Putaran Miring Gerabah Melikan

Putaran Miring Gerabah Melikan adalah teknik tradisional dalam pembuatan gerabah yang berasal dari Desa Melikan, Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah. Ciri khas teknik ini terletak pada penggunaan alat putar yang diposisikan secara miring. Dalam prosesnya, perajin duduk secara menyudut dan menggerakkan meja putar dengan cara menendang bilah bambu yang terhubung oleh tali, sehingga menciptakan rotasi untuk membentuk gerabah. Teknik putaran miring diyakini telah berkembang sejak ratusan tahun silam dan diwariskan secara turun-temurun antar generasi perajin. Atas nilai sejarah dan kearifan lokal yang dikandungnya, teknik ini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia oleh Pemerintah pada tahun 2022.[1]

Sejarah

Aktivitas pembuatan gerabah di Desa Melikan, Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten, diduga telah berlangsung sejak masa prasejarah. Dugaan ini diperkuat oleh temuan arkeologis di situs prasejarah yang berlokasi di Dukuh Prengguk, Kelurahan Bogem, Kecamatan Tembayat, pada tahun 1979. Dalam ekskavasi tersebut ditemukan sebuah alat berupa tatap batu, yang diperkirakan digunakan oleh perajin masa prasejarah untuk menghaluskan permukaan gerabah.[2] Keahlian dalam membuat gerabah di Desa Melikan diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi. Proses pewarisan ini berlangsung dalam jalinan adaptasi masyarakat terhadap lingkungan alam sekitarnya, melalui perjalanan sejarah yang panjang. Hingga kini, perajin gerabah di desa tersebut masih mempertahankan penggunaan teknologi tradisional. Salah satu peralatan utama dalam proses pembentukan gerabah adalah putaran miring, yaitu alat putar manual yang menjadi ciri khas teknik produksi gerabah lokal.[3]

Teknik pembuatan gerabah

Teknik pembuatan gerabah di Desa Melikan menggunakan teknik metode tradisional putaran miring dalam pembuatan gerabah yang dilakukan oleh perajin dengan duduk di atas bangku rendah (dingklik). Posisi duduk perajin cenderung menyilang atau menyerong, dengan kedua kaki diluruskan ke arah samping. Salah satu kaki digunakan untuk mengayuh pedal yang berfungsi memutar alat putar (perbot), sehingga memungkinkan pembentukan tanah liat secara simetris sesuai bentuk yang diinginkan. Teknik ini memerlukan keterampilan dan koordinasi tubuh yang baik, serta telah menjadi bagian dari warisan teknik kerajinan tradisional di berbagai daerah.[4]

Dalam teknik putaran miring, lempung atau tanah liat ditempatkan di atas alat pemutar miring (perbot) yang terbuat dari kayu keras seperti jati atau mahoni. Alat tersebut dirancang dengan mekanisme pedal, pegas, dan tali, sehingga dapat berfungsi sebagai papan putar untuk membentuk gerabah. Setelah lempung dibentuk sesuai dengan desain yang diinginkan, permukaannya dipoles dan dilapisi dengan tanah merah sebagai pewarna alami. Tahapan ini diikuti dengan proses pengeringan awal, penghalusan permukaan, dan pengeringan ulang hingga diperoleh bentuk akhir yang siap untuk dibakar.[5]

Proses pembakaran dilakukan pada suhu antara 600 hingga 700 derajat Celsius selama kurang lebih 10 hingga 12 jam. Tahap ini merupakan proses akhir yang menjadikan gerabah memiliki struktur yang kuat dan permanen sebelum didistribusikan kepada pengepul atau pembeli. Selain dari teknik pemutaran yang khas, keunikan gerabah asal Desa Melikan juga terletak pada warna akhir produknya, yakni cokelat kemerahan, yang muncul sebagai hasil dari proses pembakaran tersebut.[5]

Rujukan

  1. ^ Haq, Arina Zulfa Ul. "Menengok Putaran Miring Gerabah Klaten yang Jadi Warisan Budaya Tak Benda". detikjateng. Diakses tanggal 2025-06-19.
  2. ^ Laporan Survei Tembayat Jawa Tengah Tahun 1979 | Perpustakaan Balai Arkeologi D.I.Y.
  3. ^ Wahyuningsih, Novita (2013). "KEBERADAAN ARTEFAK GERABAH DI DESA MELIKAN". Dewa Ruci: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni (dalam bahasa Inggris). 8 (2). doi:10.33153/dewaruci.v8i2.1103. ISSN 2685-287X.
  4. ^ "UMKM Klaten Sentra Gerabah Desa Melikan, Terkenal Punya Teknik Putaran Miring Satu-satunya di Dunia". Tribunsolo.com. Diakses tanggal 2025-06-19.
  5. ^ a b Nur, Azizzah, Lulu (2022). "GERABAH BAYAT DIPRODUKSI PADA MASA PANDEMI TEKNIK PUTAR MIRING PADA GERABAH BAYAT". Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement