Segel Pusaka Kerajaan

Heirloom Seal of the Realm
傳國璽
传国玺
Detail
PemangkuKekaisaran Tiongkok
Digunakan sejak221 SM
Semboyan受命於天 既壽永昌 (Shòumìng yú tiān jì shòu yǒngchāng, "Setelah menerima Mandat Langit, semoga (yang mulia Kaisar) hidup panjang dan sejahtera.")

受命
於天
既壽
永昌

PenggunaanOfficial seal of the state
Segel Pusaka Kerajaan
Hanzi tradisional: 傳國璽
Hanzi sederhana: 传国玺

Segel Pusaka Kerajaan (Hanzi tradisional: 傳國玉璽; Hanzi sederhana: 传国玉玺; Pinyin: chuán guó yù xǐ) adalah sebuah segel giok dari Tiongkok yang diduga dibuat dari batu giok suci Heshibi.[1] Segel ini dibuat pada 221 SM, tidak lama setelah Qin Shi Huang menyatukan Tiongkok dan mendirikan Dinasti Qin, dinasti pertama Tiongkok. Segel ini menjadi lambang kekaisaran Tiongkok selama ribuan tahun dan memegang segel tersebut menandakan bahwa kaisar memegang Tianming secara fisik.

Pembuatan

Pada 221 SM, Qin Shi Huang yang baru menyatukan Tiongkok dengan menghancurkan enam negara Zaman Negara Berperang mendeklarasikan Dinasti Qin. Ia menerima batu giok Heshibi yang merupakan batu giok suci yang dimiliki oleh Zhao saat itu. Qin Shi Huang yang menjadi kaisar Tiongkok memerintahkan untuk membuat segel kekaisaran dari batu giok tersebut. Ia juga memerintahkan Li Si untuk menulis delapan tulisan untuk menghias pahatan segel itu dan Li Si menulis "Setelah menerima Mandat Langit, semoga (Kaisar) menjalani hidup yang panjang dan sejahtera". (受命, 永昌) Tulisan ini dipahat oleh Sun Shou.

Segel itu diukir dari giok karena, di Tiongkok kuno, giok melambangkan keindahan batin manusia. Banyak makam dan kuburan dari Tiongkok kuno berisi giok dekoratif, termasuk pakaian pemakaman giok yang ditemukan pada tahun 1968 yang belonged to seorang pangeran Han, Liu Sheng. Selama dinasti Han, orang Tiongkok mengaitkan giok dengan keabadian hingga beberapa orang mencoba meminum giok dalam bentuk cair untuk mendapatkan kehidupan abadi. Asosiasi ini semakin melengkapi gagasan Mandat Surga dan mengapa Segel itu diukir dari giok, material paling berharga di Tiongkok selama ribuan tahun.

Sejarah

Qin, Han dan Tiga Kerajaan

Setelah kematian Qin Er Shi, segel ini diwariskan kepada Ziying yang kemudian menyerahkan segel itu kepada Liu Bang yang hendak menguasai Xianyang. Setelah Liu Bang mendirikan Dinasti Han, segel ini menjadi "Segel Pusaka Kekaisaran Han". Pada akhir Dinasti Han Barat pada tahun 9, Wang Mang merebut kekuasaan dan memaksa janda permaisuri untuk menyerahkan segel tersebut. Permaisuri menyerahkannya dengan marah, melempar segel tersebut sehingga segel itu rusak kehilangan satu sisi. Wang Mang kemudian memerintah agar segel tersebut diperbaiki dengan emas. Setelah kematian Wang Mang, segel ini jatuh ke tangan Kaisar Gengshi dan kemudian ke pemberontak Alis Merah dan pada akhirnya jatuh ke tangan Kaisar Guangwu dari Han.[2]

Segel ini diwariskan bahkan ketika dinasti-dinasti bangkit dan runtuh. Segel ini dipandang sebagai alat legitimasi, yang menandakan Mandat Langit. Pada masa masa kacau seperti Akhir Dinasti Han, raja perang mencari segel ini dan segel tersebut menjadi objek persaingan dan konflik senjata. Rezim manapun yang memiliki segel ini mendeklarasikan dirinya, dan sering dianggap sebagai dinasti yang sah secara sejarah. Pada akhir Dinasti Han, pada saat kampanye militer terhadap Dong Zhuo, Jenderal Sun Jian menjadi pasukan koalisi pertama yang masuk ke Luoyang yang dibakar oleh pasukan Dong Zhuo dan ia menemukan segel tersebut.[3] Segel ini ia berikan kepada Yuan Shu. Kisah Tiga Negara menceritakan bahwa karena ini, seorang bawahan Sun Jian berkhianat dengan memberi tahu segel tersebut kepada Yuan Shao, membuat Yuan Shao menanyakan Sun Jian mengenai segel tersebut, tetapi Sun Jian menolak menjawab dan bersumpah bahwa ia akan mati dengan menyeramkan jika ia betul-betul memiliki segel itu dan bergegas pulang. Ini membuat Yuan Shao curiga dan memerintah Liu Biao untuk menghadangnya. Liu Biao menghadang Sun Jian dan pasukannya berhasil membunuhnya dengan keji sesuai dengan sumpah Sun Jian, tetapi ia tidak dapat mengalahkan Sun Jian secara penuh dan malah memulai pertikaian dengan keluarga Sun yang merasa dendam terhadap Liu Biao. Sun Ce yang mewarisi segel itu memberikan segel tersebut kepada Yuan Shu dengan imbalan meminta pasukan untuk mengempur Liu Biao agar dapat membalas dendam kematian pamannya yang digempur oleh raja perang Lu Kang.

Yuan Shu yang terpesona melihat segel itu kemudian mendeklarasikan dirinya sebagai kaisar dengan dinasti baru, Dinasti Zhong, pada 197.[4] Tindakan ini membuat Cao Cao yang saat itu sudah menjemput Kaisar Xian dari Han ke Xuchang serta Liu Bei, kerabat jauh keluarga kekaisaran, marah. Walaupun Cao Cao memiliki kaisar di sisinya, banyak raja perang tidak mau membantunya walaupun dengan titah kaisar. Pasukan Liu Bei dan Cao Cao juga mengalami kekalahan pahit oleh Yuan Shu. Saat Yuan Shu dikalahkan oleh Liu Bei pada 199, Liu Bei mengambil segel tersebut dan menyerahkannya kembali ke Dinasti Han. Namun sebenarnya, segel itu dipakai oleh Cao Cao. Segel itu diwariskan kepada Cao Pi yang kemudian merebut kekuasaan dari Kaisar Xian dan mendeklarasikan Cao Wei pada 220. Segel tersebut tetap berada di tangan Wei sampai keruntuhannya, di mana Cao Huan menyerahkannya kepada Sima Yan yang merebut kekuasaan dan mendeklarasikan Dinasti Jin pada 265.

Dinasti Utara dan Selatan

Segel ini berada di tangan Dinasti Jin sampai Bencana Yongjia di mana Kaisar Huai ditawan dan segel tersebut diberi kepada Zhao Awal. Kemudian, segel ini terus berpindah tangan antara dinasti-dinasti utara. Ada beberapa teori mengenai perpindahan tangan tersebut:

  1. Setelah Pemberontakan Yongjia pada masa Dinasti Jin Barat, Kaisar Huai dari Jin ditangkap, dan stempel kekaisaran diberikan kepada Dinasti Zhao Awal. Kemudian, Shi Le dari Dinasti Zhao Akhir menghancurkan Dinasti Zhao Awal dan memperoleh stempel tersebut. Prasasti tersebut berbunyi "Atas mandat Surga, semoga kaisar hidup panjang umur dan sejahtera." Kemudian, prasasti "Mandat Surga klan Shi" ditambahkan di sisi kanan stempel, dan beredar di antara Lima Suku Barbar sebelum akhirnya mencapai Ran Wei.[5] Ran Wei meminta bantuan dari tentara Jin Timur karena perang, dan stempel tersebut kembali ke Jin Timur. Setelah diambil kembali dari Lima Suku Barbar selama Dinasti Jin Timur, stempel tersebut beredar di antara Dinasti Selatan.[6]
  2. Ketika Fu Jian dari Dinasti Qin Awal dibunuh oleh Yao Chang, stempel kekaisaran dikuburkan oleh Fu Jian.
  3. Selama pemerintahan Kaisar Taiwu dari Dinasti Wei Utara, dua stempel kekaisaran ditemukan di antara patung-patung tanah liat. Prasasti tersebut berbunyi "Atas mandat Surga, semoga kaisar hidup panjang umur dan sejahtera." Salah satunya juga memiliki tulisan "Stempel kekaisaran Dinasti Han yang diterima oleh Wei."[7]
  4. Setelah kekalahan dan kematian Hou Jing, Dinasti Qi Utara memperoleh stempel kekaisaran "Atas mandat Surga, semoga kaisar hidup panjang umur dan sejahtera" yang telah direbutnya dari Dinasti Liang Selatan.[8]

Sui dan Tang

Setelah Yang Jian menyatukan Tiongkok dan mendeklarasikan Dinasti Sui, segel tersebut diwariskan.[9] Namun, Dinasti Sui tidak berlangsung lama. Kaisar Yang dari Sui bunuh diri di Jiangdu akibat kudeta Yuwen Huaji dan Permaisuri Xiao lari mencari suaka ke suku Göktürk dengan segel tersebut. Maka pada awal Dinasti Tang, mereka tidak memiliki segel tersebut. Pada 630, Jenderal Tang Li Jing memimpin pasukan untuk menyerang suku Göktürk untuk mencari segel tersebut. Namun pada tahun yang sama, Permaisuri Xiao dan Yang Zhendao, cucu Kaisar Yang kembali ke Zhongyuan membawa segel tersebut dan menyerahkannya kepada Dinasti Tang. Namun segel ini hilang setelah keruntuhan Dinasti Tang dan selama periode Lima Dinasti dan Sepuluh Negara.

Hilangnya Segel Pusaka

Nasib segel tersebut tidak diketahui setelah periode Lima Dinasti dan Sepuluh Negara. Ada beberapa teori mengenai bagaimana segel tersebut bisa hilang.

  1. Segel ini hilang bersamaan dengan kematian Kaisar Li Congke dari Tang Akhir yang bunuh diri dengan membakar dirinya sendiri.
  2. Segel ini berada di tangan Kaisar Taizong dari Liao saat menangkap kaisar terakhir Jin Akhir.
  3. Segel ini tenggelam di Sungai Sanggan pada tahun 1122 pada masa Kaisar Tianzuo dari Liao.[10]
  4. Pada masa Kaisar Zhezong dari Song, ada seseorang yang menyatakan bahwa ia telah menemukan Segel Pusaka dan mengirimkannya ke istana. Namun segel ini hilang lagi setelah Insiden Jingkang. Kaisar Qinzong dan Huizong ditawan oleh pasukan Dinasti Jin dan istana kekaisaran di Daliang dijarah, menyebabkan segel tersebut hilang.
  5. Segel pusaka ini berada di tangan kaisar-kaisar Dinasti Yuan. Namun klaim ini dipertanyakan bahkan oleh Kaisar Qianlong sendiri yang tidak yakin bahwa segel yang ia dapatkan dari kampanye militer melawan sisa-sisa Dinasti Yuan, Dinasti Yuan Utara merupakan segel asli dari Dinasti Qin.
"Segel Kaisar Ming Agung" (大朙皇帝之寶; Dà Míng huángdì zhī bǎo)

Ketika pasukan Ming merebut Dadu pada tahun 1369, mereka hanya merebut satu dari sebelas stempel pribadi kaisar Yuan. Stempel Pusaka tidak ditemukan. Pada tahun 1370, pasukan Ming menyerbu Dinasti Yuan Utara dan merebut beberapa harta karun yang dibawa oleh kaisar Yuan yang mundur. Namun, sekali lagi Segel Pusaka tidak ditemukan. Pada awal Dinasti Ming, Segel tersebut diketahui telah hilang. Baik Dinasti Ming maupun Qing tidak memilikinya. Mengurangi signifikansi Stempel Pusaka yang hilang sebagian menjelaskan obsesi Kaisar Qing untuk menciptakan banyak stempel kekaisaran — Kota Terlarang di Beijing memiliki koleksi 25 stempel khusus untuk penggunaan resmi kaisar.

"Stempel Kekaisaran Qing Agung", salah satu stempel 'modern' yang dibuat oleh istana Qing pada tahun 1909–1911.

Pada awal abad ke-20, ketika Kekaisaran Qing melakukan reformasi untuk memodernisasi sistem pemerintahannya, serangkaian stempel resmi dibuat untuk digunakan pada dokumen dan instrumen pemerintahan kekaisaran. Meskipun berbentuk persegi mengikuti desain tradisional, cetakan stempel itu sendiri terbuat dari kayu, meniru preseden pemerintahan Barat dan, berbeda dengan stempel kekaisaran Qing sebelumnya yang dwibahasa (Tionghoa dan Manchu), hanya memiliki teks Tionghoa. Empat cetakan stempel diukir: "Stempel Qing Agung" (大清國寶), "Stempel Kaisar Qing Agung" (大清皇帝之寶), "Stempel Agung Kekaisaran Qing Agung" (大清帝國之璽), dan "Stempel Kaisar Kekaisaran Qing Agung" (大清帝國皇帝之寶). Di antara semuanya, Segel Agung Kekaisaran Qing Agung mewakili "pengganti" resmi dan modern untuk segel pusaka yang hilang. Cetakan segel tersebut berada dalam koleksi Museum Istana di Beijing, dan tidak ada yang menunjukkan tanda-tanda penggunaan. Setelah jatuhnya Kekaisaran Qing pada tahun 1912, pemerintah Republik Tiongkok juga mengadopsi serangkaian segel resmi berbentuk persegi. Republik Rakyat Tiongkok awalnya mengadopsi segel persegi serupa, tetapi segel ini tidak lagi digunakan pada tahun 1954.

Rumor ditemukan

Pada tahun ketiga pemerintahan Kaisar Qianlong, Gao Bin, gubernur Sungai Kuning, mempersembahkan sebuah stempel giok dengan tulisan "Menerima mandat dari Surga, semoga panjang umur dan makmur" dalam aksara stempel burung dan serangga. Ukirannya kuno dan indah, dengan nuansa kuat dari dinasti Qin dan Han. Tampaknya cocok dengan Stempel Kekaisaran Negara, Mandat Surga, yang tercatat dalam "Zhuogenglu". Namun Kaisar Qianlong mengamati segel tersebut dan menyatakan bahwa itu bukan segel asli dari Dinasti Qin dan hanya pahatan dari seorang pemahat. Ia juga berkata, "Bahkan jika barang-barang pribadi Zheng dan Si masih ada, bagaimana mereka bisa disimpan bersamaan dengan Segel Pusaka dinasti sekarang? Ini tidak benar". Ia tidak menganggap segel tersebut sebagai harta nasional.[11]

Lihat pula

Referensi

  1. ^ The Complete Collection of Treasures of the Palace Museum, Beijing 30: Imperial Seals and Signets - Gugong Bowuyuan Cang Wenwu Zhenpin Quanji 30: Xi yin (Taiwanese Chinese) – 2008. by Beijing Palace Museum. ISBN 9620753453, ISBN 978-9620753459
  2. ^ 文獻通考》卷一百十五·王禮考十:秦以印稱璽,以玉,不通臣下,用制乘輿六璽:曰「皇帝行璽」、「皇帝之璽」、「皇帝信璽」、「天子行璽」、「天子之璽」、「天子信璽」。又始皇得藍田白玉為璽,螭虎鈕,文曰「受天之命,皇帝壽昌。」;《文獻通考》卷一百十五·王禮考十引注衛宏曰:秦前民皆佩綬、金、玉、銀、銅、犀、象為方寸璽,各服所好。秦以來天子獨稱璽,又以玉,群下莫得用。其玉出藍田山,題李斯書,其文曰「受命於天,既壽永昌。」高祖入咸陽,秦王子嬰以璽降,其璽乃始皇藍田玉璽、螭獸鈕,在六璽之外。帝既誅項籍,即天子位,因服其璽,世世傳受,號曰「漢傳國璽」。平帝崩,孺子未立,璽藏長樂宮。及王莽即位,請璽,太后不肯授莽。莽使安陽侯舜諭指,太后怒罵之,且曰:「若自以金匱符命為新皇帝,變更正朔服制,亦當自更作璽,傳之萬世,何用此亡國不祥璽為?我漢家老寡婦,旦暮且死,欲與此璽俱葬。終不可得。」太后因涕泣,左右皆垂涕,舜亦悲不能止良久,乃謂太后,「臣等巳無可言,莽必欲得傳國璽,太后寧能終不與邪?」太后聞舜語切,恐莽欲脅之,乃出漢傳國璽,投之地以授舜,曰:「我老且死,而兄弟今族滅也。」舜既得璽,奏之。莽大說;《後漢書》卷四十八引注衛宏曰:秦以前以金、玉、銀為方寸璽。秦以來天子獨稱璽,又以玉,腢下莫得用。其玉出藍田山,題是李斯書,其文曰「受命於天,既壽永昌」,號曰傳國璽。漢高祖定三秦,子嬰獻之,高祖即位乃佩之。王莽篡位,就元後求璽,後乃出以投地,上螭一角缺。及莽敗時,仍帶璽紱,杜吳殺莽,不知取璽,公賓就斬莽首,並取璽。更始將李松送上更始。赤眉至高陵,更始奉璽上赤眉。建武三年,盆子奉以上光武。
  3. ^ 三國志》卷四十六引《吳書》曰:堅入洛,掃除漢宗廟,祠以太牢。堅軍城南甄官井上,旦有五色氣,舉軍驚怪,莫有敢汲。堅令人入井,探得漢傳國璽,文曰“受命於天,旣壽永昌”,方圜四寸,上紐交五龍,上一角缺。初,黃門張讓等作亂,劫天子出奔,左右分散,掌璽者以投井中;《資治通鑑》卷六十·漢紀五十二:堅進至雒陽,擊呂布,復破走。堅乃掃除宗廟,祠以太牢,得傳國璽於城南甄宮井中;分兵出新安、澠池間以邀卓。
  4. ^ 後漢書》卷七十五:又少見識書,言“代漢者當塗高”,自-{云}-名字應之;又以袁氏出陳為舜後,以黃代赤,德運之次,遂有僭逆之謀。又聞孫堅得傳國璽,遂拘堅妻奪之;《三國志》卷四十六引《山阳公载记》:袁術將僭號,聞堅得傳國璽,乃拘堅夫人而奪之。
  5. ^ 《晉陽秋》曰:冉閔大將軍蔣幹以傳國璽付河南太守戴施,施獻之,百僚皆賀。璽光照洞徹,上蟠螭文隱起,書曰「(旻)〔昊〕天之命,皇帝壽昌」。秦舊璽也;《後漢書》卷三十引注徐廣曰:傳國璽文曰「受天之命,皇帝壽昌」。
  6. ^ 宋書》卷十八:高祖入關,得秦始皇藍田玉璽,螭虎紐,文曰「受天之命,皇帝壽昌」。高祖佩之,後代名曰傳國璽,與斬白蛇劍俱為乘輿所寶。傳國璽,魏、晉至今不廢;斬白蛇劍,晉惠帝武庫火燒之,今亡。晉懷帝沒胡,傳國璽沒于劉聰,後又屬石勒。及石勒弟石虎死,胡亂,晉穆帝代,乃還天府。
  7. ^ 魏書》卷四下、《北史》魏本紀第二:夏四月甲申,車駕至自長安。戊子,毀鄴城五層佛圖,於泥像中得玉璽二,其文皆曰:「受命於天,既壽永昌」。其一刻其旁曰「魏所受漢傳國璽」。
  8. ^ 北齊書》卷三十八:獲傳國璽送鄴,文宣以璽告於太廟。此璽卽秦所制,方四寸,上紐交盤龍,其文曰:「受命于天,旣壽永昌。」二漢相傳,又傳魏、晉。懷帝敗,沒於劉聰。聰敗,沒於石氏。石氏敗,晉穆帝永和中,濮陽太守戴僧施得之,遣督護何融送于建鄴。歷宋、齊、梁,梁敗,侯景得之。景敗,侍中趙思賢以璽投景南兗州刺史郭元建,送于術,故術以進焉。
  9. ^ 隋書》卷十一:天子六璽:文曰「皇帝行璽」,封常行詔敕則用之。「皇帝之璽」,賜諸王書則用之。「皇帝信璽」,下銅獸符,發諸州征鎮兵,下竹使符,拜代徵召諸州刺史,則用之。並白玉為之,方一寸二分,螭獸鈕。「天子行璽」,封拜外國則用之。「天子之璽」,賜諸外國書則用之。「天子信璽」,發兵外國,若徵召外國,及有事鬼神,則用之。並黃金為之,方一寸二分,螭獸鈕。又有傳國璽,白玉為之,方四寸,螭獸鈕,上交五蟠螭,隱起鳥篆書。文曰「受天之命,皇帝壽昌」,凡八字。
  10. ^ 《遼史》卷五十七‧志第二十六 儀衛志三符印
  11. ^ "紫砂覆斗纽"受命于天既寿永昌"传国玺". 故宫博物院. Diarsipkan dari asli tanggal 2020-08-13. Diakses tanggal 2020-11-30.

Pranala luar

  • Chen Shou (3rd century). Pei Songzhi (ed.) 三國志 [Records of the Three Kingdoms]. Taipei: Dingwen Printing, 1977.
  • Morrow, David & Pearlstein, Elinor (1998). "Immortal stone: Jade of the Han dynasty". Calliope, 9(2): 24.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement