Rumah Adat Rejang Kepahiang
Rumah Adat Rejang Kepahiang dikenal dengan sebutan "Rumah Bubungan Lima" adalah rumah adat khas Provinsi Bengkulu. Nama ini diambil dari bentuk atap rumah yang memiliki lima bagian yang melambangkan tingkatan sosial dalam masyarakat Rejang. Rumah ini berbentuk panggung dengan bahan utama dari kayu dan beratapkan ijuk atau rumbia. Seiring modernisasi, jumlah rumah adat Bubungan Lima semakin berkurang. Namun, beberapa rumah adat masih dipertahankan sebagai warisan budaya, baik dalam bentuk asli maupun sebagai replika untuk keperluan wisata budaya. Pemerintah daerah dan masyarakat setempat juga terus berupaya melestarikan keberadaan rumah adat ini melalui berbagai program kebudayaan dan pendidikan.
Sejarah
Suku Rejang adalah salah satu suku asli yang mendiami wilayah Bengkulu, terutama di daerah Rejang Lebong, Kepahiang, Lebong, dan Bengkulu Utara. Sejarah asal-usul suku Rejang masih menjadi perdebatan, tetapi beberapa teori mengaitkan mereka dengan peradaban Melayu tua yang telah bermukim di Pulau Sumatra sejak berabad-abad yang lalu. Menurut tradisi lisan dan penelitian sejarah, suku Rejang diperkirakan berasal dari keturunan Proto-Melayu yang bermigrasi ke Sumatra ribuan tahun yang lalu. Mereka diyakini memiliki hubungan dengan Kerajaan Sriwijaya dan kemudian berinteraksi dengan Kerajaan Majapahit serta Kesultanan Banten pada masa berikutnya. Selain itu, dalam catatan kolonial Belanda, suku Rejang disebut sebagai salah satu suku yang telah lama menetap di pedalaman Bengkulu. Suku Rejang memiliki bahasa sendiri yang disebut Bahasa Rejang, yang tergolong dalam rumpun bahasa Melayu-Austronesia. Mereka juga memiliki sistem aksara kuno yang dikenal sebagai Aksara Ka Ga Nga, yang masih dapat ditemukan dalam beberapa naskah lama. Rumah adat suku Rejang, khususnya di daerah Kepahiang, dikenal dengan sebutan "Rumah Bubungan Lima". Rumah ini memiliki ciri khas rumah panggung dengan atap berbentuk limas, yang memberikan perlindungan dari hujan dan serangga serta meningkatkan sirkulasi udara. Seiring dengan perkembangan zaman, rumah adat suku Rejang mulai mengalami perubahan, terutama dalam hal material dan desain. Beberapa rumah adat tradisional masih dipertahankan oleh masyarakat adat, tetapi banyak juga yang telah beradaptasi dengan bahan modern seperti semen dan seng. Namun, filosofi dasar dan ciri khas rumah Bubungan Lima masih tetap terjaga dalam banyak rumah masyarakat Rejang hingga saat ini. Pemerintah daerah dan komunitas adat juga berusaha melestarikan rumah adat ini dengan mendirikan replika rumah adat di beberapa tempat sebagai objek wisata budaya dan pusat pelestarian sejarah. Nama Bubungan Lima merujuk pada atapnya yang berbentuk limas bertingkat lima, melambangkan strata sosial dan adat istiadat masyarakat Rejang. Rumah ini juga mencerminkan kehidupan masyarakat yang erat dengan alam dan nilai gotong royong.[1] [2][3][4][5][6][7]
Gaya dan arsitektur
Rumah adat suku Rejang, yang berasal dari daerah Kepahiang, Bengkulu, memiliki gaya arsitektur tradisional yang mencerminkan kearifan lokal serta kondisi lingkungan setempat. Rumah adat ini dikenal dengan sebutan "Rumah Bubungan Lima" karena bentuk atapnya yang memiliki lima bubungan atau puncak. Rumah ini dibangun di atas tiang-tiang kayu dengan ketinggian sekitar 1,5 hingga 2 meter dari tanah. Tujuannya adalah untuk menghindari banjir, melindungi dari binatang buas, serta meningkatkan sirkulasi udara agar rumah tetap sejuk. Kayu menjadi bahan utama dalam konstruksi rumah, terutama jenis kayu yang tahan lama seperti kayu meranti atau kayu medang. Atapnya biasanya dibuat dari ijuk atau daun rumbia, yang berfungsi sebagai isolasi alami untuk menjaga suhu dalam rumah tetap nyaman. Ciri khas utama rumah adat ini adalah bentuk atapnya yang memiliki lima puncak atau bubungan. Struktur atap ini membantu memperlancar aliran air hujan serta memperkuat identitas budaya suku Rejang.
- Berendo (Teras Depan): Berfungsi sebagai tempat bersantai dan menerima tamu.
- Ruang Tengah: Berfungsi sebagai tempat berkumpul keluarga serta tempat tidur bagi anggota keluarga.
- Dapur (Dapuo): Terletak di bagian belakang rumah dan menjadi tempat memasak.
- Kolong Rumah: Area di bawah rumah panggung yang sering dimanfaatkan untuk menyimpan hasil panen atau sebagai kandang ternak.
Rumah adat ini dibangun dengan sistem pasak dan sambungan kayu tanpa menggunakan paku besi.Teknik ini menunjukkan keahlian tukang kayu tradisional suku Rejang serta membuat rumah lebih tahan terhadap gempa. Simbol Status Sosial Bentuk rumah dan jumlah ukiran mencerminkan status sosial pemiliknya dalam masyarakat. Adaptasi terhadap alam, struktur rumah panggung dan atap yang tinggi menyesuaikan diri dengan kondisi iklim setempat. Keharmonisan dengan Alam Penggunaan bahan alami menunjukkan hubungan erat antara suku Rejang dengan lingkungan sekitarnya.
Kondisi
- Rumah adat Rejang Kepahiang semakin jarang ditemukan karena banyak masyarakat yang beralih ke rumah modern.
- Beberapa rumah masih dipertahankan sebagai warisan budaya dan destinasi wisata.
Galeri
-
Sebuah Replika Dari Rumah Adat Rejang -
Tampak Depan Rumah Adat Rejang -
Salah Satu Rumah Adat Rejang Di Taba Sating
Referensi
- ^ "Anugerah Gelar Adat untuk Bupati dan Wakil Bupati Kepahiang: Upaya Pemajuan Adat dan Budaya"http://semarakpost.com/2024/pameran-koleksi-benda-musium-kabupaten-kepahiang.html/
- ^ "Pameran Koleksi Benda Musium Kabupaten Kepahiang"https://mediasinardunia.com/anugerah-gelar-adat-untuk-bupati-dan-wakil-bupati-kepahiang-upaya-pemajuan-adat-dan-budaya
- ^ "Mengenal Suku Rejang, dari Asal Usul hingga Tradisi"https://regional.kompas.com/read/2024/02/07/215058478/mengenal-suku-rejang-dari-asal-usul-hingga-tradisi?page=all
- ^ "Festival Umbung Kutei: Melestarikan Budaya dan Persatuan di Kabupaten Kepahiang"https://mediasinardunia.com/festival-umbung-kutei-melestarikan-budaya-dan-persatuan-di-kabupaten-kepahiang
- ^ "Rumah Adat Kepahiang Dinilai Belum Beri Manfaat Untuk Kemajuan Sektor Wisata"https://harianrakyatbengkulu.bacakoran.co/read/6772/rumah-adat-kepahiang-dinilai-belum-beri-manfaat-untuk-kemajuan-sektor-wisata
- ^ "Pelestarian Budaya, Bangunan Sekolah Di Kepahiang Dengan Ornamen Khas Rejang"https://www.bengkulutoday.com/pelestarian-budaya-bangunan-sekolah-di-kepahiang-dengan-ornamen-khas-rejang
- ^ "Rumah Adat Rejang di Provinsi Bengkulu Berdiri Sejak Tahun 1901, Banyak Menyimpan Sejarah"https://bengkulu.tribunnews.com/2023/08/22/rumah-adat-rejang-di-provinsi-bengkulu-berdiri-sejak-tahun-1901-banyak-menyimpan-sejarah
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


