Peusijuek dapu

Peusijuek Dapu adalah versi khusus dari tradisi peusijuek Aceh yang berarti “menyejukkan”. Tradisini ini ditujukan untuk mensucikan dan memberi berkah pada dapur rumah baru atau yang direnovasi. Peusijuek adalah adat istiadat warisan budaya Aceh yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya takbenda oleh Kemendikbud pada 2020.[1] Dengan adanya upcara ini, dapur yang sudah dibangun diharapkan dapat berumur panjang (rumah tangga atau usaha) dan di jauhkan dari segala marabahaya yang bisa menimpa kepada tuan rumah atau kepada setiap pengguna dapur.[2]

Peusijuek dapu dipimpin oleh tokoh agama atau adat seperti teungku atau imam meunasah. Dalam ritual, digunakan campuran air dan tepung tawar, beras atau ketan, serta daun-daunan seperti ôn sijue’, on manèk-mano, na-lêuang sambô, yang dicampurkan ke dalam air dan dipercikkan ke seluruh bagian dapur sebagai simbol pembersihan dan perlindungan.

Sejarah

Ritual adat Peusijuek telah mendarah daging dalam kehidupan masyarakat Aceh, diperkirakan telah dilakukan sejak masuknya Islam di bumi Serambi Mekkah. Dalam masyarakat Aceh, tradisi ini sudah berlangsung sejak masa Kesultanan Aceh Darussalam (abad ke-13), saat pedagang luar datang dan terus disesuaikan dengan nilai-nilai agama sepanjang abad ke-20. Tradisi ini juga telah beradaptasi dari ritual Hindu-Buddha sebelumnya, tetapi telah disesuaikan dengan nilai-nilai dan syariat Islam.[3]

Ritual peusijuek dapu berakar dari kepercayaan masyarakat Aceh untuk menenangkan atau membersihkan energi suatu ruang sebelum digunakan. Kata peusijuek sendiri berarti “mendinginkan” atau “menenteramkan”, yang secara spiritual diartikan sebagai memohon ketenangan jiwa dan keselamatan. Meski berakar dari tradisi pra-Islam, praktik ini telah diselaraskan dengan syariat Islam melalui pemimpin agama (teungku) yang memimpin doa dan ritual.[4]

Simbolisme dan nilai

Dalam tradisi peusijuek dapu, setiap unsur yang digunakan memiliki makna simbolis yang mendalam. Tepung tawar melambangkan kesucian, sementara air berfungsi untuk menyejukkan sisi spiritual seseorang. Beras atau ketan menggambarkan nilai kebersamaan, sedangkan daun-daunan mencerminkan perlindungan dan penyatuan dalam kehidupan bermasyarakat. Kehadiran nasi ketan juga mempertegas simbol perekat hubungan sosial antarindividu.[5]

Bahan dan cara membuat

Dalam pelaksanaan peusijuek dapu, sejumlah bahan utama digunakan untuk menjalankan ritual ini, yaitu tepung tawar (teupong taweue) yang dicampur dengan air, beras atau ketan berwarna putih atau kuning, serta daun-daunan tradisional seperti on sisijuek, manek manoe, dan naleung sambo. Daun-daunan tersebut digunakan sebagai alat untuk memercikkan air ke berbagai bagian dapur.[butuh rujukan]

Prosesi dimulai dengan mencampurkan air dan tepung tawar dalam sebuah wadah, lalu dilanjutkan dengan menaburkan beras atau ketan sebagai lambang kemakmuran. Setelah itu, air campuran tepung tawar dipercikkan ke seluruh bagian dapur dan peralatan memasak menggunakan bundelan daun-daunan tadi. Sebagai simbol ikatan keluarga, sedikit nasi ketan kemudian ditempelkan pada dinding atau alat dapur tertentu. Upacara ini ditutup dengan doa yang dipanjatkan untuk memohon keberkahan dan ketentraman bagi seluruh penghuni rumah.[6]

Daftar Referensi

  1. ^ "Peusijuek". budaya.data.kemdikbud.go.id. Diakses tanggal 17 Juni 2025.
  2. ^ Kompasiana.com (2020-07-29). "Belajar Menghargai Dapur dari Masyarakat Aceh". KOMPASIANA. Diakses tanggal 2025-06-17.
  3. ^ "Melihat "Peusijuek", Tradisi Leluhur Pengantar Keberangkatan Jemaah Haji Aceh". haji.kemenag.go.id. Diakses tanggal 2025-06-17.
  4. ^ "Tradisi Peusijuek Masyarakat Aceh dan Nilai-nilai Religi di Dalamnya". NU Online. Diakses tanggal 2025-06-17.
  5. ^ Daniswari, Dini (7 Juli 2022). "Upacara Adat Peusijuek: Sejarah, Tujuan, dan Tata Cara". Kompas.com. Diakses tanggal 17 Juni 2025.
  6. ^ "KONSEP PEUSIJUK PADA MASYARAKAT ACEH – Majelis Adat Aceh" (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-06-17.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement