Pindad SPR

Senapan Penembak Runduk SPR

SPR-1
Jenis Senapan runduk
Negara asal  Indonesia
Sejarah pemakaian
Digunakan oleh TNI, Polri
Sejarah produksi
Perancang Almando Catovil
Tahun 1980an (SPR-1)

2000an (SPR-2 dan SPR-3)

Produsen PT. Pindad
Varian SPR-1, SPR-2 dan SPR-3
Spesifikasi
Berat 16 kg (SPR-2)

6.94 kg (SPR-3)

Panjang 1,550 mm (SPR-2)

1,250 mm (SPR-3)


Peluru 7,62 × 51 mm

12,7 × 99 mm

Kaliber 7,62 × 51 mm NATO

12,7 × 99 mm NATO

Mekanisme Bolt-action
Jarak efektif 1000 - 1500 meter (SPR-1),

2000 meter (SPR-2), 2100 meter (SPR-3)

Amunisi Manual (SPR-1)

Magazen box isi 5 butir peluru (SPR-2), (SPR-3)

Alat bidik Teleskop, alat bidik optik dapat dipasang pada bagian reciever atas senapan

Senapan runduk SPR adalah singkatan dari Senapan Penembak Runduk produksi PT. Pindad, Indonesia. Senapan ini memungkinkan penembak untuk mengatur ketinggian posisi dan stabilitas senapan dengan cara mengatur bipod pada bagian bawah depan laras, melihat sasaran dengan alat bidik tipe teleskop menjadikannya senapan runduk dengan akurasi yang tinggi. Senapan runduk ini tersedia dalam tiga varian yaitu SPR-1 dan SPR-3 diisi dengan peluru kaliber 7,62 x 51 mm, sedangkan SPR-2 diisi dengan peluru kaliber 50 BMG atau 12,7x99mm.[1]

Pengguna

Sejarah

Pindad SPR-1 didesain pada tahun 1980an, lalu dikembangkan sejak tahun 2000 dan pada tahun 2003 resmi digunakan oleh pasukan TNI. di mana pada saat itu Indonesia mengalami sanksi embargo (arms embargoes), serta Pemerintah disaat yang sama juga melawan pemerintah Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang kemudian menerjunkan pasukan militer ke Aceh dan Pemberontakan di Aceh pun meletus.

Pindad SPR-2 diperkenalkan pada tahun 2007 kepada khalayak publik, termasuk Wakil Presiden Jusuf Kalla. Serta untuk Pindad SPR-3 resmi diperkenalkan pada tahun 2010 untuk menggantikan SPR-1. Saat ini, SPR-1 dipakai hanya untuk latih menembak saja.

Senapan ini diciptakan untuk menjawab kebutuhan militer Indonesia akan jenis senapan runduk dengan kemampuan tinggi dan harga yang lebih terjangkau [2] jika dibandingkan senapan runduk seperti senapan runduk Zastava M93 Black Arrow buatan Yugoslavia.

Varian

Pindad SPR-2 dan SPR-3 tampil di pameran alutsista dalam rangka perayaan hari ulang tahun ke 80 Tentara Nasional Indonesia.

SPR-2

Spesifikasi dasar dari senapan SPR-2 hampir sama dengan tipe SPR-1 dengan masih mengadopsi sistem mekanisme bolt action akan tetapi memiliki fitur yang lebih baik dari versi sebelumnya antara lain memiliki magazine chamber, posisi popor yang dapat diatur, dan kemampuan menembus plat baja setebal dua sentimeter dalam jarak 1000 meter. Hal ini dimungkinkan karena SPR-2 menggunakan peluru kaliber .50 BMG sebagaimana yang digunakan oleh "Heavy Sniper Rifles" atau "Anti Material Rifles" lainnya. Dengan berat sekitar 16 Kg,[3] senapan ini juga memiliki dimensi yang sangat besar. Kendati terilhami produk-produk senapan antimaterial yang sudah ada, kehadiran SPR-2 cenderung desain sendiri dari PT Pindad. Walaupun pada sebagian sosok, masih mengambil desain dari senapan Zastava Black Arrow M93 buatan Serbia dan Denel NTW-20 buatan Afrika Selatan.

SPR-3

Memiliki fitur sama dengan SPR-2, hanya menggunakan peluru 7,62mm NATO. Jarak efektif sama dengan SPR-1, 700-1000m. Tergantung jenis peluru yang digunakan. Apabila menggunakan tipe AP (Armor Piercing), maka akan mampu menembus plat baja setebal 2mm pada jarak 500m

Catatan

  1. ^ Lua error in Modul:Citation/CS1/Configuration at line 2124: attempt to index a boolean value.
  2. ^ Lua error in Modul:Citation/CS1/Configuration at line 2124: attempt to index a boolean value.
  3. ^ Lua error in Modul:Citation/CS1/Configuration at line 2124: attempt to index a boolean value.

Referensi


Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement