Sintong
Artikel ini membutuhkan rujukan tambahan agar kualitasnya dapat dipastikan. (Juni 2025) |
Sintong (disebut juga Sintung) adalah kesenian teater religi tradisional khas Sumenep, Madura, Jawa Timur. Kesenian ini dipadukan antara seni tari, musik, dan vokal bernafaskan Islam, dan telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh Kemendikbudristek pada 2021.[1]
Secara etimologis, Sintong berasal dari akronim “wang-awang sintung”—gerakan mengangkat kaki yang menggambarkan kegembiraan spiritual—serta sin yang berasal dari bahasa Arab bermakna “bergembira,” dan tung/ settung (“satu”) yang mencerminkan kesatuan dengan Allah.[2] Inti pementasan adalah pembacaan salawat dan barzanji (Syaraful Anam), dipadukan dengan gerakan tarian yang dinamis, lincah, dan berenergi tinggi, yang berasal dari modifikasi hadrah dan gambus.
Sejarah
Secara historis, terdapat beberapa versi asal-usul Sintong. Satu versi menyebutkan keterkaitannya dengan Sunan Muria (abad XV‑XVI), sebagai bagian dari dakwah religius.[3] Versi lain menyebutkan asalnya dari Gujarat atau Asia Tengah yang kemudian masuk melalui Aceh dan Jawa, sebelum berkembang di Madura pada abad ke-17–18. Di Sumenep, Sintong diperkirakan telah hidup turun-temurun sejak abad ke-17, mendapatkan penghentian sementara periode 1965, dan kemudian diaktifkan kembali oleh tokoh seperti Kiai Jalaludin pada 1971. Setelah beberapa kali vakum, kesenian ini bangkit lagi saat menyambut kedatangan Presiden Jokowi di tahun 2017.[4]
Nilai
Nilai utama Sintong terletak pada religiositas dan spiritualitas yang diekspresikan melalui seni. Gerak yang rancak dan diiringi barzanji bertujuan menyentuh hati dalam pemujaan kepada Tuhan, sekaligus memperkokoh rasa kebersamaan, kesetiaan, dan cinta tanah air—ditandai misalnya pada warna-warna alat musik seperti kendang atau toktok yang dibalut merah putih.[butuh rujukan]
Tak hanya menjadi sarana untuk mendekatkan diri pada Tuhan, hubungan kepada sesama manusia juga ditunjukkan dalam tari Sintong. Tarian ini membawa pesan toleransi yang kuat. Pada salah satu bagian lagu pengiring, terdapat syair “insi mujinis’’ yang berarti “berterbarlah kalian semua di muka bumi wahai orang-orang yang berjenis-jenis- baik dari agama suku, atau warna kulit apa pun. Syair ini mengajak siapa pun untuk saling mencintai, menghargai, mengingatkan bahwa keberagaman adalah anugerah yang harus disyukuri.[5]
Pelaksanaan
Eksistensi Sintong terlihat kuat dalam ritual keagamaan dan acara lokal di Sumenep. Pementasan biasanya dilangsungkan malam hari, dengan durasi bisa mencapai enam jam, dan melibatkan puluhan pria baik sebagai penari maupun pengusung salawat. Pertunjukan ini digelar di berbagai acara seperti perayaan Maulid, pernikahan, petik laut, maupun acara pesantren lainnya, ditandai oleh kebersamaan kolektif dan relasi interaktif antara pemain dan penonton.[6]
Instrumen musik tradisional yang digunakan antara lain jidor, kendang, bedug, gong kecil (toktok dari buah siwalan), seruling bambu, dan kadang rebab.[5] Musik dan vokal salawat bukan hanya pengiring, melainkan bagian integral yang menyatu dengan tari dan antara pesan keagamaan serta pengalaman tasyawuf. Nada bergerak dari lembut ke puncak emosional lalu tenang kembali, mendukung keselarasan irama cerita spiritual.[butuh rujukan]
Referensi
- ^ MU, Redaksi (2021-11-02). "3 Kesenian dan 2 Kuliner Khas Sumenep Ditetapkan Sebagai Warisan Budaya Tak Benda". MU. Diakses tanggal 2025-06-17.
- ^ "Mengenal Kesenian Sintung Sumenep, Tarian dan Nyanyian yang hanya Ditujukan kepada Tuhan". merdeka.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-06-17.
- ^ Basri, Abdul. "Tasawuf Kultural dalam Harmoni Sintong - Radar Madura". Tasawuf Kultural dalam Harmoni Sintong - Radar Madura. Diakses tanggal 2025-06-17.
- ^ "Vakum Selama 20 Tahun, Sintong Kembali Digandrungi | Jejak" (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-06-17.
- ^ a b "Tari Sintong, Ekspresi Budaya dan Pesan Tolerasi dari Pulau Madura". ARINA.ID. Diakses tanggal 2025-06-17.
- ^ Iskandar, Machallafri. "Profil Kesenian Sintong dari Kabupaten Sumenep Madura, Ternyata Perpaduan dari 3 Seni Ini.. - Sumenep Network - Halaman 2". Profil Kesenian Sintong dari Kabupaten Sumenep Madura, Ternyata Perpaduan dari 3 Seni Ini.. - Sumenep Network - Halaman 2. Diakses tanggal 2025-06-17.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


