Sastra poskolonial

Sastra Poskolonial adalah karya sastra yang merupakan tanggapan atas kolonialisme yang dilakukan bangsa Barat terhadap bangsa Timur.[1] Jenis kajian sastra ini tidak hanya menganalisis unsur tulisan dalam certa, tetapi juga unsur-unsur di luar teks, misalnya kejadian-kejadian yang berkaitan dengan terminologi Sastra Poskolonial dan karakteristik tiap penulis dari setiap generasi.

Menurut Nyoman Kutha Ratna, ada lima pokok pengertian Poskolonial, yaitu perhatian untuk menganalisis era kolonial, adanya kaitan erat dengan nasionalisme, dan adanya usaha memperjuangkan narasi kecil, menggalang kekuatan dari bawah, serta sekaligus belajar dari masa lampau menuju masa depan.

Terminologi Sastra Poskolonial

Sastra Poskolonial memiliki beberapa terminologi di antaranya:

Orientalisme adalah sebuah istilah yang mendeskripsikan bagaimana negara-negara Barat menggambarkan dan mengkonstruksi negara-negara Timur sebagai negara yang terbelakang. Terminologi ini didukung oleh Edward Said.

Mimikri adalah upaya yang dilakukan bangsa terjajah untuk meniru kebiasaan dan budaya penjajah karena budaya atau standar hidup kaum penjajah dianggap lebih terhormat. Terminologi ini didukung oleh Homi Bhaba.

Hibriditas adalah bentuk percampuran budaya yang menghasilkan suatu variasi budaya baru. Terminologi ini juga didukung oleh Homi Bhaba.

Hegemoni adalah suatu kondisi ketika kaum penguasa melegitimasi kekuasaannya dan hal tersebut dianggap wajar dalam kehidupan sehari-hari. Teori ini didukung oleh Antonio Gramsci.

Referensi

  1. ^ "Alasan Poskolonialisme Dapat Mengkaji Karya Sastra". kumparan. Diakses tanggal 2025-05-17.


Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement