Sekura Cakak Buah

Sekura Cakak Buah

Sekura Cakak Buah merupakan sebuah tradisi atau warisan budaya daerah Lampung tepatnya di Lampung Barat.[1] Secara umum, kegiatan ini hampir sama dengan pentas teater luar ruang dengan masyarakat sebagai pelakunya.[2] Sekura dalam kebudayaan ini artinya topeng/penutup wajah atau mengubah penampilan yang menggambarkan berbagai bentuk sifat dimuka bumi ini.[3] Topeng-topeng yang digunakan untuk penutup wajah para peserta Sekura ada yang berkarakter baik (betik) hingga buruk (kamak) menambah semarak dan hangat suasana.[4]

Sejarah

Peserta Sekura Cakak Buah menggunakan topeng

Tradisi Sekura telah dilakukan sejak adanya Kerajaan Sekala Bekhak. Awalnya topeng dikenakan untuk menyamarkan identitas masyarakat saat perang akibat adanya perselisihan antar masyarakat kerajaan yang masih menganut ajaran animisme dan dinamisme atas masuknya ajaran Islam ke kerajaan itu.Pada masa itu penguasa kerajaan khawatir akan penyebaran agama Islam di wilayahnya, sehingga terjadilah peperangan antara warga pengikut penguasa kerajaan yang masih menganut kepercayaan animisme dinamisme dengan warga yang telah memeluk agama Islam.Akan tetapi karena ternyata kedua belah pihak masih memiliki ikatan persaudaraan, maka saat perang warga mengenakan Sekura sebagai penutup identitas sehingga tidak ada keraguan untuk saling menyerang.[5]

Budaya Sekura sudah dilakukan oleh masyarakat Lampung Barat secara turun-temurun tidak hanya di Pekon Way Empulau Ulu, tapi juga hampir seluruh Pekon yang ada di kabupaten ini setiap satu tahun sekali di awal Syawal.[6]

Sekura atau Sakukha berasal dari bahasa Lampung yang berarti penutup wajah, dengan bentuk topeng yang memiliki beragam karakter, seperti Sekura Betik atau Sekura Helau. Karakter ini menggambarkan seseorang dengan penampilan helau (indah). Biasanya, mereka mengenakan kacamata berlensa gelap, kain panjang yang menjuntai di pinggang, menyilang di dada, serta penutup kepala dari Selindang Miwang, kain khas Lampung Barat yang terbebat di kepala, ditambah Songkok Tapis Lampung. Karakter ini tidak diperkenankan ikut memanjat pinang sebab memiliki sifat yang bersih dan tampan bagaikan bangsawan.[2]

Karakter berikutnya adalah Sekura Kamak, yang berarti kotor. Karakter ini memiliki ciri khas menggunakan topeng kayu atau bahan lainnya dengan bentuk yang buruk rupa, seperti memiliki gigi taring, rambut panjang dari ijuk atau tali rafia, serta melilitkan berbagai dahan tumbuhan di tubuh penggunanya.[5] Sekura Kamak berhak memanjat pinang yang telah ditentukan, untuk bersaing dan bekerjasama dalam kelompok untuk mencapai puncak dan menjadi pemenang.[7]

Pesta Budaya

Pesta Budaya Sekura adalah pesta budaya tradisional yang dilaksanakan setelah Hari Raya Idulfitri, biasanya mulai dari 1 Syawal hingga 6 atau 7 Syawal, setiap hari bergantian dari pekon ke pekon lainnya.[2]

  • Pekon Hujung – Kecamatan Belalau
  • Pekon Kuta Besi – Kecamatan Batu Brak
  • Pekon Way Empulau Ulu – Kecamatan Balik Bukit
  • Pelita Jaya Bahway – Kecamatan Balik Bukit
  • Pekon Kembahang – Kecamatan Batu Brak
  • Pekon Padang Cahya II – Kecamatan Balik Bukit[8]

Dalam pelaksanaan Pesta Budaya Sekura Cakak Buah ini semua warga diharuskan menggunakan topeng, baik itu dengan karakter Sekura Kamak, Sekura Betik, ataupun Sekura Jahal.[5] Dalam tradisi Sekura, seluruh komponen masyarakat dilibatkan, tidak hanya orang dewasa tetapi juga anak-anak, bahkan anak kecil. Hal ini guna memperkenalkan adat dan budaya ini sejak dini kepada anak-anak.[6] Perbedaan utama dari panjat pinang pada umumnya adalah para pemanjat dalam Sekura Cakak Buah tetap menggunakan topeng Sekura Kamak hingga mencapai puncak tanpa memperlihatkan identitas mereka.[2]

Referensi

  1. ^ "Lestarikan Tradisi Pesta Sekura dan Cakak Buah". TEKNOKRA (dalam bahasa indonesia). 2022-05-04. Diakses tanggal 2025-06-20. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  2. ^ a b c d "Pesta Budaya, Sakura Cakak Buah". RRI.co.id. 29 Maret 2025. Diakses tanggal 20-07-2025. ;
  3. ^ https://referensi.data.kemdikbud.go.id/budayakita/wbtb/objek/AA000104
  4. ^ "Pesta Topeng Sekura Cakak Buah: Tradisi Unik Wargat Lampung Barat Meriahkan Idulfitri". Lampungpro.co (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-06-20.
  5. ^ a b c Sozometa Kanafi, Ruth Intan (2024-04-15). "Sekura Cakak Buah wujud pelestarian budaya dan kerukunan". Antara News. Diakses tanggal 2025-06-20.
  6. ^ a b Hadiyatna, Dian (2025-04-03). "Mengenal Pesta Sekura Cakak Buah di Lampung Barat". Antara News. Diakses tanggal 2025-06-20.
  7. ^ "Sekura Cakak Buah – Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya". Diakses tanggal 2025-06-20.
  8. ^ Ubay (2025-04-02). "Pesta Budaya Sekura Cakak Buah: Tradisi Unik yang Mendongkrak Ekonomi dan Pariwisata Lampung Barat". GPTN. Diakses tanggal 2025-06-20.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement