Rumah Pujiwati Sukendro

Rumah Pujiwati Sukendro
Rumah Pujiwati Sukendro di Kota Yogyakarta
Rumah Pujiwati Sukendro
Rumah Pujiwati Sukendro
Lokasi Rumah Pujiwati Sukendro di Minggir, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia
Informasi umum
JenisCagar Budaya
LokasiPadukuhan Kregan, RT 06 / RW 16, Sendangagung, Minggir, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia.
Koordinat7°43′35″N 110°14′09″E / 7.7264166°N 110.235805°E / 7.7264166; 110.235805
Mulai dibangunAbad 19
Tampak depan Rumah Pujiwati Sukendro

Rumah Pujiwati Sukendro adalah sebuah cagar budaya yang terletak di wilayah Minggir, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Rumah ini ditetapkan sebagai cagar budaya pada tahun 2019 berdasarkan SK Bupati Sleman No 6.13/Kep.KDH/A/2019. Rumah bergaya eropa ini pertama kali berdiri pada masa kolonial belanda sebagai rumah pemukiman bagi pegawai perkebunan tembakau di Minggir.

Sejarah

Penanda Cagar Budaya Rumah Pujiwati Sukendro

Pada pertengahan abad ke-19, perusahaan perkebunan Belanda yang berpusat di Den Haag, Klattensche Cultuur Maatschappij te s’Gravenhage, mengelola industri tembakau di wilayah Klaten dan Yogyakarta. Perusahaan ini juge memiliki perkebunan Tembakau yang berada di Wilayah Minggir. Rumah-rumah didirikan di sekitar perkebunan bagi para controleur atau pengawas perkebunan. Salah satu rumah tersebut adalah rumah yang sekarang milik Ibu Pujiwati Sukendro.

Kebijakan agraria pada tahun 1918 menyebabkan industri tembakau merosot. Perkebunan tembakau tersebut akhirnya dijual pada tahun 1920 dan diubah menjadi perkebunan tebu seiring dengan pendirian pabrik gula Sendangpitu.[1] Pada tahun 1931, terjadi krisis malaise, pabrik gula tersebut ditutup dan sebagian asetnya dijual, termasuk rumah para controleur.

Rumah ini dibeli oleh Sarmowihardjo, seorang mantri kesehatan yang bekerja di Petronella Hospitaal (sekarang RS Bethesda Yogyakarta). Beliau membuka kapel di depan rumahnya untuk menyebarkan agama Kristen serta memberikan layanan kesehatan untuk masyarakat Minggir. Setelah beliau meninggal, rumah ini diwariskan kepada anaknya hingga sekarang dihuni oleh cucunya, Pujiwati Sukendro.

Bentuk Bangunan

Bangunan rumah Pujiwati Sukendro terdiri dari beberapa bangunan yaitu bangunan utama untuk tempat tinggal dan bangunan pelayanan yang dihubungkan oleh selasar. Selain itu juga terdapat beberapa bangunan tambahan seperti gilingan padi, kios bahan bangunan, dan gudang.[2]

Bangunan Utama

Bangunan utama memiliki ruang tengah dan empat kamar tidur. Salah satu kamar tidur sekarang difungsikan sebagai tempat tidur. Bangunan utama memiliki beranda depan, samping kanan dan kiri. Beranda Kanan sekarang difungsikan sebagai kamar tidur dengan tambahan dinding.

Atap bangunan utama berbentuk limasan ganda dengan rangka dari kayu jati dan penutup berupa genteng. Konstruksi dinding terbuat dari bata dengan besi bligon (campuran gamping, pasir, dan bata yang ditumbuk). Plafon rumah yang masih asli hanya tersisa di daerah dapur yang terbuat dari anyaman bambu. Bagian lantai terbuat dari plesteran semen dan pola belah ketupat dan bujur sangkar.

Bangunan Layanan

Bangunan layanan (service) terletak di sebelah timur bangunan utama yang dihubungkan oleh sebuah selasar. Bangungan tersebut terdiri dari beberapa ruangan seperti kamar mandi, dapur lama, kamar, sumur, dan garasi lama.

Gaya Arsitektur

Jendela Krepyak Rumah Pujiwati Sukendro

Secara arsitektural, bangunan rumah Pujiwati Sukendro memiliki gaya kolonial yang ditandai dengan adanya beranda depan dan samping rumah, langit-langit yang tinggi, dan adanya jendela krepyek. Bangunan ini menghadap ke arah barat daya dengan warna cat tembok berwarna putih serta warna biru muda pada beberapa bagian rumah seperti pintu dan jendela.


Rujukan

  1. ^ "Rumah Pujiwati Suknedro". Dinas Kebudayaan Kundha Kabudayaan Kabupaten Sleman. Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman. Diakses tanggal 2025-09-28.
  2. ^ "JOGJACAGAR | Sistem Informasi Cagar Budaya". jogjacagar.jogjaprov.go.id. Diakses tanggal 2025-09-28.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement