Ratu Ageng Tegalrejo
Ratu Ageng Tegalrejo adalah permaisuri dari Sultan Hamengkubuwana I, sultan pertama Kesultanan Nyayogyakarta Hadiningrat. Ia merupakan nenek buyut Pangeran Diponegoro.[1]
Kehidupan awal
Ratu Ageng Tegalrejo lahir dengan nama Niken Ayu Yuwati pada tahun 1735.[1] Ia merupakan anak perempuan Kiai Ageng Derpoyudo, seorang kiai terkemuka di Majangjati, Sragen.[1][2] Ratu Ageng merupakan keturunan dari Sultan Abdul Qahir, seorang Sultan Bima dari Sumbawa.[1][2]
Pernikahan
Ratu Ageng Tegalrejo menikah dengan Sultan Hamengkubuwana I, yang saat itu masih bergelar Pangeran Mangkubumi.[1][2] Sebagai permaisuri sultan, ia bergelar Gusti Kanjeng Ratu Kadipaten (atau Kadospaten).[1] Ratu Ageng mendampingi suaminya dalam seluruh pertempuran melawan Belanda selama Perang Giyanti (1746–1755).[2] Anak lelaki mereka yang kelak menjadi sultan kedua lahir ketika pasukan suaminya beristirahat di lereng Gunung Sundoro di Kedu. Oleh karena itu, nama kecil sultan kedua adalah Gusti Raden Mas Sundoro.[3]
Keluar dari keraton

Pada awal 1790-an, Ratu Ageng meninggalkan keraton menuju permukiman Tegalrejo yang berjarak sekitar empat kilometer dari keraton.[4][1] Ia tak sendiri, bersamanya turut pula cicitnya, Pangeran Diponegoro, sebagai anak asuh.[5] Ratu Ageng meninggalkan keraton saat sudah berusia enam puluhan.[4] Alasan kepindahannya kurang jelas. Namun, menurut Diponegoro nenek buyutnya sangat sedih dan kecewa dengan berbagai konflik dengan anak-anaknya serta persekongkolan keluarga yang tak henti-hentinya di keraton. Hal tersebut diungkapkan oleh Diponegoro dalam karyanya, Babad Diponegoro.[6][1]
XIV.
49
Sekarang kami bercerita tentang Ratu Ageng
betapa sering ia berselisih
dengan putra-putranya.
Maka ia minggat dan membuka lahan baru;
tanah-tanah telantar digarapnya,
[dan] lantas tinggal menetap di sana.
Jauh dari Kota Yogya.
50
satu jam perjalanan [dengan kaki].
Ketika semuanya sudah siap,
tempat itu disebut Tegalrejo [“Tanah Kemakmuran”]
Akhir hayat
Pada akhir September 1803, Ratu Ageng menderita demam tinggi setelah tercebur ke dalam salah satu tambak di Tegalrejo. Ia kemudian dipindahkan ke kediaman putra mahkota di Yogya. Pada awal Oktober, keadaannya agak membaik. Namun, sesudah itu kesehatannya terus merosot hingga akhirnya meninggal pada jam tiga sore tanggal 17 Oktober 1803. Sebelumnya, ia sempat membisikkan nasihat terakhir yang keras kepada putranya, Sultan Hamengkubuwana II.[7]
Jenazah Ratu Ageng dibaringkan dengan upacara kerajaan di kadipaten (kediaman putra mahkota). Ia dimakamkan pada senja hari berikutnya di pemakaman kerajaan Imogiri sejauh empat jam jalan kaki di sebelah selatan Yogya.[7]
Referensi
Catatan kaki
- ^ a b c d e f g h Agung, Firdaus (11 Juni 2024). "Ratu Ageng, Ia yang Menempa Diponegoro di Tegalrejo". Tirto.id. Diakses tanggal 16 Juni 2025.
- ^ a b c d Carey 2011, hlm. 89.
- ^ Carey 2011, hlm. 89–90.
- ^ a b Carey 2011, hlm. 96.
- ^ Carey 2011, hlm. 90.
- ^ Carey 2011, hlm. 94.
- ^ a b Carey 2011, hlm. 97.
Daftar pustaka
- Carey, Peter (2011). Kuasa Ramalan jilid I. Kepustakaan Populer Gramedia. ISBN 978-602-424-528-3. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


