Purbawinangun, Plumbon, Cirebon

Purbawinangun
Negara Indonesia
ProvinsiJawa Barat
KabupatenCirebon
KecamatanPlumbon
Kode Kemendagri32.09.18.2011 Suntingan nilai di Wikidata
Peta
PetaKoordinat: 6°42′46″S 108°27′59″E / 6.71278°S 108.46639°E / -6.71278; 108.46639

Purbawinangun adalah sebuah desa di Kecamatan Plumbon, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Indonesia. Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Plumbon dan Desa Kebarepan, sebelah Barat berbatasan dengan Desa Kasugengan Lor, sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Lurah, dan sebelah Timur berbatasan dengan Desa Marikangen. Sebelum menjadi desa tersendiri, Purbawinangun sebelumnya masuk wilayah Desa Plumbon, Kecamatan Plumbon.

Adalah seorang pemuda dari Demak yang bernama Pangeran Purbaya datang di Cirebon bermaksud ingin mendalami/ berguru ilmu agama Islam kepada Syeikh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati.

Pemuda itu diterima menjadi muridnya Sunan Gunung Jati.setelah lama pemuda itu berguru sampai pada waktu yang dianggap telah cukup dalam berguru, Pangeran Purbaya diberi tugas oleh sang guru untuk mendirikan sebuah pedukuhan (perkampungan) sambil menyebarkan agama Islam ke arah barat.

Maka berangkatlah Pangeran Purbaya ke arah barat dari Caruban. Setelah lama berjalan sampailah Pangeran Purbaya di suatu daerah yang dianggap pantas untuk dijadikan sebuah pedukuhan (daerah itu masih berupa hutan belantara) segeralah Pangeran Purbaya dibantu oleh beberapa anak buahnya untuk menebang pohon hutan tersebut.

Tak lama kemudian berubahlah hutan tersebut menjadi sebuah pedukuhan dengan masyarakatnya yang telah memeluk agama Islam, berkat syiar Islam yang disampaikan oleh Pangeran Purbaya.

Pangeran Purbaya adalah seseorang yang dikenal penuh kasih sayang serta suka menolong kepada sesama dengan hati yang tulus ikhlas tanpa pamrih, itulah sebabnya banyak orang datang untuk meminta pertolongan kepada Pangeran Purbaya. Nama Pangeran Purbaya terkenal hingga ke daerah Pasundan.

Karena orang Pasundan percaya bahwa Pangeran Purbaya bisa memberikan pertolongan untuk mengobati orang yang sakit maupun yang lainnya, muncullah istilah kalau kata kata orang yang agung (sakti) dengan istilah Idu Bacin (air liur yang bau) dan orang pasundan menyebut nya cai biuk.

Idu Bacin adalah merupakan sanepa arti sebenar nya yaitu : Idu : Air ludah Bacin : Bau tak sedap seperti bau bangkai.Tetapi istilah idu bacin di atas adalah rasa rendah hati bagi orang agung itu. Setelah membacakan doa kemudian meniupkan pada air putih yang untuk obat itu.Terkadang air liurnya muncrat/ nyembur. Oleh karena itu daerah tempat tinggal Raden Purbaya diberi nama Cibiuk (berasal dari kata cai biuk) kemudian berkembang menjadi desa Cibiuk.

Ketika masa penjajahan Belanda (tahun 1921) desa Cibiyuk digabungkan menjadi 1 dengan pemerintahan desa Plumbon. 61 tahun lamanya desa Cibiyuk menjadi 1 dengan pemerintah desa Plumbon dan pada tahun 1982, melalui beberapa rapat tetua yang bertempat di rumah salah satu Tetua Desa (ibu Renesih) terjadi pemekaran menjadi 2 yaitu yang di sebelah utara tetap masuk wilayah desa Plumbon sedangkan yang di sebelah selatan (desa cibiyuk) membentuk desa baru yang diberi nama Desa Purbawinangun.

Adapun yang pernah menjabat Kuwu Desa Purbawinangun adalah:

(A).Nama nama kuwu Cibiyuk yang dapat diketahui yaitu

1. KH Kasan (kuwu) 1873-1902

2. Ki Katas (kuwu) 1902-1921

(B).Nama nama kuwu Cibiyuk digabungkan dengan Plumbon oleh Pemerintah Belanda yaitu

1. Muharam 1928-1938 Lurah Cantilan

2. Katim 1938-1942 Lurah Cantilan

3. Sugito 1942-1944 Lurah Cantilan

4. Muh. Tohir s 1944-1946 Lurah Cantilan

5. Maritan 1946-1964 Lurah Cantilan

6. Karsa 1964-1966 Lurah Cantilan

7. Karija S 1966-1982 Lurah Cantilan

(C).Nama nama kuwu purbawinangun yaitu

1. Usnama Dirat (Pjs) 1982-1984

2. Kuwu Karija S 1984-1993

3. Sarwan (Pjs) 1993-1994

4. Kuwu Renesih Kentas 1995-2003

5. Kuwu Nuryadi WS 2003-2013

6. Kuwu Rusmana 2013-2019

7. Tuti Widiastuti, Spd 2019-2027

Sebelum listrik masuk desa, ada Kesenian tradisional yaitu SINTREN yang dikoordinasi oleh Mang Juri seorang seniman kampung. Sintren adalah salah satu kesenian daerah Cirebon yang digandrung saat itu.

Seiring pertumbuhan ekonomi sekarang ini, di Desa Purbawinangun berdiri beberapa pabrik industri Rotan, dimana dengan adanya industri rotan tersebut, menyerap tenaga kerja yang ada baik dari warga Desa Purbawinangun itu sendiri maupun warga sekitarnya, sehingga mengurangi angka pengangguran. Tumbuh juga UMKM di antaranya konveksi, kuliner dan lain-lain.

Sumber Sejarah

http://disbudparporakabcirebon.blogspot.com/2014/12/sejarah-asal-usul-desa-purbawinangun.html

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement