Sengkalan Yogyakarta
Sengkalan Yogyakarta adalah penanda waktu yang digunakan di Daerah Istimewa Yogyakarta dalam bentuk rangkaian kata atau gambar yang memiliki makna angka. Rangkaian ini digunakan untuk menandai tahun peristiwa penting atau pembangunan, dan dibaca secara terbalik dari belakang ke depan untuk mendapatkan angka tahun yang dimaksud. Sengkalan dapat berupa sengkalan tulisan atau sengkalan memet yang berbentuk gambar/simbol. Kemunculan perhitungan waktu sengkalan diyakini berawal dari diperkenalkannya sistem penanggalan tahun Saka yang dibawa oleh Aji Saka ke Nusantara. Berdasarkan hal tersebut, istilah “sengkalan” berasal dari kata Cakakala, yang berarti perhitungan waktu menurut kalender Saka. Seiring perkembangan bahasa dan budaya, istilah Cakakala mengalami perubahan bentuk menjadi sakala, kemudian sengkala, hingga akhirnya dikenal dalam bentuk sengkalan seperti yang digunakan pada masa kini.[1]
Perkembangan
Sengkalan mengalami proses peluruhan makna dan menyesuaikan diri dengan dinamika sosial budaya masyarakat Jawa. Awalnya, sengkalan hanya diungkapkan dalam bahasa Sanskerta, tetapi seiring perkembangan zaman, penggunaannya meluas hingga menggunakan bahasa Jawa. Perubahan tersebut terus berlanjut ketika kebudayaan Islam mulai berpengaruh di wilayah Jawa, sehingga bentuk dan fungsi sengkalan turut mengalami penyesuaian.[2]
Dalam konteks penanggalan, sistem tahun Hijriah yang berlandaskan pada peredaran bulan berbeda dengan tahun Çaka Hindu-Jawa yang didasarkan pada peredaran matahari. Upaya penyatuan kedua sistem tersebut dilakukan oleh Sultan Agung, penguasa Kerajaan Mataram Islam, yang kemudian menetapkan penanggalan Jawa dengan dasar peredaran bulan. Sejak saat itu, sengkalan diklasifikasikan menjadi dua jenis berdasarkan sistem peredarannya, yaitu suryasengkala yang berpatokan pada peredaran matahari dan candrasengkala yang berpatokan pada peredaran bulan.[2]
Fungsi
Dalam tradisi budaya Jawa, sengkalan berfungsi sebagai penanda waktu yang dapat ditemukan pada berbagai medium peninggalan sejarah. Bentuknya tidak terbatas pada prasasti, melainkan juga dijumpai pada bangunan, naskah kuno, wayang, hingga senjata. Sebagai contoh, pada karya wayang Cakil yang diciptakan oleh Sultan Agung terdapat sengkalan Tangan Butha Tata Jalma, yang bermakna “tangan raksasa menata manusia” dan menunjukkan tahun 1552 Jawa. Contoh lain ditemukan pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono II (1792–1812), ketika beliau memerintahkan pembuatan sebuah meriam yang diberi sengkalan Swaraning Dahana Sabdaning Ratu. Ungkapan tersebut dapat diartikan sebagai “dentuman senjata sebagai titah raja” dan menandai tahun 1737 Jawa. Keberadaan sengkalan dalam berbagai bentuk ini menunjukkan perannya sebagai sistem penanggalan simbolik yang mengandung nilai historis, estetis, dan filosofis dalam kebudayaan Jawa.[3]
Rujukan
- ^ Megasari, Paradisa Nunni. "Mengenal Sengkalan, Rangkaian Kata Penanda Waktu". detikjogja. Diakses tanggal 2025-11-12.
- ^ a b crew, kraton. "Sengkalan: Rangkaian Kata Penanda Masa". kratonjogja.id (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-12.
- ^ "Sengkalan". budaya.jogjaprov.go.id. Diakses tanggal 2025-11-12.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


