Talang Tawing
Artikel ini membutuhkan rujukan tambahan agar kualitasnya dapat dipastikan. (Juni 2025) |
Talang Tawing adalah tradisi tasyakuran di Kecamatan Pageruyung, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Ritus ini diperingati setiap tiga tahun sekali oleh warga tiga desa—Surokonto Wetan, Surokonto Kulon, dan Kebon Gembong—sebagai ungkapan syukur atas keberadaan sistem irigasi Talang Tawing yang menopang mata pencaharian mereka di sektor pertanian.[1]
Sejarah
Keberadaan Talang Tawing tidak dapat dilepaskan dari kisah perjalanan tiga tokoh penting yang menjadi pendiri wilayah setempat, yaitu Ki Joko Sura, Mbah Kyai Salim, dan Mbah Kyai Dadap. Ketiganya merupakan tokoh pelopor yang menempati dan membuka wilayah yang kemudian berkembang menjadi tiga dusun: Sekecer, Pengkok, dan Sekranjang.[2]
Menurut tradisi lisan masyarakat, Ki Joko Sura merupakan seorang senopati dari Kadipaten Surakarta yang memiliki keinginan untuk berkelana dan menetap di daerah baru. Dalam perjalanannya, ia tiba di suatu kawasan yang kemudian diberi nama Surokonto, berasal dari kata Suro yang berarti "kuat" dan Konto yang berarti "berani", mencerminkan karakter tokoh dan tantangan wilayah tersebut.[2] Pada masa itu, wilayah tersebut kering dan tandus, meskipun terdapat mata air di Bukit Hutan Tawing.[butuh rujukan]
Melihat potensi tersebut, para pendiri desa berupaya memanfaatkan sumber air itu untuk mengairi lahan pertanian di bawahnya. Ki Joko Sura memimpin pembangunan saluran air yang menghubungkan bukit ke areal persawahan di ketiga dusun. Saluran inilah yang kemudian dikenal sebagai Talang Tawing. Pembangunan dilakukan secara gotong royong, menggunakan alat dan bahan tradisional, dan menjadi tonggak penting dalam keberlanjutan hidup masyarakat agraris setempat.[butuh rujukan]
Sebagai rasa syukur, masyarakat awalnya mengadakan ritual sedekah bumi, kemudian berkembang menjadi Nyadran Talang Tawing, dan sejak 1989 dikenal sebagai Tasyakuran Talang Tawing. Talang Tawing tidak hanya berfungsi sebagai sarana irigasi, tetapi juga menjadi simbol keberanian, kerja keras, dan kearifan lokal dalam mengelola lingkungan. Hingga kini, keberadaan talang ini masih dijaga dan dimanfaatkan masyarakat, serta menjadi bagian dari identitas budaya Desa Surokonto.[butuh rujukan]
Pelaksanaan dan pemaknaan tradisi
Tasyakuran Talang Tawing masih digelar rutin setiap tiga tahun. Pelaksanaannya jatuh pada Jumat Kliwon di bulan Sadran; jika tidak ada Jumat Kliwon dalam kalender Jawa, ritual dilaksanakan di bulan berikutnya. Ritual dimulai dengan iring-iringan warga membawa gunungan dari hasil bumi, diiringi Barongan dan Tari Jaran Kepang, menuju Bukit Tawing. Kemudian dilakukan penyembelihan kerbau, memasak dan membagikan dagingnya kepada masyarakat, serta pencucian wayang sebelum pagelaran wayang kulit yang berfungsi sebagai hiburan.[3] Tahun 2024, acara ini kembali didukung penuh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kendal.[butuh rujukan]
Talang Tawing memiliki nilai kultural, religius, dan sosial yang tinggi. Ritual ini menunjukkan rasa syukur kepada Tuhan dan penghormatan terhadap leluhur yang berjasa menyediakan sistem irigasi penting; ditandai dengan gunungan yang simbolis melambangkan harapan kemakmuran dunia-akhirat.[3] Di sisi sosial, tradisi ini memperkokoh nilai gotong royong, kerja sama, dan solidaritas antarwarga serta keterhubungan antar tiga desa penyelenggara.[3] Selain itu, Talang Tawing mulai memegang nilai ekonomi dan pariwisata lokal, karena keindahan lokasi dan keunikannya dapat mendukung wisata religi budaya.[butuh rujukan]
Upaya pelestarian
Pada tahun 2021, Talang Tawing ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI. Sejak penetapan tersebut, pemerintah daerah dan dinas terkait memberikan dukungan berupa dana fasilitasi, pendampingan teknis, dan dokumentasi ritual setiap pelaksanaan. Dilakukan pula upaya berkelanjutan agar tradisi dapat terus hidup, seperti penyusunan naskah akademis, peningkatan regenerasi pelaku upacara, serta pemanfaatan digitalisasi dokumentasi sebagai media edukasi dan promosi.[butuh rujukan]
Referensi
- ^ "Tradisi Talang Tawing, Wujud Syukur Warga Pageruyung Kendal Adanya Saluran Irigasi". 2024-09-23. Diakses tanggal 2025-06-14.
- ^ a b Prayitno, Edi. "Tiga Desa di Pageruyung Gelar Tradisi Nyadran Talang Tawing, Begini Maknanya - Ayo Semarang". Tiga Desa di Pageruyung Gelar Tradisi Nyadran Talang Tawing, Begini Maknanya - Ayo Semarang. Diakses tanggal 2025-06-14.
- ^ a b c Yuliardi, B. (2020). Skripsi: Nilai Gotong Royong dalam Tradisi Tasyakuran Talang Tawing di Desa Surokonto Wetan Kecamatan Pageruyung Kabupaten Kendal. Semarang: Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


