Taman Wisata Alam Ruteng
Taman Wisata Alam Ruteng adalah kawasan konservasi alam yang terletak di Kabupaten Manggarai dan Kabupaten Manggarai Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kawasan ini memiliki luas 32.245,6 hektar dan ditetapkan sebagai taman wisata alam melalui Keputusan Menteri Kehutanan pada tahun 1994.[1] Ruteng dikenal sebagai kawasan hutan pegunungan yang kaya akan keanekaragaman hayati serta berperan penting sebagai daerah tangkapan air di Pulau Flores bagian barat.
Sejarah
Secara administratif, Taman Wisata Alam (TWA) Ruteng berada di Kabupaten Manggarai dan Kabupaten Manggarai Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kawasan ini terletak pada koordinat 8°30’–8°42’ LS dan 120°15’–120°50’ BT, dengan bentang yang memanjang dari timur ke barat, berjarak sekitar 15 kilometer dari pantai selatan dan 35 kilometer dari pantai utara. Adapun batas administratifnya meliputi Desa Haju Ngendong, Golo Munde, Sangan Kalo, Teno Mese, dan Sipi di sebelah timur; Desa Golo Rutuk, Golo Lalong, Golo Meni, Benteng Riwu, Gunung Liwut, dan Golo Meleng di sebelah selatan; Desa Japang, Pongkor, Wewo, Moco, dan Cumbi di sebelah barat; serta Desa Poco Lia, Pocong, Ulu Wae, Ngkiong Dora, Ranamese, dan Gompang Congkar di sebelah utara.[2]
Kawasan hutan Ruteng pada awalnya terdiri dari hutan lindung seluas 17.857,60 hektare dan hutan produksi seluas 14.388 hektare. Kedua kawasan tersebut kemudian dialihfungsikan menjadi taman wisata alam melalui Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 456/Kpts-II/1993 tanggal 24 Agustus 1994 dengan luas 32.248,60 hektare. Selanjutnya, pada 27 Desember 2013 kawasan ini ditetapkan menjadi Kesatuan Pengelolaan Kawasan Hutan Konservasi (KPHK) Ruteng berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor SK.986/Menhut-II/2013.[2]
Kondisi ekosistem
TWA Ruteng merupakan kawasan hutan hujan pegunungan yang memiliki tujuh puncak utama, yaitu Golo Ranamese (1.790 m), Poco Nembu (2.030 m), Poco Mandosawu (2.350 m), Poco Ranaka (2.140 m), Golo Leda (1.990 m), Ponte Nao (1.920 m), dan Golo Curu Numbeng (1.800 m). Kawasan ini berperan penting sebagai sumber hidrologis bagi Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur. Musim hujan di wilayah Ruteng biasanya berlangsung selama delapan bulan, yakni dari September hingga April.
Flora
Penelitian terhadap flora di kawasan pegunungan Ruteng telah dilakukan sejak 1967 hingga 1992, dan koleksi spesimen tumbuhan dari kawasan ini tersimpan di Museum Leiden, Belanda. Tercatat terdapat 252 jenis tumbuhan tinggi dan rendah yang termasuk ke dalam 119 marga dan 94 suku, dengan famili terbesar adalah Euphorbiaceae dan Lauraceae.
Secara umum, TWA Ruteng terdiri atas empat tipe hutan utama, yakni hutan sekunder, hutan alam dataran rendah, hutan alam sub-pegunungan, dan hutan alam pegunungan. Hutan sekunder banyak ditemukan di daerah penyangga, ditanami dengan pohon ampupu (Eucalyptus urophylla) serta beberapa tanaman budidaya seperti jeunjing dan kaliandra. Hutan alam dataran rendah terbatas luasnya dan didominasi pohon nangka (Artocarpus elasticus), sedangkan hutan sub-pegunungan mendominasi kawasan hingga ketinggian 1.800 m dpl dengan vegetasi Eugenia, Prunus, Elaeocarpus, dan spesies famili Fagaceae. Pada ketinggian 1.900–2.100 m dpl, hutan pegunungan didominasi oleh Podocarpus imbricatus dan Prunus arborea, terutama di daerah Poco Ranaka yang masih memiliki pohon berdiameter besar.
Fauna

TWA Ruteng memiliki keanekaragaman fauna yang tinggi, terutama jenis burung. Beberapa spesies burung dilindungi yang terdapat di kawasan ini antara lain alap-alap putih (Accipiter novaehollandiae), elang bondol (Haliastur indus), elang hitam (Spizaetus cirrhatus), elang tikus (Elanus caeruleus), alap-alap menara (Falco moluccensis), raja udang ekor panjang (Tanysiptera galatea), kokak (Philemon buceroides), dan sesap madu (Nectarinia jugularis).[2]
Jenis mamalia yang ditemukan di kawasan ini meliputi monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), landak (Hystrix javanica), babi hutan (Sus scrofa vittatus), dan musang (Paradoxurus hermaphroditus). Rusa timor (Rusa timorensis) yang dahulu mendiami kawasan ini sudah tidak lagi ditemukan. TWA Ruteng juga penting karena menjadi habitat bagi sejumlah spesies endemik seperti tikus raksasa Flores (Papagomys armandvillei), tikus Pocoranaka (Rattus hainaldi), tikus komodo (Komodomys sp.), serta kelelawar Flores (Cynopterus nusatenggara).[2]
Kawasan ini juga tercatat sebagai habitat bagi sedikitnya 65 spesies burung dari 35 famili, termasuk burung hantu kerdil Flores (Otus alfredi), gagak Flores (Corvus florensis), engkiong (Pachycephala nudiluga), belibis (Anas querquedula), dan pecuk kecil (Phalacrocorax melanoleucos). Dari kelompok reptil, tercatat berbagai spesies ular dari famili Colubridae dan Viperidae, termasuk ular hijau (Trimeresurus sp.), ular senduk (Naja sp.), dan ular tanah (Vipera russelli). Selain itu, terdapat pula jenis kadal dari famili Scincidae, Gekkonidae, dan Agamidae. Penelitian terhadap amfibi menunjukkan adanya 13 spesies, sepuluh di antaranya merupakan spesies baru di Pulau Flores, seperti Cocophryne sp., Pedostibes sp., Rhacophorus sp., dan Calluella sp. Di Danau Ranamese yang berada dalam kawasan ini juga ditemukan ikan-ikan introduksi seperti nila (Oreochromis mossambicus dan O. niloticus) serta ikan mas (Cyprinus carpio), yang dimanfaatkan masyarakat untuk rekreasi dan konsumsi.[2]
Aksesibilitas
Akses menuju TWA Ruteng dapat dilakukan melalui jalur udara dan laut. Melalui jalur udara, perjalanan ditempuh dengan penerbangan dari Kupang menuju Ruteng. Alternatif lain adalah melalui Labuan Bajo atau So’a, kemudian dilanjutkan perjalanan darat sekitar empat jam. Jalur laut dapat ditempuh dari Kupang menuju Aimere dengan kapal feri, lalu diteruskan perjalanan darat selama dua jam, atau melalui Ende yang memerlukan perjalanan darat sekitar enam jam menuju kawasan Ruteng.
Potensi wisata
TWA Ruteng memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi ekowisata karena keindahan panorama alamnya, termasuk Danau Ranamese, air terjun, serta keanekaragaman flora dan fauna. Penelitian mengenai daya tarik wisata menunjukkan bahwa kawasan ini memiliki nilai kelayakan sebesar 89,85 persen berdasarkan kriteria daya tarik, aksesibilitas, akomodasi, serta sarana dan prasarana.[3] Namun demikian, pengelolaan wisata masih menghadapi kendala berupa kurangnya promosi, ketersediaan paket wisata yang menarik, serta keterlibatan masyarakat. Strategi pengembangan yang direkomendasikan meliputi peningkatan promosi, pengembangan sarana prasarana, penambahan jenis kegiatan wisata, serta pelibatan masyarakat lokal dalam pengelolaan kawasan.[4]
Aktivitas masyarakat
Kedekatan kawasan dengan pemukiman menyebabkan adanya interaksi langsung antara masyarakat dan TWA Ruteng. Aktivitas masyarakat yang umum dilakukan di dalam kawasan meliputi budidaya tanaman pertanian serta pemanfaatan hasil hutan kayu dan non-kayu. Kegiatan ini memberikan kontribusi ekonomi signifikan, khususnya dalam pendapatan rumah tangga. Namun, aktivitas tersebut juga menimbulkan dampak negatif berupa konflik sosial dengan pengelola kawasan, degradasi hutan, dan meningkatnya risiko banjir. Alternatif strategi yang diusulkan adalah pengembangan kemitraan konservasi yang melibatkan masyarakat dalam upaya pengelolaan berkelanjutan.[5]
Referensi
- ^ Pariwisata Kabupaten Manggarai. "Golo Lusang – Taman Wisata Alam Ruteng". Pariwisata Kabupaten Manggarai. Diakses tanggal 29 September 2025.
- ^ a b c d e "Taman Wisata Alam Ruteng - BBKSDA NTT". bbksdantt.ksdae.kehutanan.go.id. Diakses tanggal 2025-09-29.
- ^ PASANG, GREGORIA REINA (2022). Skripsi: Potensi Dan Strategi Pengembangan Ekowisata Di Resort Konservasi Wilayah (RKW) III Taman Wisata Alam Ruteng, Desa Golo Loni, Kecamatan Ranamese, Kabupaten Manggarai Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kupang: UPT Perpustakaan Undana :. Pemeliharaan CS1: Status URL (link) Pemeliharaan CS1: Tanda baca tambahan (link)
- ^ Ika, Anastasia (2024-05-13). "Menakar Manfaat Ekowisata bagi Warga Adat di Sekitar Sempadan Taman Wisata Alam Ruteng". Floresa. Diakses tanggal 2025-09-29.
- ^ Sari, Yovita Ratna (2024). "Strategi Pengendalian Dampak Aktivitas Masyarakat Dalam Kawasan Taman Wisata Alam Ruteng, Provinsi Nusa Tenggara Timur".
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


