Raden Siti Jenab
Artikel ini membutuhkan lebih banyak pranala ke artikel lain untuk meningkatkan kualitasnya. (Januari 2023) |
Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (Januari 2023) |
Raden Siti Jenab atau nama lengkapnya Nyi Rd. Siti Djenab Djatradidjaja (lahir tahun 1890 dan meninggal tahun 1951)[1] adalah tokoh perempuan dalam dunia pendidikan di Cianjur. Raden Siti Jenab merupakan putri ketiga dari delapan bersaudara, Ayahnya bernama Raden Martadilaga, putra Raden Dipamanggala, patih Purwakarta. lbunya bernama Nyi Raden Siti Mariah yang berasal dari Brebes, Jawa Tengah. Saudara-saudara Rdaden Siti Jenab adalah : R.A. Abdurakhman (Bupati Mester I), Nyi Raden Siti Aisah, Ir. R. H. Muh. Enoch (lnsinyur praktek pertama di Indonesia), Nyi Raden Siti Djenar (Komis I Kantor Pos Cianjur), Nyi Raden Siti Rukiyah. R. Mustarom (Patih t.b. Kepala Volksvoorlichtingdienst di Kantor Keresidenan Bogor), Nyi Raden Siti Kuraesin (Kepala Urusan Pegawai RS. CBZ Jakarta). Raden Siti Jenab menikah dengan Tubagus Djatradijaya, guru HIS Cianjur, dengan dianugerahi lima orang anak yaitu: Tubagus Akhmad Sudarsono, Tubagus Akhmad Muhammad, Raden Siti Rakhmat, Raden Siti Harsini, dan Raden Siti Khaeroni.[2]
Perjuangan Raden Siti Jenab dapat disetarakan dan saling mengisi dengan Dewi Sartika yang sama-sama berjuang mengubah harkat dan martabat kaum perempuan dengan pendidikan di Jawa Barat, maupun R.A Kartini. Jika ide gagasan emansipasi perempuan ada pada R.A Kartini, maka Dewi Sartika dan Siti Jenab ada pada tahap praktiknya. Raden Siti Jenab berusaha berjuang dalam memberikan pendidikan dan pengajaran kepada sesama perempuan yang pada waktu itu tidak mendapatkan kesempatan yang luas seperti halnya pendidikan bagi kaum pria.[3]
Raden Siti Jenab merupakan mantan murid yang pernah belajar di Sekolah Dewi Sartika di Bandung. Raden Siti Jenab merasa yakin bahwa perempuan yang hebat adalah yang terdidik dan cerdas sehingga ke depan dapat mencerdaskan generasi masa depan. Sebagai turunan priyayi yang mendapat pendidikan di Sekolah Dewi Sartika, Raden Siti Jenab mengharapkan anak perempuan yang belajar di sekolahnya diharapkan menjadi orang baik dan berkepribadian.[3]
Pada awalnya konsep pendidikan yang digagas Siti Jenab tidak dengan mudah diterima oleh masyarakat. Hal itu disebabkan oleh pandangan orang tua bahwa anak di sekolah tidak akan terawasi, anak cenderung bersikap bebas, padahal mereka harus tunduk patuh pada norma dan aturan dalam adat. Alasan lainnya dimana masyarakat tidak menyekolahkan anak gadisnya karena ada anggapan percuma anak perempuan disekolahkan, meskipun nanti pintar tetap tidak akan memiliki kedudukan seperti laki-laki. Belum lagi rumor di masyarakat bahwa “Sakola Istri” yang didirikan oleh Siti Jenab sebagai sekolah Kristen dengan mengajarkan pengetahuan yang diajarkan di sekolah-sekolah Barat, antara lain mengajarkan tulis menulis dengan menggunakan huruf latin, bukan dengan huruf arab.[3]
Pendidikan yang diberikan di Sakola Istri Siti Jenab sebenarnya tidak hanya diajarkan membaca, menulis dan berhitung. Pelajaran lain seperti agama, memasak, menjahit, kesenian (tembang/mamaos), musik, dan taritarian tradisional) menjadi tambahan ilmu pengetahuan dan keterampilan bagi para muridnya. Apa yang diajarkan Siti Jenab ini pada masa sekarang dapat dikategorikan sebuah model pendidikan vokasi.[3]
Sekolah Keutamaan Istri
Pada tahun 1906 di Cianjur dibuka "Sakola Kautamaan lstri" yang didirikan oleh Bupati R. Muharam Wiranatakusumah sebelum beliau dipindahkan ke Bandung. Sekolah ini bertempat di Kampung Joglo, tidak jauh dari gedung Kabupaten Cianjur, dan dipimpin oleh Siti Jenab. Sekolah Kautamaan Istri di Cianjur ini merupakan perpaduan antara "Sakola lstri" Raden Dewi Sartika dengan "Sekola Kautamaan Istri" Lasminingrat. Pada awal pembukaan sekolah tersebut, banyak sekali cemoohan dan ejekan, terutama dari orang-orang yang fanatik agama. Tetapi Raden Siti Jenab sebagai seorang guru dan pimpinan sekolah tersebut, tetap teguh dan berusaha terus menerobos segala rintangan. "Sakola Kautamaan Istri" dengan lama pendidikan 3 tahun di Cianjur itu merupakan Meisje Vervolgschool (sekolah lanjutan bagi perempuan), oleh karena itu murid-murid yang diterima di sekolah tersebut adalah anak-anak gadis yang telah tamat Sekolah Dasar 3 Tahun. Dengan kata lain, "Sakola Kautamaan Istri" Cianjur adalah sekolah lanjutan dari Sekolah Dasar 3 Tahun. Dengan demikian, murid-murid yang diterima di sekolah itu langsung masuk di kelas 4. Pelajaran yang diberikan pada dasarnya sama dengan pelajaran di Sekolah Raden Dewi Sartika, yaitu berhitung, menulis, bahasa Sunda, bahasa Belanda, bahasa Melayu, budi pekerti, agama, dan pengetahuan atau keterampilan wanita.[2]
Saat pertama kali dipimpin oleh Raden Siti Jenab, "Sekola Kautamaan lstri" Cianjur memiliki murid sebanyak 27, akan tetapi kemudian jumlah murid terus meningkat. Banyak murid lulusan Sekolah Kautamaan lstri Cianjur yang meneruskan sekolah ke Van Deventer School di Bandung, diantaranya Najmiati, Sarimaya, Kania, Romah Sutresna, Nunung Kurniasih, dan lain-lain. Bahkan Najmiati setelah tamat dari Van Deventerer School, melanjutkan ke Kweekschool di Salatiga. Saat ini gedung sekolah ini tetap berdiri, akan tetapi namanya pernah berganti-ganti. Pada zaman Jepang nama sekolah diganti menjadi Sekolah Rakyat Gadis. Setelah kemerdekaan namanya berubah menjadi Sekolah Rakyat, kemudian diganti lagi menjadi Sekolah Dasar Siti Jenab, sampai sekarang.[2]
Sekolah yang dipimpin oleh Raden Siti Jenab dapat masuk pada kategori jenis pendidikan keterampilan praktis, yakni pendidikan yang dilaksanakan untuk memberikan bekal keterampilan maupun kemampuan teknis tertentu bagi kaum perempuan agar bisa diaplikasikan dalam kehidupan masyarakat.[3]
Pengusulan menjadi pahlawan
Atas jasanya kepada dunia pendidikan dan memajukan perempuan, Raden Siti Jenab diusulkan menjadi pahlawan nasional oleh pakar sejarah Jawa Barat Profesor Nina Herlina Lubis bersama Lutfi Yondri dari Dewan Cagar Budaya Jabar, pada 14 Februari 2018. Usul ini diterima baik oleh Wakil Bupati Cianjur Herman Suherman dan sejumlah tokoh sejarah, budaya dan kesenian Cianjur [4]
Referensi
- ^ Nyi Rd Siti Djenab Djatradidjaja dari situs geni.com
- ^ a b c Ekajati, Edi S.; fiarsah, Iyan; Saputra, Sobana Hardja; Sulaeman, Eman (1998). SEJARAH PENDIDIKAN DAERAH JAWA BARAT (PDF). Jakarta: DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN RI. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ a b c d e Darmawan, Wawan (2018). "SITI JENAB DAN PENDIDIKAN PEREMPUAN INDONESIA" (PDF). Seminar Nasional Pengusulan Ibu Siti Jenab Sebagai Pahlawan Nasional. Universitas Suryakancana Cianjur.
- ^ Raden Siti Jenab Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional. dari situs republika
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


