Srimpi Pandhelori Mangkunegaran

Srimpi Gaya Yogyakarta

Srimpi Pandhelori Mangkunegaran adalah tari klasik gaya Yogyakarta yang mengalami adaptasi dan pengembangan di lingkungan Pura Mangkunegaran, Surakarta. Tarian ini termasuk dalam repertoar tari Srimpi yang memiliki nilai estetika dan filosofis tinggi dalam tradisi keraton Jawa. Tari Srimpi Pandhelori Mangkunegaran pertama kali dipentaskan di Pura Mangkunegaran pada tahun 1935. Pementasan perdananya dibawakan oleh G.R.Ay. Siti Noeroel Kamaril Ngasarati Kusumawardhani, G.R.Ay. Partinah, R.Ay. Praptini, serta seorang abdi dalem bernama Ndhuk Nah. Pada tahun 2024, Tari Srimpi Pandhelori Mangkunegaran resmi ditetapkan oleh Pemerintah sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb).

Latar belakang

Pada umumnya, Srimpi Pandhelori mengangkat narasi mengenai peperangan antara tokoh Sudarawerti dan Sirtupelaheli. Konflik di antara keduanya dipicu oleh keinginan yang sama, yaitu menyelamatkan serta menikahi tokoh Amir Ambyah. Meskipun keduanya terlibat dalam pertempuran sengit, tidak ada pihak yang mengalami kekalahan atau kemenangan mutlak. Pada akhirnya, mereka memilih untuk bersatu dan bersama-sama berhasil menyelamatkan Amir Ambyah.[1]

Embrio Tari Srimpi Pandhelori berasal dari lingkungan Keraton Yogyakarta. Seiring perkembangan waktu, tari ini mengalami adaptasi dan pelestarian di lingkungan Pura Mangkunegaran, Surakarta, sehingga menjadi bagian dari repertoar kesenian istana tersebut. Tarian ini pertama kali dipentaskan pada tahun 1935 di Pura Mangkunegaran. Dalam pementasan perdananya, Srimpi Pandhelori Mangkunegaran dibawakan oleh G.R.Ay. Siti Noeroel Kamaril Ngasarati Kusumawardhani, G.R.Ay. Partinah, R.Ay. Praptini, serta seorang abdi dalem istana yang dikenal dengan nama Ndhuk Nah.

Perpaduan gaya

Pertunjukan Tari Srimpi Pandhelori di lingkungan Pura Mangkunegaran pada dasarnya masih mempertahankan struktur gerak yang berasal dari gaya Yogyakarta, sejalan dengan asal-usul tari tersebut. Namun, dalam praktiknya, teknik pelaksanaan gerak serta ekspresi rasa yang ditampilkan telah mengalami transformasi, sehingga tidak lagi sepenuhnya merepresentasikan gaya Yogyakarta.[1]

Perubahan bentuk gerak dalam versi Mangkunegaran disebabkan oleh kecenderungan penari untuk mengadaptasi tubuh dan ekspresi dengan kemapanan serta karakteristik gerak khas gaya Surakarta, sehingga menghasilkan interpretasi baru yang tetap berakar pada tradisi, namun memiliki ciri lokal tersendiri.

Srimpi Pandhelori Mangkunegaran menunjukkan kekhasan estetis tersendiri sebagai akibat dari perubahan teknik dan bentuk gerak gaya Yogyakarta yang dibawakan oleh penari bergaya Surakarta. Perpaduan dua gaya tersebut menciptakan keunikan koreografi yang membedakan pertunjukan ini dari versi aslinya.[2]

Referensi

  1. ^ a b Sriyadi, S.; Prabowo, Wahyu Santoso (2018-06-17). "NILAI ESTETIK TARI SRIMPI PANDHELORI DI PURA MANGKUNEGARAN". Greget : Jurnal Kreativitas dan Studi Tari (dalam bahasa Inggris). 17 (1). doi:10.33153/grt.v17i1.2295. ISSN 2716-067X.
  2. ^ Redaksi, Tim (2021-06-21). "Nilai-Nilai Kehidupan Masyarakat Jawa dan Mangkunegaran dalam Tari Srimpi Pandhelori". NI. Diakses tanggal 2025-06-17.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement