Pura Meru Lombok

Pura Meru

Pura Meru Lombok adalah sebuah pura yang dibangun pada tahun 1720 dan merupakan salah satu pura Hindu Bali tertua di Pulau Lombok. Pura ini terletak di Kecamatan Cakranegara, Kabupaten Lombok Barat, Kota Mataram. Pura ini sangat sakral dan menjadi kebanggaan warga Lombok, dan sangat cocok untuk wisata sejarah dan religi. Mengunjungi Pura Meru ini tidak dipungut biaya, dan pengunjung cukup memberi donasi seikhlasnya serta dapat dikunjungi mulai dari jam 8 pagi hingga jam 6 sore WIT, 8°35′16″S 116°07′53″E / 8.587654°S 116.131399°E / -8.587654; 116.131399[1][2]

Di halaman pura terdapat tetabuhan kayu yang berfungsi untuk memanggil atau mengundang masyarakat untuk melaksanakan kegiatan, seperti upacara agama atau festival kebudayaan. Pura Meru ini memiliki tiga bagian, pada halaman barat terdapat rumah “kulkul” atau kentongan, pada halaman tengah terdapat dua buah bangunan besar berundak yang berfungsi untuk menyusun sesaji untuk upacara dan sembahyangan. Sedangkan pada sebelah timur terdapat tiga buah menara dengan susunan atap yang khas dan unik, yakni sebelas susun pada menara tengah dan sembilan susun pada menara kiri dan kanan. Pura ini juga dijadikan simbol alam semesta dan penghormatan kepada tiga dewa utama umat Hindu, yakni Brahma, Wishnu, dan Siwa.

Di seberang Pura Meru ini, terdapat Taman Mayura yang memiliki kolam mengelilingi sebuah bangunan di tengahnya. Bangunan tersebut dinamakan Bale Kembang yang berfungsi untuk mengadili suatu perkara pada masa penjajahan Belanda. Dulunya, taman ini disebut dengan Taman Kelepug. Nama Kelepug diambil dari suara jatuhnya air di telaga taman tersebut. Sedangkan Mayura sendiri berarti Burung Merak, sebab dulunya banyak berkeliaran burung merak di sekitar kolam.[3]

Deskripsi

Menara dari pura ini berbentuk limas dengan atap tumpang atau bersusun dan akan semakin mengecil di bagian puncaknya. Model atapnya merupakan simbolisasi tingkatan lapisan alam yaitu bhuana agung (alam besar atau makrokosmos) dan bhuana alit (alam kecil atau mikrokosmos), dari bawah ke atas.[1]

Meru Siwa memiliki ukuran lebih tinggi dibandingkan dua meru lainnya. Berdiri di atas pondasi bata setinggi 3 meter dengan ukuran 5 meter x 5 meter, Meru Siwa menjulang setinggi 18,26 meter, beratap ijuk dan bersusun 11 lapis, dan diapit oleh Meru Brahma dan Wisnu yang beratap genting dengan tinggi bangunan lebih pendek, sekitar 15 meter dan bersusun sembilan.

Seperti halnya Meru Siwa, pondasi kedua meru ini setinggi 3 meter dengan ukuran 4,3 meter x 4,3 meter. Ketiga meru tersebut juga mewakili tiga gunung yang dianggap suci oleh pemeluk Hindu. Meru Brahma mewakili Gunung Agung di Bali, Siwa mewakili Gunung Rinjani di Lombok, dan Wisnu diwakili oleh Gunung Semeru di Jawa Timur.

Ketiga meru tersebut juga memiliki arti simbol warna yang bermakna. Pada perayaan piodalan (acara untuk mengingat lahir kembalinya pura), setiap meru akan dihiasi dengan kain yang disesuaikan dengan warna yang berbeda. Meru Brahma akan dihiasi dengan warna merah yang berarti api, simbol kematian umat Hindu yang dikremasi menggunakan api.

Meru Siwa menggunakan kain berwarna putih yang merupakan simbol air untuk mensucikan abu hasil kremasi sebelum dibuang ke laut. Sedangkan Meru Wisnu akan dihiasi dengan kain hitam yang melambangkan kegelapan atau kehidupan baru setelah kematian. Meru-meru ini terdapat di halaman jero pura atau disebut juga sebagai utama mandala, satu dari empat bagian dari Pura Meru Cakranegara yang ditandai dengan adanya halaman-halaman luas. Bagian lainnya adalah madya mandala, nista mandala, dan legar mandala.

Setiap bagian tadi diberi pembatas tembok bata merah tanpa plester setinggi 3-4 meter dengan ketebalan mencapai 80 sentimeter. Tiap bagian pada pura dihubungkan dengan pintu bergapura (gelung kori) dan arca raksasa (pemedal alit) pada tengah-tengah tembok pembatas. Pintu-pintu serupa dengan ukuran lebih kecil juga dibuat pada sisi utara-selatan dari tembok pembatas. Termasuk di bagian depan pura, tak jauh dari Kori Agung, sebagai jalur masuk-keluar umat dan turis.

Halaman utama mandala berukuran 42,5 meter x 42,5 meter dan menjadi inti dari Pura Meru Cakranegara. Selain tiga menara, terdapat pula bale dan padmasaran untuk para pemimpin upacara persembahyangan.

Ada juga 29 pondokan mini tiang enam berkelir putih dengan atap ijuk yang berderet dari utara ke selatan di sepanjang dinding pembatas Utama Mandala. Pondokan mini ini dikenal sebagai sanggar, melambangkan 29 banjar di sekitar pura yang ikut membantu pembangunannya di masa lampau. Ketika upacara Pujawali atau Usadha, umat dari 29 banjar akan menghias sanggar mereka di Pura Meru ini.

Di bagian madya mandala yang berukuran sama dengan utama mandala, terdapat bale petandakan dan bale gong. Beberapa pohon cempaka dan kamboja ukuran besar ikut menghijaukan madya mandala ini.

Nista mandala serta lengar mandala posisinya seolah bersatu karena tidak ada tembok pembatas. Kori Agung terletak di lengar mandala dan menjadi penghubung antara madya mandala dan utama mandala. Pura Meru dapat menampung hingga 5.000 umat Hindu di Lombok dan menjadi pusat persembahyangan saat ritual-ritual keagamaan seperti Pujawali, Galungan, dan Kuningan.

Uniknya, di sisi selatan terdapat bangunan Masjid Nurul Falah dengan dua menaranya yang menyembul di antara rimbunan pepohonan sekitar pura. Sebuah jalan kampung berdasar cone block selebar dua meter menjadi pemisah antara masjid dan pura.

Masjid yang kini dibangun ulang berlantai dua itu sudah ada sejak masa raja terakhir Kerajaan Karangasem Mataram, Anak Agung Anglurah Gede Ngurah Karangasem yang memerintah antara 1870-1894. Ia dikenal sebagai pemimpin yang toleran dan menjaga keberagaman. Anak Agung Anglurah Gede Ngurah Karangasem beristrikan perempuan Muslim Sasak, Dinda Aminah yang kemudian berganti nama menjadi Nawangsasih.

Referensi

  1. ^ a b "Pura Meru dan Kerukunan Beragama di Lombok". indonesia.go.id. Diakses tanggal 22 Nov 2025.
  2. ^ "Pura Meru, Mengawali Perjalanan Menuju Rinjani". kompas.com. Diakses tanggal 22 Nov 2025.
  3. ^ "25 Tempat Wisata di Lombok yang Wajib Dikunjungi, Selain 3 Gili". kompas.com. Diakses tanggal 22 Nov 2025.

Lihat juga

Pranala luar


Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement