Semah laut Karimata

Semah Laut Karimata merupakan tradisi ritual yang dilakukan oleh masyarakat Pulau Karimata terhadap laut sebagai tempat mereka mencari nafkah dan pulau sebagai daratan yang mereka tempati, Ritual semah laut diyakini oleh masyarakat setempat untuk menolak segala macam marabahaya yang dilaksanakan selama tiga hari dengan berbagai rangkaian kegiatan. Ritual Semah Laut biasanya dilakukan menjelang musim angin selatan tepatnya pada bulan April. [1]

Pelaksanaan Semah Laut Karimata

Pelaksaan prosesi ritual ini diawali dengan membuat sebuah replika kapal atau biasa disebut dengan “Ajung”, dan replika rumah yang disebut sebagai “Balai”.Ajung dan Balai yang telah dibuat dibawa ke balai desa untuk persiapan ritual, yaitu pembacaan mantra (doa) oleh masing-masing dukun. Ajung dan Balai yang di bacakan mantra, diisi sesajen berupa bahan makanan yang terdiri dari tujuh warna. Selanjutnya, masyarakat setempat berkumpul dan menari menggunakan topeng sebagai bentuk perlawanan kepada roh jahat di sekitar Ajung dan Balai yang diletakkan. Keesokan harinya, Ajung yang telah dibuat dan didoakan oleh dukun di buang ke laut yang telah ditentukan. Sedangkan Balai diletakkan di sebuah tempat yang dianggap keramat setelah sebelumnya diarak mengelilingi kampung.[1][2]

4 April atau tanggal empat pada bulan keempat setiap tahunnya. Seakan angka empat ini merupakan bilangan yang berhubungan dengan kepercayaan mereka selama ini. Namun, waktu pelaksanaan ini ternyata berhubungan dengan berakhirnya musim ikan tenggiri di sekitar perairan laut Karimata. Seiring dengan berubahnya musim angin laut pada awal-awal tahun antara Februari hingga Maret, pada saat yang sama ternyata banyak ikan tenggiri yang bermigrasi atau masuk ke wilayah perairan sekitar Karimata. Pada saat inilah nelayan Karimata menikmati hasil laut yang melimpah. Setelah musim tenggiri mulai berakhir, yakni sekitar awal-awal April, mereka kemudian melaksanakan kegiatan ritual semah laut. Salah satu tujuannya adalah mensyukuri atas melimpahnya hasil laut yang mereka peroleh dalam satu tahun musim tersebut. Tidak semua bagian dari prosesi semata semata ditujukan pada laut. Bagian dari apa yang menjadi prosesinya ternyata juga ditujukan pada daratan Pulau Karimata sebagai tempat tinggal mereka.[3]

Dalam pelaksanaannya mereka kemudian menggunakan dua perlengkapan utama, yakni miniatur balai yang mewakili darat dan miniatur jung atau perahu yang mewakili laut. Dalam rangkaian prosesinya, ternyata tidak semata melarung jung ke tengah laut dan menempatkan balai di lokasi yang dianggap keramat. Selain lokasi-lokasinya, persinggahan dan persembahan yang mereka lakukan ini tentu saja memiliki makna-maknanya tersendiri yang unik, termasuk pula pada setiap aktivitas atau tindakan, atribut, dan sikap yang diberikan selama prosesi berlangsung.[3][4]

Refrensi

  1. ^ a b Agency, ANTARA News. "Ritual Semah Laut digelar untuk menolak marabahaya". ANTARA News Kalimantan Barat. Diakses tanggal 2025-11-21.
  2. ^ Super_Admin. "Semah Laut di Pesisir Karimata - Pontianak Post". Semah Laut di Pesisir Karimata - Pontianak Post. Diakses tanggal 2025-11-21.
  3. ^ a b SEMAH LAUT KARIMATA DAN MAKNA-MAKNA SIMBOLIKNYA. Kalimantan Barat: CV MEDIA JAYA ABADI. 2022. hlm. 68. ISBN 978-623-7526-61-2. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  4. ^ "Semah Laut, Ritual Sarat Makna Warga di Kepulauan Karimata Kalbar". Suarakalbar.id. Diakses tanggal 2025-11-21.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement