Pramoedya Ananta Toer
Artikel ini membutuhkan rujukan tambahan agar kualitasnya dapat dipastikan. |
| Pramoedya Ananta Toer | |
|---|---|
Pramoedya Ananta Toer | |
| Lahir | Pramoedya Ananta Mastoer 6 Februari 1925 Jiken, Blora, Hindia Belanda |
| Meninggal | 30 April 2006 (umur 81) Jakarta, Indonesia |
| Kebangsaan | Indonesia |
| Pendidikan | Filsafat • Sosiologi • Sejarah |
| Almamater | Universitas Islam Indonesia |
| Pekerjaan | Penulis (roman, novel, cerpen, esai, autobiografi, terjemahan) |
| Tahun aktif | Angkatan '45 |
| Organisasi |
|
| Karya terkenal | Tetralogi Buru |
| Gaya | Realisme |
| Suami/istri | [2] |
| Orang tua |
|
| Tanda tangan | |
| Penghargaan
| |
Pramoedya Ananta Toer (EYD: Pramudya Ananta Tur) (6 Februari 1925 – 30 April 2006) secara luas dianggap sebagai salah satu pengarang yang produktif dalam sejarah sastra Indonesia.
Karya tulis[butuh rujukan]
- Sepoeloeh Kepala Nica (1946), hilang di tangan Penerbit Balingka, Pasar Baru, Jakarta, 1947[3]
- Kranji–Bekasi Jatuh (1947), fragmen dari Di Tepi Kali Bekasi.
- Perburuan (1950), pemenang sayembara Balai Pustaka, Jakarta, 1949 (dicekal oleh pemerintah karena muatan komunisme).
- Keluarga Gerilya (1950).
- Tikus dan Manusia (1950), karya John Steinbeck yang diterjemahkan oleh Pramoedya Ananta Toer.
- Kembali pada Tjinta Kasihmu (1950), karya Leo Tolstoy yang diterjemahkan oleh Pramoedya Ananta Toer.
- Subuh: Tjerita-Tjerita Pendek Revolusi (1951), kumpulan 3 cerpen.
- Percikan Revolusi (1951), kumpulan cerpen.
- Mereka yang Dilumpuhkan (I & II) (1951).
- Bukan Pasar Malam (1951).
- Di Tepi Kali Bekasi (1951), dari sisa naskah yang dirampas Marinir Belanda pada 22 Juli 1947.
- Dia yang Menyerah (1951), kemudian dicetak ulang dan dimasukkan dalam kumpulan cerpen Cerita dari Blora.
- Cerita dari Blora (1952), pemenang karya sastra terbaik dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional, Jakarta, 1953
- Gulat di Jakarta (1953).
- Midah Si Manis Bergigi Emas (1954).
- Korupsi (1954).
- Perdjalanan Ziarah jang Aneh (1954), karya Leo Tolstoy yang diterjemahkan oleh Pramoedya Ananta Toer.
- Mari Mengarang (1955), tak jelas nasibnya di tangan penerbit di Jalan Kramat Raya, Jakarta.
- Ibunda (1956), karya Maxim Gorky yang diterjemahkan oleh Pramoedya Ananta Toer.
- Kisah Seorang Pradjurit Sovjet (1956), karya Mikhail Sholokhov yang diterjemahkan oleh Pramoedya Ananta Toer.
- Cerita dari Jakarta (1957), kumpulan cerpen.
- Cerita Calon Arang (1957).
- Sekali Peristiwa di Banten Selatan (1958).
- Dewi Uban: Opera Lima Babak (1958), karya He Tjing-Ce dan Ting Ji yang diterjemahkan oleh Pramoedya Ananta Toer.
- Asmara dari Russia (1959), karya Alexander Kuprin yang diterjemahkan oleh Pramoedya Ananta Toer.
- Kisah Manusia Sedjati (1959), karya Boris Polevoi yang diterjemahkan oleh Pramoedya Ananta Toer.
- Pertaruhan (1960), karya Anton Chekhov yang diterjemahkan oleh Pramoedya Ananta Toer bersama Koesalah Soebagyo Toer.
- Hoakiau di Indonesia (1960), dilarang oleh Pemerintah Indonesia pada masa Demokrasi Terpimpin (Orde Lama).
- Panggil Aku Kartini Saja I & II, (1963); bagian III dan IV dibakar Angkatan Darat pada 13 Oktober 1965.
- Kumpulan Karya Kartini, yang pernah dimuat di berbagai media; dibakar Angkatan Darat pada 13 Oktober 1965.
- Wanita Sebelum Kartini; dibakar Angkatan Darat pada 13 Oktober 1965.
- Gadis Pantai sebagai cerita bersambung rubrik lembar kebudayaan "Lentera" dalam harian "Bintang Timur" (1962-1965), bagian pertama trilogi tentang keluarga Pramoedya; terbit sebagai buku pada 1987; dilarang Jaksa Agung pada 1987; jilid kedua dan ketiga dibakar Angkatan Darat pada 13 Oktober 1965.
- Sejarah Bahasa Indonesia. Satu Percobaan (1964); dibakar Angkatan Darat pada 13 Oktober 1965.
- Realisme Sosialis dan Sastra Indonesia (1963).
- Lentera (1965), kumpulan tulisan yang pernah diterbitkan dalam rubrik lembar kebudayaan "Lentera". Tak jelas nasibnya di tangan penerbit di Jalan Pecenongan, Jakarta.
- Bumi Manusia (1980); roman pertama Tetralogi Buru, dilarang Jaksa Agung, 1981.
- Anak Semua Bangsa (1981); bagian kedua Tetralogi Buru, dilarang Jaksa Agung, 1981.
- Sikap dan Peran Intelektual di Dunia Ketiga (1981).
- Tempo Doeloe: Antologi Sastra Pra-Indonesia (ed.), (1982).
- Jejak Langkah (1985); bagian ketiga Tetralogi Buru, dilarang Jaksa Agung, 1985.
- Sang Pemula (1985); dilarang Jaksa Agung, 1985.
- Hikayat Siti Mariah, (ed.) atas karya Hadji Moekti, (1987); dilarang Jaksa Agung, 1987.
- Rumah Kaca (1988); bagian keempat Tetralogi Buru, dilarang Jaksa Agung, 1988.
- Memoar Oei Tjoe Tat, (ed.) Oei Tjoe Tat, (1995); dilarang Jaksa Agung, 1995
- Nyanyi Sunyi Seorang Bisu I (1995); dilarang Jaksa Agung, 1995.
- Arus Balik (1995).
- Nyanyi Sunyi Seorang Bisu II (1997).
- Arok Dedes (1999).
- Mangir (2000).
- Larasati (2000).
- Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer (2001).
- Cerita dari Digul (ed.), (2001)
- Menggelinding I, merupakan kumpulan tulisan awal Pramoedya Ananta Toer yang disunting oleh Astuti Ananta Toer. (2004)
- Jalan Raya Pos, Jalan Daendels (2005).
Filmografi
Pertengahan 1950-an, Pramoedya Ananta Toer pernah terjun ke dunia film meskipun singkat. Beberapa karyanya difilmkan. Nama Pram setidaknya muncul di tiga kredit film Katalog Film Indonesia.[4] Menurut Bahrum Rangkuti dalam Pramoedya Ananta Toer dan Karja Seninja (Gunung Agung, 1963), ada lima karya film yang melibatkan Pram; beberapa film yang dibuat berdasarkan tulisan/naskah Pram diantaranya;[5]
- Rindu Damai (1955), film ini ternyata diangkat dari novel terbesar Pram. Diadaptasi ke skenario oleh Djoko Lelono yang merupakan sutradara film tersebut. Nama Pramoedya ditulis sebagai penulis cerita (bersama penulis skenarionya).[6] Digarap di bawah label Anom Pictures dengan produser R. Bahroen. Selain sebagai penulis cerita, nama Pramoedya Ananta Toer dipasang di poster iklan sebagai salah satu materi utama promosi, tetapi judul karya sastra aslinya tidak disebutkan. Para pemainnya yaitu Ellya Rosa, Amran S. Mouna, Astaman, dan Sukarsih. Dalam iklan cetak koran Java-bode, 17 November 1955, film ini diiklankan sebagai "Kisah Pramudya Ananta Tur" dan iklan lainnya dalam koran De Nieuwsgier, 8 November 1955; "Pramudya Ananta Tur Biggest Novel" dan "The Best Picture of the Year" tanpa penyebutan judul karya asli.[6][7][8][9][10] Mengenai persoalan iklan film-film berjenis adaptasi pada era 1950-an, menurut Christopher Woodrich beberapa film mengiklankan tanpa/tidak secara langsung merujuk pada film-film ini sebagai adaptasi, juga tidak merujuk pada karya-karya yang diadaptasi, baik dengan judul atau dengan merujuk pada penulisnya (tanpa menyebutkan judul atau penulis karya sastra yang diadaptasi). Namun berbeda untuk kasus film Rindu Damai. Ajip Rosidi (1955b: 10) mencatat bahwa, dalam kasus Rindu Damai, iklan spanduk dengan bangga menyatakan peran Pramoedya Ananta Toer dalam menulis film, meskipun pengarang/penulis buku tersebut hanya menulis naskah cerita mentah/kotor (yang bisa dikatakan sebagai kerangka skenario) atas film yang dibuat. Popularitas penulis, yang sudah diakui di dalam negeri sebagai menguasai keahliannya, ditawari pembuat film ini kesempatan untuk menggunakan kekuatan budaya dan secara implisit berpendapat bahwa film mereka lebih baik daripada produksi lainnya. Melalui asosiasi film mereka dengan penulis atau karya tertentu, pembuat film dapat menggunakan kekuatan simbolis untuk mempromosikan kepentingan mereka sendiri. Mengenai keberhasilan atau kegagalan karya sastra yang diadaptasi ke film, Rosidi menuliskan kritikannya dalam artikel dua bagian tentang adaptasi film yang diterbitkan di majalah populer Kentjana. Berjudul "Tentang Sastera dan Tjeritera Film" tahun 1955. Artikel tersebut membahas adaptasi film secara umum dan adaptasi naskah cerita mentah/kotor film Djoko Lelono oleh Pram. Rosidi menyalahkan/mengutuk Rindu Damai sebagai kegagalan total. Film ini begitu buruk ditayangkan, ia menulis, bahwa: "Saja kira menuliskan kalimat ‘kisah pengarang tokoh internasional’ dalam reklame film itu, tjuma menodai nama Pramoedya Ananta Toer sadja, jang tentunja kemampuannja membangunkan tokoh2nja tidak tjuma sampai sekian" (Rosidi, 1955b: 10).[11] Selain tidak banyak dibahas orang, Pram sendiri juga tidak pernah membahas masa karyanya di dunia layar perak. Lalu senada dengan kritikan Ajip Rosidi, Pram sendiri ternyata tidak terlalu puas dengan hasil akhir film-film yang digarap berdasarkan naskah tulisannya. Dalam Nyanyi Sunyi Seorang Bisu I (1995: 160), Pram mengenang, "...Kemudian hubungan baru dengan dunia film, sekalipun ternyata kelak film-film yang dibuat itu sangat mengecewakan."[9]
- Peristiwa Surabaja Gubeng (1956), film drama ini diangkat dari cerita pendek Pram berjudul Gambir yang sekitar bulan Mei 1953, ketika Pram sedang tinggal di Amsterdam (atas sponsor dari Sticusa, sebuah yayasan kerjasama kebudayaan). Di kemudian hari Gambir masuk sebagai salah satu cerpen dalam buku Tjerita dari Djakarta: Sekumpulan Karikatur dengan Manusianja (1957). Djoko Lelono kembali terlibat dalam proyek ini dan berbagi kursi penyutradaraan dengan Jusman dan Hasan Basry RM. Jusman juga bermain sebagai pendukung. Film diproduksi oleh Z. Hanan di bawah label rumah produksinya sendiri, Z. Hanan Film Coy. Aktris Ellya, yang sudah dikenal sebagai Ellya Rosa, kembali bermain di film ini. Ia beradu peran dengan Ali Sarosa, Aminah Banowati, dan juga legenda film Tan Tjeng Bok, Udjang, Ardi HS, dan Boes Boestami.[6][7][8][9][12]
- Buruh Bengkel (1956), film yang digarap oleh sutradara Awaludin dan Rempo Urip. Oleh Bahrum Rangkuti menyebut bahwa alur film ini didasarkan pada cerita dari fragmen novel Gulat di Jakarta (1953). Hanya saja di kreditnya hanya menyantumkan Asrul Sani sebagai penulis naskah ceritanya. Meski begitu, nama Pram tidak dicantumkan dalam kredit. Produksi dilakukan oleh Persari Film, salah satu perusahaan produksi tua di Indonesia yang masih bertahan hingga sekarang. Para pemain yang terlibat antara lain Darussalam, Ermina Zaenah, Awaludin, Dhira Soehoed, A. Hadi, Astaman, Djauhari Effendi, dan M. Budhrasa.[6][7][8][9]
- Biola (1957), naskah film diadaptasi dari cerita pendek Pram berjudul Anak Haram, yang merupakan salah satu cerpen termuat dalam buku kumpulan cerpen Cerita dari Blora (1952). Film ini merupakan arahan dari penulis-sutradara-pelawak Waldemar Caerel Hunter alias S. Waldy, seorang lelaki Indo Jerman kelahiran Blitar, dan diproduksi oleh Jajasan Usaha Film Artis atau disingkat JUFA dengan produser J.J.F. Sitohang. Para pemain yang terlibat adalah Sofia W.D., A. Hamid Arief, Arfandi, Wahab Abdi, Piet Pello, W.D. Mochtar, Pala Manroe B.A., Rr Sumiati, Entjen Fatimah, Ellya Chandra, Iskandar Muda, Maya Dewi, Dedeh Rosmawaty, dan Frans Harahap.[6][7][8][9][13] Mengenai salah satu pemerannya yakni Sofia W.D. juga merupakan pejuang di Masa Revolusi. Setelah kemerdekaan Indonesia, ia lantas memilih aktif bergerak dalam barisan propaganda di Bandung. Lalu sembilan bulan setelah proklamasi ia bergabung dan mendaftarkan diri sebagai anggota Field Preparation (Persiapan Lapangan) bentukan tokoh intel Indonesia Kolonel Zulkifli Lubis. Ia diterima dan Sofia diberi pangkat sersan mayor. Begitu juga Wagino Dachrin Mochtar atau yang lebih dikenal sebagai W.D. Mochtar juga merupakan seorang anggota Field Preparation (FP) Yogyakarta yang tengah ditugaskan di palagan Karawang-Bekasi.[14][15]
- Midah Si Manis Bergigi Mas, mengenai film yang disebut produksi Titien Sumarni Film Coy, tidak ada satu pun referensi lain yang menyebutkan bahwa film ini pernah dibuat.[9]
| Tahun | Judul | Dikreditkan sebagai | Catatan |
|---|---|---|---|
| Penulis | |||
| 1955 | Rindu Damai | Cerita | |
| 1956 | Peristiwa Surabaja Gubeng | Cerita | |
| 1957 | Biola | Cerita | |
| 2019 | Bumi Manusia | Cerita | |
| Perburuan | Cerita |
Penghargaan
- 1988 PEN/Barbara Goldsmith Freedom untuk Penghargaan Menulis.
- 1989 The Fund untuk Penghargaan Kebebasan Berekspresi, New York, USA.
- 1992 English P.E.N Centre Award, Great Britain.
- 1992 Stichting Wertheim Award, Netherland.
- 1995 Ramon Magsaysay Award untuk Jurnalisme, Sastra, and Seni Komunikasi Kreatif.
- 1999 Doctor Honoris Causa dari Universitas Michigan.
- 1999 Chancellor's Distinguished Honor Award dari Universitas California, Berkeley.
- 2000 Chevalier de l'Ordre des Arts et des Lettres Republic of France.[16]
- 2000 11th Fukuoka Asian Culture Prize.
- 2004 Norwegian Authors' Union award untuk kontribusinya dalam dunia sastra dan perjuangannya untuk kebebasan berekspresi.
- 2004 Pablo Neruda Award, Chile
- 2005 Global Intellectuals Poll dari Prospect.
Lihat pula
Pranala luar
- (Indonesia) Pramoedya Ananta Toer: Dulu, Saya Tak Pernah Menyangka akan Menjadi Tua Diarsipkan 2006-05-15 di Wayback Machine. (Sinar Harapan)
- (Indonesia) Pramania: Dari Aktivis sampai Selebriti (Kompas)
- (Inggris) Pramoedya Ananta Toer, Visits America and Europe Diarsipkan 2006-01-14 di Wayback Machine.
- (Indonesia) Apa Itu Pramoedya? Diarsipkan 2006-09-19 di Wayback Machine.
- (Indonesia) Forum diskusi tentang Pramoedya Diarsipkan 2006-06-28 di Wayback Machine.
- (Indonesia) Detik-Detik Menjelang Pramoedya Ananta Toer Mengembuskan Napas Terakhir (Jawa Pos)
- (Indonesia) Lagu Darah Juang Iringi Kepergian Pramoedya Diarsipkan 2006-05-04 di Wayback Machine. (Tempo)
- (Indonesia) Obituari: Pramoedya Telah Pergi, Berangkatlah Polemik! Diarsipkan 2006-06-18 di Wayback Machine. (Kompas)
- (Inggris) Pramoedya Ananta Toer, 81, Indonesian Novelist, Dies (The New York Times)
- (Inggris) Nobel candidate Pramoedya dies (Yahoo News)
- (Jepang) Koleksi Buku Pramoedya Diarsipkan 2007-09-27 di Wayback Machine.
- (Indonesia) Forum Diskusi Pramoedya Pramoedya Diarsipkan 2008-08-16 di Wayback Machine.
- (Inggris) Ananta Toer page[pranala nonaktif permanen]
Referensi
Wikimedia Commons memiliki media mengenai Pramoedya Ananta Toer.
Wikiquote memiliki koleksi kutipan yang berkaitan dengan: Pramoedya Ananta Toer.
- ^ Toer, Koesalah Soebagyo; Toer, Soesilo (2009). Bersama Mas Pram : memoar dua adik Pramoedya Ananta Toer. Kepustakaan Populer Gramedia. ISBN 9789799101396.
- ^ Toer, Pramoedya (1997). Nyanyi Sunyi Seorang Bisu 2: Catatan-catatan Dari Pulau Buru. Lentera. ISBN 9789839960433.
- ^ Kecuali judul pertama, semua judul sudah disesuaikan ke dalam Ejaan Yang Disempurnakan.
- ^ "Filmografi untuk Pramoedya Ananta Toer". filmindonesia.or.id. Diakses tanggal 2018-08-31.
- ^ "Potret Lawas on Twitter". Twitter. Diakses tanggal 2018-08-31.
- ^ a b c d e "Documents: Filmographie indonésienne". Archipel (dalam bahasa Prancis). 5 (1): 59–102. 1973. doi:10.3406/arch.1973.1043. ISSN 0044-8613.
- ^ a b c d developer, metrotvnews. "Empat Film Adaptasi Karya Pramoedya Ananta Toer Sebelum Bumi Manusia". Metrotvnews.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2018-08-31. Diakses tanggal 2018-08-31.
- ^ a b c d "iNews Lifestyle :: Selain Bumi Manusia, Ini Karya-Karya Pramoedya yang Diangkat ke Film". iNews.ID (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari asli tanggal 2018-08-31. Diakses tanggal 2018-08-31.
- ^ a b c d e f "Jejak Pramoedya Ananta Toer di Layar Perak". Jejak Pramoedya Ananta Toer di Layar Perak. Diakses tanggal 2018-08-31.
- ^ "Rindu Damai (1955)". filmindonesia.or.id. Diakses tanggal 2018-08-31.
- ^ Christopher Woodrich. "Power and Adaptation: Film Adaptations from Novels in 1950s Indonesia | Cinema Poetica". cinemapoetica.com (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2018-09-01.
- ^ "Peristiwa Surabaja Gubeng (1956)". filmindonesia.or.id. Diakses tanggal 2018-08-31.
- ^ "Biola (1957)". filmindonesia.or.id. Diakses tanggal 2018-08-31.
- ^ "Sersan Mayor Bernama Sofia". Historia - Obrolan Perempuan Urban. Diakses tanggal 2018-08-31.
- ^ "Jalan Panjang Sofia". Historia - Obrolan Perempuan Urban. Diakses tanggal 2018-08-31.
- ^ "Indonesia's greatest modern writer Pramoedya Ananta Toer poses..." Getty Images (dalam bahasa American English). 2024-01-05. Diakses tanggal 2024-12-17.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


