Rasi (beras singkong)

Rasi (Beras Singkong) adalah makanan pokok masyarakat Kampung Adat Cirendeu, Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Provinsi Jawa Barat. Berbeda dengan masyarakat Indonesia pada umumnya yang mengonsumsi beras dari padi sebagai bahan pangan utama, masyarakat Kampung Adat Cirendeu justru mengonsumsi beras dari singkong.[1]

Pada 2021, rasi ditetapkan sebagai salah satu warisan budaya takbenda Indonesia asal Jawa Barat. Pengukuhan ini dilakukan bertepatan dengan tradisi Tutup Taun Ngemban Taun 1 Sura.[2]

Sejarah

Pada zaman dahulu, masyarakat Kampung Adat Cirendeu mengonsumsi nasi sebagai makanan pokok. Mereka memakannya karena orang Sunda kala itu percaya bahwa padi merupakan pemberian dari Nyai Pohaci Dangdayang Sri atau Dewi Sri, dewi kesuburan.[3]

Pada 1918, paceklik terjadi di Kampung Cirendeu. Hal itu membuat padi yang ditanam oleh warga mengalami gagal panen sehingga tidak bisa dikonsusi sama sekali. Pemerintah Hindia-Belanda sebenarnya telah melakukan upaya. Namun karena upayanya lambat, Kepala Desa Cireundeu saat itu, yakni Aki Haji Ali memilih untuk mencari solusi sendiri dengan pergi ke Cirebon, Jawa Barat.[1] Di sana ia mendapatkan sebuah petuah yang berbunyi, "Teu nanaon teu boga huma ge asal boga pare. Teu nanaon teu boga pare ge asal boga beas. Teu nanaon teu boga beas ge asal bisa ngejo. Teu nanaon teu bisa ngejo ge asal bisa nyatu. Teu nanaon teu bisa nyatu ge asal bisa hirup" (Tak apalah tak punya huma asal punya padi. Tak apa tak punya padi asal punya beras. Tak apa tak punya beras asal bisa makan. Tak apa tak bisa makan asal bisa hidup).[1]

Versi lain mengatakan bahwa rasi diciptakan karena dipicu oleh tindakan Belanda yang merampas beras di Kampung Cirendeu saat krisis pangan terjadi pada 1918. Di sisi lain, masyarakat Cirendeu juga mempercayai ramalan leluhur sehingga mendorong mereka untuk mencari alternatif pengganti nasi yang berasal dari beras. Dalam lamaran disebutkan bahwa bumi akan penuh dengan tangtungan, yakni bangunan yang semakin padat dan manusia yang semakin banyak.[4]

Meski sejarah awal muncul pada 1918, rasi baru diciptakan pada 1924 ketika seorang tetua perempuan bernama Omah Asnamah (atau Abu Sepuh) menginisiasi terbentunya beras dari singkong yang kemudian dikenal dengan nama rasi. Sejak itu, rasi dianggap sebagai simbol perlawanan terhadap penjajahan.[4]

Referensi

  1. ^ a b c Ramdani, Dian Nugraha. "Mengenal Rasi, Beras Singkong Khas Cireundeu: Sejarah dan Cara Pembuatannya". detikjabar. Diakses tanggal 2025-11-15.
  2. ^ "Kenalan dengan Rasi, Makanan Pokok Warga Kampung Cireundeu". disparbud.jabarprov.go.id. Diakses tanggal 2025-11-15.
  3. ^ "Rasi, Nasi Singkong yang jadi Makanan Pokok Masyarakat Kampung Adat Cireundeu di Cimahi". Tempo. 24 Maret 2025 | 12.00 WIB. Diakses tanggal 2025-11-15.
  4. ^ a b "Pangan: Seabad lalu jadi simbol melawan Belanda, kini rasi jadi model ketahanan pangan – Mungkinkah beras singkong jadi solusi krisis pangan?". BBC News Indonesia. 2024-05-29. Diakses tanggal 2025-11-15.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement