Sepak Sawut

Sepak sawut adalah permainan tradisional suku Dayak yang menggunakan bola api.

Sepak Sawut merupakan permainan tradisional suku Dayak yang sepintas mirip dengan permainan sepak bola. Namun yang membedakannya yaitu bola yang digunakan memiliki api yang menyala.[1]

Bola untuk sepak sawut berasal dari bongkahan buah kelapa yang sudah tua, lalu dikupas dan menyisakan kulit serabutnya saja. Serabut itu lalu dilumuri minyak tanah dan dibakar.[1]

Permainan sepak sawut hanya dimainkan dalam kondisi tertentu yang melibatkan adat istiadat turun temurun. Misalnya, ada orang yang mendapatkan rezeki setelah berladang, atau berhasil dalam usaha. Namun saat ini permainan sepak sawut sudah jarang dilakukan, hanya dapat disaksikan pada beberapa ajang seperti Festival Budaya Isen Mulang, Palangka Fair, atau kegiatan budaya lainnya di Kalimantan Tengah.[2]

Sejarah Sepak Sawut

Meski permainan tradisional sepak sawut digelar saat seseorang mendapatkan rezeki, namun dalam sejarahnya sepak sawut justru berkaitan dengan ritual kematian.

Pada zaman dahulu, sepak sawut merupakan ritual adat suku Dayak yang dilakukan ketika ada orang yang meninggal dunia. Orang-orang akan memainkan bola api yang bertujuan untuk mengusir roh-roh jahat. Semakin tinggi api yang dihasilkan dari bola tersebut, maka diyakini bahwa roh jahat juga semakin takut untuk mendekat.[3]

Selain untuk mengusir roh jahat saat seseorang meninggal, permainan sepak sawut juga bertujuan untuk menghibur keluarga yang sedang berduka. Pertunjukan bola api di tengah suasana gelap gulita akan membuat orang-orang berkumpul untuk menyaksikannya. Keramaian dari permainan ini dapat menghibur keluarga yang berduka.[3]

Cara Bermain Sepak Sawut

Sebelum memulai permainan sepak sawut, pemain perlu menyiapkan bola yang terbuat dari potongan sabut kelapa tua dan sudah kering, kemudian direndam dengan minyak tanah, dan ditunggu beberapa saat agar minyak dapat meresap ke dalam serat bola kelapa.[4]

Sepak sawut menghadirkan permainan ekstrem dengan bola api, sehingga lebih digemari jika dimainkan pada malam hari dan penerangan lampu yang minim. Sebelum memulai permainan, wasit akan menyalakan bola dengan sumber api, sampai bola tersebut menyala dan bisa dimainkan.[4]

Peraturan permainan sepak sawut hampir sama dengan aturan sepak bola biasa, yang melibatkan dua gawang. Pemenang kompetisi adalah tim yang paling sering memasukkan bola ke gawang lawan.[4] Satu kali permainan dilakukan selama 2 x 10 menit.[5]

Luas lapangan yang digunakan dalam sepak sawut hampir sama dengan lapangan bola basket. Dengan ukuran ini, maka idealnya satu tim terdiri dari lima pemain.[4]

Dalam aturan permainan sepak sawut, pemain tidak boleh menggunakan sepatu, sehingga dilakukan dengan bertelanjang kaki. Dengan bola yang mengeluarkan api, maka ada risiko pemain mengalami luka bakar. Namun hingga saat ini belum ada kejadian cedera usai bermain sepak sawut. Risiko yang lebih banyak ditemui adalah percikan api yang menyasar rambut di kepala, sehingga harus lekas dipadamkan.[2]

Salah satu tips sebelum bermain sepak sawut, pemain dapat mengoles pasta gigi atau pelumas lainnya di sekujur badan, sehingga mengurangi risiko luka bakar.[2]

Galeri

Referensi

  1. ^ a b "InfoPublik - Sepak Sawut Kearifan Lokal yang Harus Dilestarikan". www.infopublik.id. Diakses tanggal 2025-06-18.
  2. ^ a b c "Sepak Sawut Permainan Tradisonal Kalteng "Unik" dan "Ekstrem" | Media Center Isen Mulang Palangka Raya". mediacenter.palangkaraya.go.id. Diakses tanggal 2025-06-18.
  3. ^ a b Masuk, Akses (2024-05-07). "Sepak Sawut, Permainan Sepak Bola Tradisional dengan Api". NICO. Diakses tanggal 2025-06-18.
  4. ^ a b c d "Sepak Sawut: Sepak Bola Api Kalimantan Tengah – K.P. SHK". kpshk.org (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-06-18.
  5. ^ Febriyana, Wahyu. "Sepak Sawut, Olahraga Tradisional Unik di Kalteng". kaltenggoid. Diakses tanggal 2025-06-18.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement