Puri Agung Jro Kuta

Puri Agung Jro Kuta adalah kompleks bangunan bersejarah yang terletak di Jalan Sutomo Nomor 38, Denpasar, Bali, Indonesia.[1] Puri ini merupakan tempat tinggal keluarga kerajaan yang memiliki garis keturunan langsung dengan Kerajaan Klungkung. Puri ini juga merupakan pengempon Pura Luhur Uluwatu, salah satu pura Sad Kahyangan di Bali.[2]
Sejarah
Puri Agung Jro Kuta didirikan sekitar tahun 1820 Masehi oleh Anake Agung Gede Kahuningan yang berasal dari Kerajaan Klungkung. Beliau adalah putra bungsu dari Ida I Dewa Agung Wirya Putra I Kusamba, Raja Klungkung ke-VI yang memerintah sejak 1790 - 1809. Selain alasan perkawinan dengan salah satu bangsawan dari Kerajaan Badung, Anake Agung Gede Kahuningan juga dipercaya dikirim ke badung sebagai pacek upasaksi/duta Kerajaan Klungkung untuk mengawasi kesetiaan para raja-raja Badung terhadap raja Klungkung seperti halnya Ida Cokorda Oka Gelgel yang dikirim ke Mengwi pada 1770 untuk mengawasi pemerintahan Kerajaan Mengwi.[3]
Sejarah Puri Agung Jro Kuta juga tidak lepas dari peristiwa Puputan Badung yang terjadi di tahun 1906. Pada 16 September 1906, I Gusti Ngurah Alit Gede bersama pasukannya gugur di dekat Sanur ketika menghadang pasukan Belanda yang ingin memasuki Denpasar.[4] Begitu pula I Gusti Ngurah Agung, turut berjuang bersama masyarakat melawan pasukan Belanda di Denpasar pada 20 September 1906.[5]
Tata letak
Tata letak Puri Agung Jro Kuta tidak berubah sejak pertama kali didirikan. Puri Agung Jro Kuta mempunyai bagian pekarangan. Di dalam pekarangan terdapat empat gapura berukuran besar. Posisi gapura berbeda-beda dan tidak satupun yang ditempatkan berdekatan secara sejajar. Keempat gapura ini dalam bahasa Bali disebut sebagai Nyatur Singa yang meliputi Jaba, Saren Agung, Suci dan Merajan Agung. Bagian Jaba di bagi lagi menjadi Jaba Ancak Saji, Jaba Tengah, dan Jaba Tandeng. Jaba Ancak Sanji menjadi jalan dan pintu masuk menuju ke keraton. Lokasi Jaba Ancak Sanji berada di bagian barat daya Puri Agung Jro Kuta. Jaba Tandeng merupakan tempat berkumpul. Dahulu, Jaba Tandeng digunakan sebagai ruang tamu raja. Namun kemudian berubah fungsi menjadi tempat upacara keagamaan. Saren Agung digunakan sebagai tempat tinggal. Sedangkan Suci dan Merajan Agung merupakan tempat sembahyang keluarga yang mendiami atau tinggal di sekitar puri.[3]
Tradisi
Di dalam puri ada tradisi yang dilaksanakan turun-temurun oleh keluarga Kerajaan Klungkung yaitu tradisi menenun. Alat tenun yang digunakan memakai alat tenun tradisional, Bahan pembuatan alat tenun dari kayu yang ditebang pada usia tua.[3]
Tradisi lainnya adalah, sebagai penanda identitas wangsa Kesatria Dalem Kepakisan, keturunan Puri Agung Jrokuta memperoleh izin khusus dari Raja Klungkung, Ida I Dewa Agung Surawirya Putra II, untuk melestarikan tradisi penggunaan Nagabanda dalam setiap upacara pelebon (ngaben) di lingkungan puri. Izin ini dimaksudkan untuk membedakan mereka dari puri-puri lain di wilayah Badung yang berasal dari wangsa Kesatria Arya.
Referensi
Catatan kaki
- ^ Gubernur Bali. "Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 10 Tahun 2015 tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah Provinsi Bali Tahun 2015-2029" (PDF). bphn.go.id. hlm. 37. Diakses tanggal 15 Juli 2021.
- ^ Dinas Pariwisata Kota Denpasar. "Puri Agung Jro Kuta". denpasartourism.com. Diakses tanggal 16 September 2021.
- ^ a b c Dinas Pariwisata Kota Denpasar (19 Februari 2020). "Jro Kuta Palace". pariwisata.denpasarkota.go.id. Diakses tanggal 15 Juli 2021.
- ^ Helen Creese, Darma Putra, Henk Schulte Nordholt 2006, hlm. 118.
- ^ Helen Creese, Darma Putra, Henk Schulte Nordholt 2006, hlm. 119 dan 122.
Daftar pustaka
- Helen Creese, Darma Putra, Henk Schulte Nordholt (2006). Seabad Puputan Badung, Perspektif Belanda dan Bali. Pustaka Larasan. ISBN 979-3790-12-1. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


