Riyaya Undhuh-Undhuh Mojowarno

Riyaya Undhuh‑Undhuh Mojowarno adalah tradisi tahunan ungkapan syukur atas panen yang diperingati setiap Mei di lingkungan Jemaat GKJW (Gereja Kristen Jawi Wetan) Mojowarno, Jombang. Nama “Undhuh‑Undhuh” berasal dari bahasa Jawa yang berarti ‘memanen’, menandakan rasa terima kasih kepada Tuhan atas berkah hasil bumi dan hasil panen.[1]

Sejarah dan Latar Belakang

Riyaya Undhuh‑Undhuh muncul dari akulturasi antara budaya Jawa agraris—yang dahulu digunakan untuk memuja Dewi Sri pasca panen—dengan keyakinan Kristen.[1] Sejak tahun 1930, jemaat GKJW Mojowarno secara konsisten merayakan tradisi ini sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan Yesus, adapun akar ritual sebelumnya tertuang dalam praktik lumbung pirukunan yang pernah menyokong pembangunan gereja sejak tahun 1870-an.[butuh rujukan]

Pelaksanaan

Tradisi ini telah digelar secara turun-temurun sejak dekade 1930-an. Perayaan berlangsung pada bulan Mei, bertepatan dengan musim panen padi. Acara diawali dengan ritual agraris tradisional seperti kebetan (doa pra-kerja) dan keleman (doa selama pertumbuhan tanaman) pada bulan Oktober dan Desember.[1]

Puncak acara, Undhuh‑Undhuh, mengundang jemaat dari tujuh blok (dusun dan lembaga) untuk mengarak hasil panen—buah, sayuran, dan ternak—dengan mobil atau gerobak hias menuju halaman GKJW. Setibanya di gereja, sesaji didoakan dalam Misa Unduh‑Undhuh, lalu dilelang. Dana hasil lelang digunakan untuk kegiatan sosial dan pelayanan gereja.[2] Selama prosesi, masyarakat dari berbagai agama—termasuk umat Muslim—aktif berpartisipasi dalam persiapan maupun pelaksanaan, menggambarkan nilai toleransi dan kebersamaan.[3]

Nilai dan fungsi budaya

Riyaya Undhuh‑Undhuh memadukan spiritualitas Kristen dengan budaya Jawa melalui elemen ritus panen, arak-arakan budaya, doa, dan kesenian seperti Tari Bedoyo dan wayang kulit.[4] Secara religius, acara ini adalah ungkapan syukur kepada Tuhan atas karunia panen dan keselamatan yang diberikan. Secara sosial dan budaya, tradisi ini memperkuat gotong riddan dan toleransi lintas agama, karena juga diikuti oleh masyarakat non-Kristen.[5] Sementara secara ekonomi, penjualan hasil panen mendukung dana kegiatan gereja dan bantuan sosial setempat.[butuh rujukan]

Pelestarian dan Pengakuan

Sejak 2019, Riyaya Undhuh‑Undhuh Mojowarno diakui resmi sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Kemendikbudristek RI.[6] Pemerintah kabupaten dan gereja terus mendorong pelestarian dengan mengangkat acara ini menjadi bagian agendanya, menyertakan pagelaran budaya, serta menggandeng komunitas lintas agama untuk menjaga kesinambungan tradisi. Hadirnya Bupati dan tokoh publik turut memperkuat legitimasi dan semangat kolaboratif antarwarga.[butuh rujukan]

Referensi

  1. ^ a b c "Riyaya Undhuh-Undhuh Mojowarno, Sudah menjadi tradisi setiap tahun – Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya". kebudayaan.kemdikbud.go.id. Diakses tanggal 2025-06-18.
  2. ^ Ketik.co.id; Arif, Syaiful (2025-05-11). "Mengenal Tradisi Perayaan Unduh-Unduh GKJW Mojowarno Jombang - Ketika Ajaran Alkitab Menyatu dengan Budaya Jawa". ketik.co.id. Diakses tanggal 2025-06-18.
  3. ^ harian.disway.id. "Riyaya Unduh-Unduh di Mojowarno: Tradisi Syukur dan Gotong Royong yang Menyatukan Anak Bangsa". harian.disway.id. Diakses tanggal 2025-06-18.
  4. ^ "Filosofi Hari Raya Unduh-unduh dan Tarian Bedoyo oleh Jemaat GKJW Mojowarno Jombang". Kabar Jombang. 2025-05-11. Diakses tanggal 2025-06-18.
  5. ^ TIMUR, SUARA INDONESIA JAWA. "Riyaya Undhuh-Undhuh di GKJW Mojowarno Jombang, Tradisi Tahunan yang Tetap Lestari hingga Kini". SUARA INDONESIA JAWA TIMUR. Diakses tanggal 2025-06-18.
  6. ^ Jombang, Dinas Kominfo. "https://www.jombangkab.go.id/berita/uncategorized/tradisi-riyaya-undhuh-undhuh-mojowarno-jombang-menjadi-warisan-budaya-tak-benda-indonesia-5565". www.jombangkab.go.id (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-06-18.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement