Soul (filosofi)
Soul merupakan esensi non materi yang di dalam diri seseorang.[1] Pada umumnya dipercaya abadi dan terpisah dari dunia material. Tiga teori utama yang mendeskripsikan hubungan antara soul dan badan/raga adalah interactionism, parallelism dan epiphenomenalism. Anthropologists dan psychologists menemukan bahwa kebanyakan manusia di dunia secara alamiah percaya keberadaan soul dan membedakan antara soul-soul dengan badan/raga.
Soul telah menjadi pusat pembicaraan di filosofi sejak jaman dulu. Socrates menggambarkan bahwa soul memiliki sisi rational, yakni aktivitas seseorang yang paling menyerupai Tuhan. Plato percaya bahwa hal tersebut adalah sebenar benarnya diri sesesorang (jati diri), sesuatu non material dan abadi yang terus berlanjut dan hidup bahkan setelah kematian. Aristotle menggambarkan soul adalah "first actuality" dari suatu organ-bodi dan susunan materi yang membuat actualization penuh. Ibn Sina membedakan antara soul dan spirit, yang membuat perdebatan bahwa ketidak abadian soul berasal dari kondisi alamiahnya dibanding memenuhi suatu tujuan.
Dalam pandangan agama. Buddhism umumnya mengajarkan non-existence dari permanent self (anattā), , berlawanan dengan Christianity yang percaya keabadian soul bahwa kematian adalah transisi ke Tuhan di surga dan berdasarkan Bible hampir serupa dengan Jewish. Islam memercayai bahwa ada ruh dan nafs. Sedangkan Jewish menggunakan banyak nama seperti nefesh, ruach and neshamah dll.
Etymology
soul berasal dari Old English sāwl. Dalam Vespasian Psalter 77.50, berarti diri, kehidupan, 'animate existence'. dalam King Alfred's translation of De Consolatione Philosophiae, kata tersebut di tujukan untuk immaterial, spiritual, atau thinking aspect dari seseorang.[2]
See also
References
- ^ "Definition of SOUL". www.merriam-webster.com (dalam bahasa Inggris). 8 Oktober 2025. Diakses tanggal 15 Oktober 2025.
- ^ "soul, n.". OED Online. Oxford University Press. Diakses tanggal 23 Juni 2022.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


