Situs Potro
| Situs Potro ꦱꦶꦠꦸꦱ꧀ꦥꦠꦿ | |
|---|---|
| Nama sebagaimana tercantum dalam Sistem Registrasi Nasional Cagar Budaya | |
| Kategori | Situs |
| No. Regnas | Belum ada |
| Lokasi keberadaan | Padukuhan Potro, Kalurahan Purwobinangun, Kapanewon Pakem, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta |
| Pemilik | Masyarakat Padukuhan Potro |
| Pengelola | Masyarakat Padukuhan Potro |
Situs Potro (bahasa Jawa: ꦱꦶꦠꦸꦱ꧀ꦥꦠꦿ, translit. Situs Patra) atau Pancuran Buto Potro adalah situs arkeologi yang terletak di Padukuhan Potro, Kalurahan Purwobinangun, Kapanewon Pakem, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Situs ini terdiri atas dua benda cagar budaya (BCB) utama yang seluruhnya terbuat dari batu andesit, yaitu jaladwara dan peripih. Hal inilah yang menyebabkan rekonstruksi bentuk aslinya belum memungkinkan dilakukan. Saat ini, situs tersebut dimanfaatkan sebagai pemandian umum oleh warga setempat.
Keadaan
Situs ini terdiri atas dua benda cagar budaya utama yang seluruhnya terbuat dari batu andesit, yaitu jaladwara dan peripih.
Jaladwara

Jaladwara merupakan artefak kuno yang berfungsi sebagai saluran air, umumnya ditemukan di struktur petirtaan atau candi. Dalam tradisi Hindu, komponen ini juga dihubungkan dengan makhluk mitologis bawah air yang dipercaya memiliki kekuatan magis sebagai penolak bala. Jaladwara sering kali berbentuk kepala raksasa bertaring, mirip dengan unsur kalamakara yang umum dijumpai di gapura atau pintu candi.[1] Jaladwara di situs ini oleh masyarakat setempat dikenal dengan nama Pancuran Buto, karena bentuknya menyerupai kepala raksasa (kala) dengan mulut terbuka, gigi bertaring, dan ukirannya menyerupai naga.[2] Saat ini, jaladwara tersebut dimanfaatkan sebagai pancuran air, dengan aliran air menuju kolam kecil di lokasi yang disebut dengan Sendang Potro.[3]
Menurut penuturan warga, jaladwara yang berada di situs ini awalnya ditemukan di sendang tua tepi Sungai Denggung. Dahulu, air dari sendang itu mengalir deras dan dimanfaatkan sebagai sumber irigasi, termasuk oleh industri pada masa Hindia Belanda. Namun, seiring waktu, sendang tersebut tidak lagi digunakan dan jaladwara sempat terbengkalai. Warga kemudian memindahkan dan menempatkannya di lokasi saat ini, lantaran kekhawatiran akan potensi pencurian.[3]
Peripih

Artefak kedua di situs ini adalah peripih berbentuk kotak atau bejana yang digunakan untuk menyimpan benda-benda persembahan. Dalam tradisi Hindu, komponen tersebut biasanya diletakkan di sumuran candi dan berperan dalam ritual pemujaan.[4] Umumnya, peripih ditemukan di bangunan candi, tetapi dalam beberapa kasus juga dijumpai di petirtaan, seperti halnya peripih nawasanga di Petirtaan Jolotundo. Keberadaan peripih berukuran cukup besar di situs ini menimbulkan dugaan bahwa pernah berdiri sebuah bangunan keagamaan di sekitar lokasi, kemungkinan sebuah candi, meskipun bentuk dan coraknya tidak dapat dipastikan karena minimnya artefak yang tersisa.[2][5]
Upaya pelestarian
Saat ini, situs tersebut dimanfaatkan sebagai pemandian umum oleh warga setempat.[3] Dengan hanya dua artefak yang tersisa, rekonstruksi bentuk aslinya belum memungkinkan dilakukan.[5] Namun demikian, masyarakat Potro tetap menjaga nilai historis situs ini, yaitu melalui pembentukan seni keprajuritan Bregada Jaladwara sebagai simbol budaya lokal dan penghormatan terhadap warisan leluhur.[6]
Rujukan
- ^ "Jaladwara". Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah X. Diakses tanggal 15 Juni 2025.
- ^ a b "Situs Potro". Perpustakaan Digital Budaya Indonesia. Diakses tanggal 15 Juni 2025.
- ^ a b c "Pancuran Buto di Pakem, Sleman". Harian Merapi. Diakses tanggal 15 Juni 2025.
- ^ Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional (2008). Metode Penelitian Arkeologi. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional, Badan Pengembangan Sumber Daya Kebudayaan dan Pariwisata, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. hlm. 37. ISBN 978-979-8041-20-4. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ a b "Situs Potro". Ancient Mataram. Diakses tanggal 15 Juni 2025.
- ^ "Bregada Jaladwara". Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Sleman. Diakses tanggal 15 Juni 2025.
Lihat pula
Pranala luar
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


