Silitonga

Silitonga
Tugu marga Silitonga di Sipahutar, Tapanuli Utara.
Aksara Batakᯘᯪᯞᯪᯖᯬᯝ
(Surat Batak Toba)
Nama margaSilitonga
Nama/
penulisan
alternatif
Pohan Silitonga
Artisi + litonga
((si) anak yang ditengah-tengah)
Silsilah
Jarak
generasi
dengan
Siraja Batak
1Si Raja Batak
2Raja Isumbaon
3Tuan Sorimangaraja
4Tuan Sorbadibanua
(Nai Suanon)
5Sibagot ni Pohan
6Tuan Dibangarna
7Datu Nabolon
(Raja Silitonga)
Nama lengkap
tokoh
Datu Nabolon (Raja Silitonga)
Nama istriboru Lubis
Nama anak
  • 1. Raja Sidugur
  • 2. Sihaim Borbor
Kekerabatan
Induk margaTuan Dibangarna
Persatuan
marga
Tuan Dibangarna
Kerabat
marga
Turunan
  • Sihutur Dangka
  • Datu Sipogu
  • Ompu Lamin
  • Ompu Jingjing
  • Guru Hinombingan
Matani ari
binsar
Lubis
PadanSianipar
Asal
SukuBatak
EtnisBatak Toba
Daerah asal
Kawasan
dengan
populasi
signifikan
Paguyuban
Lokasi tuguSipahutar I, Sipahutar, Tapanuli Utara
2°06′51″N 99°05′21″E / 2.1141127801954154°N 99.08909598376192°E / 2.1141127801954154; 99.08909598376192

Silitonga (Surat Batak: ᯘᯪᯞᯪᯖᯬᯝ) adalah salah satu marga Batak Toba. Silitonga adalah marga yang dipakai oleh keturunan Datu Nabolon (Raja Silitonga) hingga saat ini. Marga Silitonga memiliki asal daerah dari Balige, tetapi sejak awal perkembangannya marga Silitonga telah bermigrasi dari Balige ke Sipahutar, sehingga daerah Sipahutar kemudian lebih dikenal sebagai asal daerah marga Silitonga. Di Desa Sipahutar juga terdapat tugu persatuan marga Silitonga.

Etimologi

Nama Silitonga dalam Bahasa Batak Toba secara harfiah merujuk kepada kata si dan litonga yang memiliki arti sebagai anak yang ditengah-tengah. Hal tersebut mengacu kepada:

  • Kata si dalam Bahasa Batak Toba merupakan prefiks yang dipakai sebagai penunjuk nama,
  • Kata litonga dalam Bahasa Batak Toba memiliki arti tengah atau anak yang di tengah-tengah.

Namun, Datu Nabolon (Raja Silitonga) bukanlah anak tengah dari Tuan Dibangarna. Menurut kisah yang diceritakan turun-temurun dari keturunan Tuan Dibangarna, Datu Nabolon (Raja Silitonga) sebenarnya adalah anak tengah dari Tuan Dibangarna, tetapi kelahiran Raja Sianipar tidak diduga di mana setelah ketiga abangnya, Raja Panjaitan, Raja Silitonga, dan Raja Siagian telah dewasa.

Asal

Menurut silsilah garis keturunan Suku Batak (tarombo), Datu Nabolon (Raja Silitonga) adalah generasi ketujuh dari Si Raja Batak dan anak kedua dari Tuan Dibangarna.[1]

Dalam perkembangannya, Keturunan Datu Nabolon (Raja Silitonga) mengklasifikasikan diri ke dalam lima kelompok:

  • Sihutur Dangka
  • Datu Sipogu
  • Ompu Lamin
  • Guru Hinombingan
  • Ompu Jingjing

Hingga saat ini terdapat perdebatan antara sesama marga Silitonga dari kelompok Guru Hinombingan dan Ompu Jingjing mengenai siapa yang lebih tua di antara keduanya. Perdebatan ini acap kali memicu polemik antar dua belah pihak, sehingga ketika sesama marga Silitonga dari kedua kelompok tersebut bertemu cenderung enggan menanyakan satu sama lain berasal dari kelompok mana.

Kekerabatan

Keturunan Datu Nabolon (Raja Silitonga) memiliki hubungan erat dengan marga-marga keturunan Tuan Dibangarna lainnya; keempat marga tersebut (Panjaitan, Silitonga, Siagian, dan Sianipar) memegang teguh ikatan persaudaraan untuk tidak menikah antar satu dengan yang lain.

Dikarenakan Datu Nabolon (Raja Silitonga) merupakan anak kedua dari Tuan Dibangarna, maka seluruh marga Silitonga dianggap lebih muda oleh marga Panjaitan, dan juga dituakan oleh marga Siagian dan Sianipar. Oleh sebab itu setiap keturunan dari marga Silitonga harus memanggil abang/kakak ketika bertemu dengan marga Panjaitan dan memanggil adik ketika bertemu dengan marga Siagian dan Sianipar tanpa memperhatikan usia.

Datu Nabolon (Raja Silitonga) menikah dengan br. Lubis, oleh sebab itu Hulahula (mataniari binsar) dari seluruh marga Silitonga adalah marga Lubis.

Tanah Ulayat

Berdasarkan kisah yang diceritakan turun-temurun dari keturunan Tuan Dibangarna, Raja Sianipar yang merupakan adik Datu Nabolon (Raja Silitonga) lahir setelah ketiga abangnya, Raja Panjaitan, Raja Silitonga, dan Raja Siagian telah dewasa. Raja Sianipar juga lahir ketika seluruh tanah warisan milik Tuan Dibangarna telah dibagi kepada ketiga abangnya, tetapi Datu Nabolon (Raja Silitonga) berbaik hati memberikan tanah warisannya kepada Raja Sianipar dan pergi meninggalkan Balige.

Datu Nabolon (Raja Silitonga) diikuti oleh beberapa keturunan dari Sibagot ni Pohan hijrah ke arah selatan (Humbang Habinsaran) di daerah Sipahutar dan mengusir marga Sipahutar yang merupakan penduduk asli daerah tersebut. Hal ini merupakan satu alasan mengapa Silitonga adalah satu-satunya marga keturunan Tuan Dibangarna maupun keturunan Sibagot ni Pohan yang tidak memiliki populasi yang signifikan di kawasan Toba Holbung, dan juga mengapa banyak marga keturunan Sibagot ni Pohan yang memiliki populasi yang signifikan di daerah Sipahutar, dan juga mengapa tidak ada marga Sipahutar di daerah tersebut.

Saat ini desa di mana marga Silitonga memiliki populasi yang signifikan meliputi:

  1. Hutajulu
  1. Huta Gurgur II
  1. Aek Nauli III
  2. Aek Nauli IV
  3. Onan Runggu II
  4. Onan Runggu III
  5. Sabungan Nihuta II
  6. Siabalabal I
  7. Sipahutar I
  8. Sipahutar II
  9. Sipahutar III
  1. Bahal Batu II
  2. Lobu Siregar I
  3. Lobu Siregar II

Tokoh

Beberapa tokoh bermarga Silitonga, di antaranya adalah:

Galeri

Catatan

Referensi

  1. ^ Hutagalung, W. M. (1991). Pustaha Batak: Tarombo dohot Turiturian ni Bangso Batak (dalam bahasa Batak). Medan: Tulus Jaya. hlm. 228–229. OCLC 33133368. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)

Sumber

  • Hutagalung, W.M. (1991), Pustaha Batak Tarombo dohot Turiturian ni Bangso Batak, hlm. 228–229
  • Siahaan, Amanihut N.; Pardede, H. (1957), Sejarah perkembangan Marga - Marga Batak

Pranala luar

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement