Sindrom mielodisplastik
| Sindrom mielodisplastik | |
|---|---|
| Nama lain | Preleukemia, myelodysplasia[1][2] |
| Apusan darah dari seseorang dengan sindrom mielodisplastik. Terlihat satu neutrofil hipogranular dengan inti pseudo-Pelger-Huet. Juga tampak sel darah merah dengan bentuk abnormal, yang sebagian berkaitan dengan pengangkatan limpa. | |
| Spesialisasi | Hematologi, onkologi |
| Gejala | Tidak ada, mudah lelah, sesak napas, mudah berdarah, sering mengalami infeksi[3] |
| Awitan umum | ~ 70 tahun[4] |
| Faktor risiko | Kemoterapi sebelumnya, terapi radiasi, senyawa kimia tertentu seperti asap tembakau, pestisida, dan benzene, paparan merkuri atau timbal[3] |
| Metode diagnostik | Tes darah, biopsi sumsum tulang[3] |
| Pengobatan | Terpi suportif, obat-obatan, transplantasi sel punca[3] |
| Obat | Lenalidomid, antitimosit globulin, azasitidin[3] |
| Prognosis | Rata-rata angka harapan hidup setelah diagnosis sekitar 2,5 tahun.[3] |
Sindrom mielodisplastik (MDS) adalah sekelompok kanker yang terjadi ketika sel-sel darah muda (imatur) di sumsum tulang gagal matang dengan baik, sehingga tidak berkembang menjadi sel darah yang sehat.[3] Pada tahap awal, kondisi ini sering kali tidak menimbulkan gejala.[3] Seiring waktu, gejalanya dapat berupa mudah lelah, sesak napas, mudah berdarah, atau sering mengalami infeksi.[3] Beberapa jenis MDS dapat berkembang menjadi leukemia mieloid akut.[3]
Faktor risiko MDS meliputi riwayat kemoterapi atau radioterapi sebelumnya, paparan bahan kimia tertentu seperti asap tembakau, pestisida, dan benzena, serta paparan logam berat seperti merkuri atau timbal.[3] Gangguanpembentukan sel darah pada kondisi ini dapat menyebabkan penurunan jumlah sel darah merah, trombosit, dan sel darah putih dalam berbagai kombinasi.[3] Beberapa jenis MDS, terdapat peningkatan sel darah yang belum matang yang disebut blast di sumsum tulang atau darah.[3] Klasifikasi MDS didasarkan pada perubahan khas yang ditemukan pada sel darah dan sumsum tulang.[3]
Pengobatan MDS dapat mencakup terapi suportif, terapi obat, dan transplantasi sel punca.[3] Terapi suportif dapat berupa transfusi darah, obat-obatan untuk merangsang pembentukan sel darah merah, serta antibiotik.[3] Terapi obat dapat mencakup obat lenalidomide, antitimosit globulin, dan azasitidin.[3] Pada sebagian pasien, kesembuhan dapat dicapai melalui kemoterapi yang diikuti transplantasi sel punca dari donor.[3]
MDS diperkirakan memengaruhi sekitar 7 per 100.000 orang, dengan sekitar 4 kasus baru per 100.000 orang setiap tahun.[4] Usia awitan yang paling umum adalah sekitar 70 tahun.[4] Prognosis bergantung pada jenis sel yang terdampak, jumlah blast di sumsum tulang atau darah, serta perubahan kromosom pada sel yang terkena.[3] Rata-rata angka harapan hidup setelah diagnosis adalah sekitar 2,5 tahun.[4] Kondisi ini pertama kali dikenali pada awal abad ke-20, sedangkan istilah yang digunakan saat ini mulai dipakai pada tahun 1976.[5]
Referensi
- ^ "Myelodysplasia". SEER. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 October 2016. Diakses tanggal 27 October 2016. Diarsipkan 27 October 2016 di Wayback Machine.
- ^ "Myelodysplastic Syndromes". NORD (National Organization for Rare Disorders). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 December 2019. Diakses tanggal 23 May 2019. Diarsipkan 4 December 2019 di Wayback Machine.
- ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s "Myelodysplastic Syndromes Treatment (PDQ®)–Patient Version". NCI. 12 August 2015. Diarsipkan dari asli tanggal 5 October 2016. Diakses tanggal 27 October 2016.
- ^ a b c d Germing, U; Kobbe, G; Haas, R; Gattermann, N (15 November 2013). "Myelodysplastic syndromes: diagnosis, prognosis, and treatment". Deutsches Ärzteblatt International. 110 (46): 783–90. doi:10.3238/arztebl.2013.0783. PMC 3855821. PMID 24300826.
- ^ Hong, Waun Ki; Holland, James F. (2010). Holland-Frei Cancer Medicine 8 (dalam bahasa Inggris) (Edisi 8). PMPH-USA. hlm. 1544. ISBN 9781607950141. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2016-10-27.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


