Seminari Fransiskus Xaverius Kakaskasen

Santo Fransiskus Xaverius

[1]

Seminari Menengah St. Fransiskus Xaverius Kakaskasen ini didirikan sejak tahun 1928 yang pertama di Woloan, tetapi berpindah tempat di Kakaskasen sejak tahun 1936. Selain karena alasan historis, nama Fransiskus Xaverius diambil sebagai pelindung seminari ini karena Fransiskus Xaverius adalah Rasul Indonesia, pelindung karya misi. Harapannya adalah kiranya para seminaris memiliki semangat misioner seperti St. Fransiskus Xaverius yang penuh dengan semangat yang berkobar-kobar dan pantang mundur, serta penuh penyerahan kepada Yesus, Sang Gembala dan Imam Agung…

Pada tanggal 17 Agustus 1919, karya misi di Sulawesi di serahterimakan dari Tarekat Yesuit kepada Tarekat Misinaris Hati Kudus Yesus (MSC), tepatnya pada tanggal 19 April 1921. Kala itu ada enam imam Yesuit diganti oleh enam imam MSC. Dari keenam imam ini, muncullah pastor Hendricus Croonen sebagai pendorong dan pendiri Seminari Menengah Keuskupan Manado.

Kisah awalnya bermula dari Pastor Croonen sebagai penjaga dan pembina asrama HIS (Sekolah Pribumi berbahasa Belanda), yang didirikan sejak 1 Juni 1922. Dari antara murid-murid HIS ini, beliau berharap dapat menemukan seorang yang dapat dibimbing ke arah imamat. Namun calon tersebut meninggal dunia karena jatuh dari pohon semasa liburannya. Tapi peristiwa ini tidak membuat pastor Croonen putus-asa. Pastor Croonen terus berusaha mencari murid-murid Seminari yang pertama, Dengan amat teliti murid-murid tersebut diseleksi. Lalu, pada tanggal 16 Januari 1928 Seminari diberkati, dihadiri oleh para pastor dan bruder masa itu.

Gedung Seminari yang pertama ialah gedung Kweekschool yang pada waktu itu sudah menjadi Nromaalschool (Sekolah Pendidikan Guru). Gedung tersebut sebenarnya sudah tidak layak lagi digunakan tetapi tidak ada pilihan lain lagi. Tingkatan kelas seminari direncanakan dimulai dengan Probatorium (tingkat persiapan) dan dilanjutkan dengan kelas Sexta, Quinta, Quarta, Tertia, Poesis dan Rhetorica.

Meningat pada waktu itu seminari kekurangan tenaga pengajar, maka penerimaan murid hanya dilaksanakan setiap jangka waktu dua tahun. Pada bulan Agustus 1929, mulailah Seminari dengan murid-muridnya yang pertama. Karena tingkat pengetahuan para murid ini dianggap cukup, maka mereka langsung duduk di tingkat Sexta. Da, sejak waktu itu pelajaran di Seminari dapat dilangsungkan. Dalam bulan Desember 1933, didirikanlah Sidang Akademi Albertina, yang merupakan sala satu cara peningkatan ilmu pengetahuan para Semianris. tahun 1934-1935 merupakan tahun untuk tingkat Rhetorica yang pertama.

Dengan adanya tingkat rhetorica ini sebagai tingkat terakhir pendidikan di Seminari Menengah, muncullah persoalan yang baru, yakni bagaimana nasib mereka kemudian? Di manakah mereka harus melanjutkan studi filsafatnya? Persoalan ini akhirnya terjawab dengan disewaanya sebuah rumah milik keluarga Boseke selama satu tahun. Di rumah ini, para Seminaris melanjutkan studi filsafat untuk ilmu rhetorica. Rektor pertamanya ialah Pastor C. de bruyn.

Sebagai lembaga pembinaan, Seminari Menengah Xaverius memiliki visi mempersiapkan calon-calon imam yang semakin dewasa, seimbang dan integratif dalam kesehatan dan kekudusan, ilmu pengetahuan dan amor pastoralis,s erta tahan uji dalam menghadapi berbagai tuntutan karena perubahan zaman sedemikian cepatnya.

Sedangkan, misi seminari adalah menciptakan iklim formasi yang kondusif bagi para seminaris melalui pembinaan rohani yang terarah, pengembangan kedisiplinan yang tehas, serta pendidikan dan latihan yang terkoordinasi serta terintegrasi baik di sekolah maupun di asrama.

TAHUN PERGOLAKAN PERMESTA 1958-1961

           Sesudah beberapa tahun seminari menengah berjalan dengan baik, muncul perang saudara atau apa yang disebut “Pergolakan Permesta”. Perang ini tentu membawa pengaruh bagi pendidikan di seminari. Di bawah dentuman mortir dan gerebek senjata serta sambil masuk keluar lobang perlindungan, kehidupan pendidikan seminari nampaknya berjalan terus. Kakaskasen juga menjadi tempat penyingkiran para frater dari Pineleng tatkala seminari Pineleng mendapat sasaran tembakan. Kenangan akan masa pergolakan ini masih tetap ada. Hal ini dapat kita saksikan sendiri kalau kita menjenguk ke bagian belakang kompleks seminari, dimana kita akan menemukan sebuah bukit kecil yang rimbun dengan pohon den dipuncak bukit ini yang terkenal dengan nama ‘Kimentur” nampaklah sebuah kapela St. Perawan Maria. Kapela ini telah didirikan sebagai tanda syukur dan terima kasih kepada ibu Maria atas perlindungannya pada seminari selama masa pergolakan Permesta.

PERKEMBANGAN SEMINARI PASCA PERMESTA

           Dengan usainya Permesta, mulai dirasakan bahwa gedung seminari terlalu kecil dan sempit. Bahkan karena tidak ada tempat lagi, maka siswa-siswa kelas Probatorium terpaksa menumpang di Frateran Tomohon. Untuk perluasan gedung seminari maka bruder-bruder dengan tukang-tukangnya mulai beraksi lagi di seminari Kakaskasen. Bantuan sukarelawan dari umat sekitar bahkan dari para frater dari seminari tinggi Pineleng tidak ketinggalan. Pembangunan ini berjalan selama 5 tahun dan menghasilkan suatu bangunan yang megah dan siap pakai. Tahun 1960, seminari mulai mengikuti ujian Negara untuk tingkat SMP dan hasilnya 100%  memuaskan karena rata-rata setiap tahunnya menjadi juara dari semua sekolah. Ujian Negara untuk tingkat SMA baru mulai sekitar tahun 1965. Semuanya dengan hasil yang memuaskan. Maksud dari ujian-ujian Negara tersebut bukan sekadar memperlihatkan prestasi pendidikan seminari melainkan juga antara lain untuk membantu siswa-siswa yang tidak meneruskan pelajarannya di seminari tetapi dapat melanjutkan di sekolah-sekolah yang lain.
           Pada permulaan tahun pelajaran 1978, staf seminari sudah menganggap bahwa tingkat persiapan (Probatorium) boleh ditiadakan. Karena itu murid-murid yang lulus test diterima langsung duduk di kelas Sexta. Ditingkat ini diberikan pelajaran khusus agar mereka dapat mampu mengikuti pelajaran-pelajaran lanjut di seminari. Jumlah tahun pelajaran di seminari menengah menjadi enam yaitu: Sexta, Quinta, Quarta, Tertia, Poesis dan Rhetorica. Tiga tahun yang pertama itu sama dengan tingkat SLTP sedangkan tiga tahun yang terakhir itu sama dengan tingkat SLTA dengan tambahan khusus sebagai calon imam.

HAWA BARU PENDIDIKAN

           Pada bulan juli 1981 diadakan penerimaan murid baru seminari dan rupanya inilah angkatan terakhir yang berkesempatan untuk mengikuti pendidikan SMP di seminari. Sejak tahun 1982 pihak seminari tidak menerima lagi calon-calon lulusan sekolah dasar. Calon-calon lulusan SMP tidak diizinkan langsung duduk di kelas 1 SMP. Mereka dipersiapkan dahulu selama satu tahun di Kelas Persiapan Bawah (KPB). Dengan demikian tingkat yang ada di seminari dari enam tahun menjadi empat tahun yakni Quarta, Tertia, Poesis dan Rhetorica. Setelah melewati berbagai tantangan akhirnya seminari kakaskasen dapat menikmati angin segar. Pendidikan seminari yang pada dasarnya juga mengikuti kurikulum pemerintah, menghasilkan mutu pendidikan yang tidak kalah bersaing dengan sekolah-sekolah sederajat. Hal ini dapat dilihat dengan prestasi yang dicapai oleh para siswa seminari yang mengikuti ujian Negara. Selama beberapa tahun, ranking para seminaris tetap berada pada posisi puncak.
           Adapun pada tahun 1997, pihak seminari memutuskan untuk mengubah sistem belajarnya lagi, yakni Kelas Persiapan Bawah (KPB) diganti Kelas Persiapan Atas (KPA). Maksudnya adalah kelas yang paling rendah atau kelas Quarta (Kelas 0) kini tingkatnya menjadi kelas satu SMU dan sesudah tamat SMU para siswa diberikan lagi program khusus selama satu tahun untuk mempersiapkan diri buat seminari Agung. Oleh karena perubahan sistem itu maka pada saat ujia Negara tahun 2000 kelas Poesis yang kini sederajat dengan kelas 3 SMU menghadap ujian Negara bersama dengan kelas Rhetorica (angkatan terakhir KPB). Ketika menginjak tahun yubileum seminari yang ke-75, berbagai program dan kegiatan dilaksanakan oleh pihak seminari antara lain karena mengingat usia bangunan-bangunan seminari terutama tembok Kapela yang sudah tua dan rapuh, maka sekitar bulan maret tahun 2003 diadakan renovasi. Selanjutnya, pada tahun 2009, diperoleh bantuan dari pemerintah kota Tomohon untuk pembangunan dua ruang kelas di bagian barat yang sekarang menjadi ruang kelas Rhetorica dan ruang guru.
           Tahun 2011 ini sebagian besar gedung-gedung di seminari St. Fransiskus Xaverius Kakaskasen sudah berusia sekitar 63 tahun. Beberapa bagian bahkan sudah keropos dimakan zaman, misalnya ruang tata usaha, ruang rekreasi dan kamar-kamar pastores, ruang-ruang kelas, ruang tidur, dan ruang studi. maklum bagian dalamnya masih berbahan bamboo. Namun rahmat benih-benih panggilan masih terus bertumbuh terbukti dengan banyaknya pelamar yang mendaftar setiap tahunnya. Semoga panggilan menjadi imam tetap lestari adanya. Benih yang sudah ditanam pasti akan tetap tumbuh berkembang dan berbuah. Seminari dari umat, bersama umat dan untuk umat.
           Demikianlah sejarah ringkas perjalanan seminari Menengah St. Fransiskus Xaverius Kakaskasen. Dan Sejarah akan tetap berlanjut. “Tempora Mutantur Et Nos Mutamur In Illis”, waktu itu terus berubah dan kita akan seiring berubah di dalamnya. (Sekian...)

Rektor sekarang = Pst Albertus Imbar Pr Kepala Sekolah Sekarang = Pst Cornelius Kupea Jumlah Murid sekarang = 159

Dibuat oleh angkatan Sfx ke 95 XCV

Referensi

  1. ^ "Katolik Indonesia". Katolik Indonesia.org.
  1. ^ https://katolikindonesia.org/?p=39007

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement