Putroe Safiatuddin Cahya Nur Alam

Sulthanah Teungku Putroe Safiatuddin Cahya Nur Alam adalah salah satu keturunan dari Tuanku Raja Ibrahim bin Sultan Muhammad Daudsyah. Sebelum meninggal ia adalah seorang pewaris Kesultanan Aceh Darussalam yang terakhir.

Pada bulan November 2017, ia menerima plakat Pahlawan Nasional untuk Laksamana Keumalahayati yang diberikan oleh presiden Joko Widodo di Jakarta.[1]

Akhir Hidup

Pada masa tuanya, Tengku Putro Safiatuddin Cahya Nur Alam tinggal di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat bersama dengan anaknya. Ia meninggal pada tanggal 6 Juni 2018 di Rumah Sakit Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), sekitar pukul 06.45 WITA pada usia 85 tahun. Ia dimakamkan di sebelah kuburan ayahnya, Tuanku Raja Ibrahim di komplek Baperis, Banda Aceh.

Sebelum wafatnya, ia pernah meminta agar diberikan satu ruangan di salah satu gedung yang ada di komplek Baperis tersebut, tapi gubernur Irwandi Yusuf menawarkan untuk menggunakan salah satu ruangan di Meuligoe Aceh dengan alasan kepantasan.[2]

Salah satu wasiat yang ia berikan sebelum meninggal adalah agar rakyat Aceh selalu bersatu mewujudkan kedamaian dan kemakmuran. Ia juga berwasiat agar Aceh ini makmur damai dan tidak ada keributan.[3]

Referensi

  1. ^ Setyadi, Agus. "Sultanah Putroe, Pewaris Kesultanan Aceh Wafat di NTB". detiknews. Diakses tanggal 2025-06-25.
  2. ^ "In Memoriam - Sultanah Aceh Teungku Putroe Safiatuddin Itu Memang Ingin Berumah di Baperis". Serambinews.com. Diakses tanggal 2025-06-25.
  3. ^ "Wasiat Cucu Sultan Aceh Terakhir Sebelum Wafat: Rakyat Harus Bersatu". kumparan. Diakses tanggal 2025-06-25.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement