Syekh Maulana Akbar
Syekh Maulana Akbar adalah ulama penggerak Islam di Kuningan, Jawa Barat, yang mana beliau satu zaman dengan Kakaknya yakni Syekh Datuk Kahfi (Syekh Nurjati) di Cirebon dan Syekh Quro (Syekh Hasannudin) di Karawang. Tiga orang ini adalah Ulama besar yang pertama kali menyebarkan Islam di Jawa. Dalam Naskah Pangeran Wangsakerta, Syekh Maulana Akbar diketahui memiliki nama asli Datuk Bayanillah, sedangkan nama Syekh Maulana Akbar sendiri hanya terkenal di Kabupaten Kuningan, dikarenakan Syekh Maulana Akbar adalah gelar yang diberikan masyarakat Kuningan untuk beliau.
Perjalanan hidup Syekh Maulana Akbar
Syekh Maulana Akbar lahir sekitar tahun 1400 Masehi di Malaka. Beliau adalah putra seorang ulama besar yang bernama Syekh Datuk Ahmad, dan ibunya yang bernama Syarifah Mudaim. Syekh Maulana Akbar Merupakan keturunan ke-23 dari Nabi Muhammad SAW melalui jalur Sayyidina Ali Abidin bin Husein. Semasa kecil Syekh Maulana Akbar dan kakaknya mendapat didikan dari ayahnya, yakni Syekh Datuk Ahmad.[1]
Kemudian Beliau menetap di Mekah. Beliau juga menjadi guru dan mendirikan Madrasah sekaligus menjadi saudagar disana. Jika dilihat dari Usia Syekh Maulana Akbar saat remaja sampai mendirikan pondok di Kuningan ada kemungkinan Beliau pernah menjadi murid dari Madrasah-Madrasah yang berdiri disekitar Masjidil Haram. Didalam Kitab Purwaka Caruban Nagari dikatakan bahwa Syekh Maulana Akbar kembali dari Mekkah untuk menemui kakaknya yakni Syekh Datuk Kahfi di daerah Amparan Jati. Disana beliau mendapat gelar baru yakni Syekh Datuk Mahayun. Disanalah Syekh Maulana Akbar memutuskan mengikuti jejak kakaknya untuk berdakwah menyebarkan Agama Islam. Menurut Naskah Pangeran Wangsakerta Syekh Maulana Akbar mulai mensyiarkan Agama Islam di Kuningan pada Tahun 1450 Masehi. Beliau memulai Syiar Dakwah Islamnya di Desa Sagarahiang Kecamatan Darma, yang mana desa ini adalah desa tertua yang ada di Kabupaten Kuningan serta merupakan pusat dari Kabupaten Kuningan pada masa Kraton Saunggalah.[1]
Syekh Maulana Akbar berdakwah menyebarkan agama Islam disana, beliau mengajarkan masyarakat setempat mengenai Fiqih Madzhab Syafi’I, yang sekarang menjadi panutan mayoritas Muslim di Sagarahiang. Hal ini dapat membuktikan bahwa saat beliau menuntut ilmu di Mekkah, beliau pernah menjadi murid dari Madrasah-madrasah yang ada di sekitar Masjidil Haram. Selain itu jika kita melihat Syekh Datuk Kahfi yang menganut Tarekat Syattariah serta Syekh Annur Abdul Khonidin yang merupakan kakek Syekh Datuk Isa dikenal sebagai Mursydi Tarekat Syattariah, kiranya ada kemungkinan bahwa Syekh Maulana Akbar juga menganut Tarekat Syattariah, Tarekat Syattariah sendiri dikenal mudah untuk berpadu dengan Tradisi setempat dalam penyebarannya. Strategi dakwah Syekh Maulana Akbar, yakni dengan melakukan pendekatan budaya. Saat pertama kali sampai di Desa Sagarahiang, Syekh Maulana Akbar membangun langgar sebagai pusat dakwahnya disana, lambat laun langgar tersebut berkembang menjadi Pondok yang sekarang dikenal dengan nama Pondok Pesantren Pamijen/Pamijahan. Bukan hanya di daerah Sagarahiang, Syekh Maulana Akbar juga mensyiarkan dakwahnya di daerah Kajene. Sebelum Kuningan dikenal dengan nama tersebut, dahulu Kuningan masih disebut dengan daerah Kajene. Barulah dengan berdirinya Kerajaan Kuningan dibawah Sang Adipati Kuningan, maka semenjak tanggal berdirinya, daerah yang semula bernama Kajene diganti menjadi Kuningan. Namun saat Syekh Maulana Akbar datang, Kerajaan Kuningan belum berdiri, maka dari itu daerah tersebut masih dinamakan Kajene.[1]
Dalam perjalanan ke daerah Kuningan, Syekh Maulana Akbar pernah singgah di suatu tempat yang disebut Buni Haji, di Luragung. Namun menurut cerita tradisi Luragung, nama Syekh Maulana Akbar ternyata tidak dikenal. Tokoh yang dikenal di kalangan rakyat Luragung adalah Haji Dul Iman. Kiranya menandakan bahwa Syekh Maulana Akbar memang tidak lama menetap di Luragung, dan masyarakat Buni Haji yang terletak di daerah perbatasan Kuningan-Cirebon telah memeluk agama Islam yang diperkenalkan Haji Abdullah Iman alias Pangeran Walangsungsang. Penduduk daerah Luragung sendiri saat itu mungkin belum semuanya menganut agama Islam, karena diketahui pula bahwa Sunan Gunung Jati kembali menyebarkan agama Islam pada tahun 1481 Masehi [2]
Di Desa Sidapurna juga Syekh Maulana Akbar menikah dengan, kerabat Kerajaan Pajajaran yaitu Nyi Wandansari, putri dari Suryana. Adapun Suryana adalah putra Prabu Dewa Niskala atau Ningrat Kencana (1475- 1482), Raja Sunda yang berkedudukan di Kawali. Dari pernikahan tersebut Syekh Maulana Akbar dikaruniai seorang putera bernama Syekh Maulana Arifin, yang menjadi penerus Pondok Pesantren Sidapurna. Berkat kegigihan Syekh Maulana Arifin, beliau memajukan bidang peternakan, terutama ternak kuda. Hal tersebut yang menjadi cikal bakal lahirnya kuda sebagai lambang Kabupaten Kuningan. Syekh Maulana Akbar wafat dan dimakamkan didaerah Sidapurna, tepatnya di makam Astana Gede Kuningan, yang berada di Jalan Syekh Maulana Akbar Sidapurna Kuningan Jawa Barat.[1]
Lokasi makam
Syekh Maulana Akbar dimakamkan di Astana Gede Kuningan, jarak dari pusat Kota Kuningan menuju Astaga Gede diperkirakan ± 600 meter. Makam ini kerap dikunjungi para peziarah dari berbagai daerah, terutama pada hari yang dianggap paling pas untuk berziarah seperti hari Jumat Kliwon, bulan Maulid dan Hari-hari Besar Islam. Peziarah yang datang ke makan Syekh Maulana Akbar selain rombongan dari pesantren maupun perorangan, para pejabat Kuningan pun dalam moment tertentu hadir ke makam Syekh Maulana Akbar.[3]
Refrensi
- ^ a b c d Karim, Amru Hasan Nafisa (2025-01-10). "Tokoh penyebar Islam di Jawa Pra Walisongo Syekh Maulana Akbar". Kuliah Al Islam. Diakses tanggal 2025-11-06.
- ^ Dewi, Nova Sri; Hasanuddin WS, Hasanuddin WS; Zulfadhli, Zulfadhli (2014-03-30). "ALIH AKSARA DAN ALIH BAHASA TEKS SEJARAH RINGKAS AULIYAULLAHUSSHALIHIN SYEKH BURHANUDDIN ULAKAN YANG MENGEMBANGKAN AGAMA ISLAM DI DAERAH MINANGKABAU VERSI IMAM MAULANA ABDUL MANAF AMIN AL-KHATIB". Jurnal Bahasa dan Sastra. 2 (2): 89. doi:10.24036/833570. ISSN 2302-3538.
- ^ Jr, Wawan Hermawan (2024-03-21). "Syekh Maulana Akbar, Tokoh Penyebar Islam di Kuningan". Koran Mandala. Diakses tanggal 2025-11-06.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


