Sidalupa

Sidalupa adalah kesenian tradisional yang berasal dari Kabupaten Aceh Barat yang ditampilkan dalam bentuk tarian rakyat dan pertunjukan drama.[1] Seni pertunjukan Sidalupa telah diakui secara resmi sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia[2] melalui SK No. 414/P/2022.[3]

Sejarah

Kesenian Sidalupa diyakini telah berkembang sejak lebih dari satu abad lalu di masyarakat Aceh Barat dengan ditemukannya catatan Snouck Hurgronje, terkait tokoh “Dalupa”. Istilah “Sidalupa” berasal dari kata “dalupa”, yang secara umum berarti “menyaru” atau “menyamar”. Istilah ini merujuk pada seseorang yang mengenakan pakaian tidak biasa hingga tidak dapat dikenali.[1]

Secara umum, seni Sidalupa versi lawas disajikan dalam bentuk tarian tanpa pola atau teknik baku, diiringi oleh alat musik tradisional seperti serunee dan rapa’i. Kini, Sidalupa juga dipentaskan sebagai pertunjukan teater dramatik dan karya sinematik. Pertunjukan teater Sidalupa tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi sarana refleksi sosial dan penyampaian pesan moral.[1]

Variasi cerita

Kisah Sidalupa yang ditampilkan dalam pertunjukan dapat memiliki perbedaan tergantung dari sumber sanggarnya, misalnya kisah versi Sanggar Seni Datok Rimba dan versi Kelompok Buraq Lam Tapa.[1]

Pada pertunjukan yang ditampilkan dalam karya Sanggar Seni Datok Rimba menceritakan dua kakak beradik (cho dan choe), anak dari Tok Mancang (kepala suku), yang diusir karena kehilangan kerbau pusaka. Kedua kakak beradik tersebut lalu melarikan diri ke hutan dan terpisah. Setelah dua puluh lima tahun, mereka bertemu kembali dalam rupa yang telah berubah. Mereka saling berkelahi dan mengganggu penduduk desa. Seorang ulama yang datang dari Hindia Belakang kemudian menyadarkan keduanya serta mengingatkan masyarakat desa dampak dari perilaku menyimpang seperti mabuk dan kekerasan. Dari sinilah muncul nama “Dalupa”, yang berarti “kakak lupa adik, adik lupa kakak”.[1][2]

Sementara itu, pada pertunjukan yang ditampilkan Kelompok Buraq Lam Tapa menceritakan dua orang India bernama Sidal dan Upa yang melarikan diri dari hukuman mati dengan menggunakan perahu yang buntung. Mereka terdampar hingga ke pantai Aceh Barat, lalu bersembunyi di gua. Ketakutan membuat mereka tidak beranjak dari gua hingga mereka meninggal di gua tersebut.[1]

Referensi

  1. ^ a b c d e f Susandro (2022). "ALUR DRAMATIK KESENIAN TRADISIONAL SIDALUPA DI ACEH BARAT" (PDF). Melayu Arts and Performance Journal. 5 (1): 1–15.
  2. ^ a b Iskandar, Teuku Dedi (2022-12-21). Suryatmojo, Heru Dwi (ed.). "Kesenian "Si Dalupa" Aceh Barat raih penghargaan warisan tak benda dari Pemerintah Aceh". Antara News. Diakses tanggal 2025-06-19.
  3. ^ "Sidalupa". Pusdatin Kemendikbudristek. Diakses tanggal 2025-06-19.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement