setiap tahun, tetapi waktu pelaksanaannya dapat berbeda tergantung pada daerahnya. Di Kampung Salomatti, Tammu Taung diselenggarakan menjelang musim tanam raya di penghujung tahun, sedangkan di Pulau Pa’jenekang dilaksanakan setiap bulan Muharram.[1][2]
Secara historis, perayaan Tammu Taung di Pulau Pa’jenekang dikaitkan dengan kisah tokoh Haruna Rasyid, seorang pemimpin lokal yang pada masa kolonial Belanda melakukan pelayaran ke Kabupaten Maros sambil mengibarkan bendera merah, hitam, dan putih. Ketika ditanya oleh pihak Belanda mengenai arti warna hitam, ia menjawab bahwa warna itu melambangkan harapan agar suatu hari akan lahir pemimpin dari bangsa berkulit hitam. Akibat jawabannya, ia ditangkap dan dipenjara, tetapi setelah dibebaskan ia menunaikan nazarnya untuk mengadakan pesta rakyat berupa Tammu Taung sebagai ungkapan syukur atas kebebasannya.[2]
Pelaksanaan Tradisi
Pelaksanaan Tammu Taung berlangsung dengan cara bergotong royong. Di Kampung Salomatti, masyarakat membawa makanan tradisional yang disusun di atas alas dari daun kappara, kemudian berkumpul di sebuah gunung atau bulu untuk berdoa bersama. Lokasi tersebut diyakini sebagai tempat bersemayamnya roh leluhur yang menyatu dengan alam dan memberikan keberkahan bagi masyarakat setempat. Upacara ini mencerminkan penghormatan terhadap alam yang telah memberikan air dan kesuburan bagi lahan pertanian masyarakat.[1]
Sementara itu, di Pulau Pa’jenekang, Tammu Taung dilaksanakan selama tiga pekan berturut-turut pada bulan Muharram. Setiap pekan memiliki kegiatan khas. Pada Jumat pertama, masyarakat membuat makanan dari kelapa muda dan gula aren yang disebut Akkaluku Lolo dan menyantapnya setelah salat Jumat. Pada Jumat kedua, masyarakat membuat bubur Jepe’ sura setelah lembaga adat menaikkan bendera merah putih. Acara dilanjutkan dengan zikir bersama dan lantunan lagu-lagu tasawuf yang diiringi rebana pada malam harinya.[2]
Puncak perayaan jatuh pada Jumat ketiga, ditandai dengan pembuatan dua belas jenis kue manis, di antaranya Dodol (Dodoro), Biji Nangka, Kue Lapis, Onde-onde, Cucur, Serikaya, Putu Kacang, dan Kuning Gulung. Kue-kue tersebut melambangkan kebahagiaan, doa, serta harapan agar masyarakat memperoleh rezeki yang berlimpah dan terhindar dari kesulitan.[2]
Selain kegiatan kuliner, perayaan ini juga diisi dengan prosesi adat seperti Aru Pendek, ziarah kubur ke makam Gallarrang (pemimpin adat), serta pembacaan sejarah Pulau Pa’jenekang oleh dewan adat. Dalam beberapa kegiatan, para juru bicara adat juga menampilkan A’ngaru, yaitu orasi adat yang berisi pesan moral dan penghormatan terhadap leluhur.[2]
Nilai Budaya dan Sosial
Tammu Taung memiliki nilai sosial dan budaya yang penting bagi masyarakat Bugis-Makassar. Tradisi ini memperkuat ikatan kekeluargaan, gotong royong, serta menjadi media pelestarian adat istiadat. Selain itu, kegiatan ini menegaskan pentingnya hubungan harmonis antara manusia dan alam, serta rasa syukur atas sumber daya alam yang menopang kehidupan masyarakat pedesaan.[1]
Di Pulau Pa’jenekang, Tammu Taung juga memiliki potensi sebagai objek pariwisata budaya. Keunikan ritual, keragaman kuliner tradisional, dan nilai-nilai kearifan lokalnya menarik perhatian peneliti dan wisatawan. Beberapa kajian akademik menilai bahwa perayaan ini dapat menjadi bagian dari pengembangan pariwisata berbasis budaya di Kabupaten Pangkep, sekaligus memperkenalkan kearifan lokal masyarakat Bugis-Makassar kepada masyarakat luas.[2]
Referensi
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


