Syariful Anam Karimun
Syariful Anam adalah acara kerat/potong rambut anak bayi yang berusia 40 hari sampai 2 tahun, yang berasal dari Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau. Syariful artinya mulia sedangkan anam artinya makhluk. Syariful anam mengkisahkan tentang makhluk yang paling mulia yaitu nabi Muhammad, Rasulullah (Tuhan yang Maha Esa).[1] Syariful anam biasa digelar bertepatan dengan perayaan hari besar Islam, Maulid Nabi atau hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.[2]
Sejarah
Syariful anam telah berlangsung turun-temurun adat melayu di Kabupaten Karimun selama puluhan tahun, bertujuan untuk mendapatkan keberkahan, khususnya bagi anak-anak yang menjalani prosesi ini.[3] Asal mula sejarah syariful anam dibawa oleh pedagang Arab 3 bersaudara yang merantau ke Malaysia pada tahun 1800 M. Kemudian melanjutkan perjalanan dan menetap di wilayah Karimun Kepulauan Riau yaitu; Shech Muhammad di Kundur, Shech Shaleh di Kundur, dan Shech Ahmad. Shech Ahmad inilah yang memulai memperkenalkan acara syariful anam di masyarakat melayu Pulau Parit pada tahun 1946, dan rutin dilaksanakan setiap tahunnya yaitu pada tanggal 12 Rabiul awal memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW, dengan acara potong atau cukur rambut bayi yang baru lahir secara massal. Hingga sekarang yang melanjutkan acara syariful anam ini adalah cucunya yang bernama Sulaiman Syo’od (lapisan ke 3 dari keturunan Shech Ahmad).[1]
Prosesi
Adapun prosesinya di awali dengan barzanji/marawis/syarakal yang berisikan syair–syair dengan makna puji-pujian dan sejarah kehidupan nabi yang di susun oleh orang arab bernama syaid ja’far al barzanji dalam bukunya syariful anam. Kemudian pada bacaan “ya habibi ya Muhammad ya arussakhofiqani“, maka dimulailah pemotongaan beberapa helai rambut, kemudian rambut dimasukkan kedalam kelapa muda yang berisikan air kelapa dengan tujuan 54 membuang penyakit pada anak, selanjutnya tepuk tepung tawar di dahi, tangan kanan, tangan kiri dan bahu kanan yang membentuk huruf lam alif dengan menggunakan 3 macam daun (daun ribu-ribu, daun sepole dan daun sedingin) sebagai alat penepuk, yang bertujuan kemanapun dia berada bisa menyesuaikan diri atau membawa diri. Kemudian penaburan beras kunyit dengan simbol sebagai ucapan selamat kepada bayi yang telah di sahkan sebagai keluarga tersebut. Prosesi terakhir menyuapkan bubur merah dan bubur putih yang bermakna agar si bayi bisa menghadapi pahit dan manis hidup penuh kesabaran dan tawakal.[4]
Warisan budaya takbenda
Tradisi yang kaya akan nilai-nilai Melayu ini resmi diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia pada tahun 2018.[3][4][5]
Referensi
- ^ a b "SiAPIK KEPRI". siapik.kepriprov.go.id. Diakses tanggal 2025-06-19.
- ^ Arman, Dedi (2018-08-15). "Syariful Anam, Tradisi Cukur Rambut Anak di Karimun | Balai Pelestarian Nilai Budaya Kepulauan Riau" (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-06-19.
- ^ a b admin (2018-08-07). "Syariful Anam Karimun". Diakses tanggal 2025-06-19.
- ^ a b Purnomo, Hendri (November 2018). WARISAN BUDAYA TAKBENDA (WBTb) HASIL PENETAPAN KEMENDIKBUD 2013 s.d. 2018 UNTUK WILAYAH KERJA BPNB KEPULAUAN RIAU PROVINSI KEPULAUAN RIAU DAN RIAU (PDF). Tanjung Pinang: Balai Pelestarian Nilai Budaya Kepulauan Riau. hlm. 54. ISBN 9786025118258. ; Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ Aditya. "Mengenal Tradisi Syariful Anam di Karimun, Warisan Budaya yang Mengharap Berkah | Batamnews.co.id". www.batamnews.co.id (dalam bahasa Indonesia). Diakses tanggal 2025-06-19. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


