Perselisihan (epistemologi)

Perselisihan sesama rekan (peer disagreement) merupakan salah satu isu penting dalam bidang epistemologi, cabang filsafat yang mempelajari hakikat pengetahuan, kepercayaan, dan pembenaran rasional. Isu ini membahas bagaimana seseorang seharusnya merespons ketika mengetahui bahwa orang lain, yang memiliki tingkat kemampuan dan informasi yang setara, tidak sependapat dengannya mengenai suatu keyakinan atau proposisi tertentu.[1]
Permasalahan ini menjadi penting karena menyentuh dimensi rasionalitas dan justifikasi keyakinan, yakni apakah seseorang tetap berhak mempertahankan keyakinannya ketika dihadapkan pada ketidaksepakatan dari pihak yang dianggap sama-sama rasional dan berinformasi sama baiknya. Dengan kata lain, isu ini menguji batas kepercayaan epistemik terhadap diri sendiri ketika dihadapkan dengan otoritas epistemik orang lain.
Tipe
Jenis-Jenis Ketidaksepakatan
Dalam literatur epistemologi, para filsuf umumnya membedakan dua bentuk utama ketidaksepakatan (disagreement):[2]
Ketidaksepakatan faktual (factual disagreement). Ketidaksepakatan ini menyangkut perbedaan keyakinan mengenai fakta objektif atau realitas empiris. Misalnya, perbedaan pandangan tentang apakah Bumi berbentuk bulat atau datar, atau apakah zat tertentu bersifat beracun atau tidak. Dalam kasus seperti ini, bukti empiris atau metode ilmiah sering dianggap sebagai cara yang dapat digunakan untuk menyelesaikan perbedaan tersebut. Ketidaksepakatan praktis (practical disagreement). Jenis ini menyangkut perbedaan pandangan mengenai tindakan yang seharusnya diambil atau keputusan yang tepat dalam situasi tertentu. Contohnya, perdebatan mengenai apakah seseorang sebaiknya berlibur ke Italia atau Yunani, atau apakah suatu kebijakan publik tertentu layak diterapkan. Ketidaksepakatan praktis biasanya melibatkan nilai, preferensi, atau pertimbangan moral selain aspek faktual.
Meskipun keduanya dapat menimbulkan ketegangan epistemik, diskusi filosofis mengenai peer disagreement lebih menyoroti kasus pertama, yakni ketidaksepakatan mengenai kebenaran proposisional, di mana kedua pihak dianggap setara secara epistemik (epistemic peers) — yaitu memiliki tingkat kecerdasan, kemampuan analitis, dan akses terhadap bukti yang kurang lebih sama.
Pendekatan terhadap Ketidaksepakatan
Para filsuf epistemologi mengembangkan dua pendekatan utama mengenai b[3]agaimana seseorang seharusnya merespons ketidaksepakatan dengan rekan epistemiknya, yakni pendekatan konsiliatoris (Conciliatory School) dan pendekatan teguh (Steadfast School).
- Aliran Konsiliatoris (Conciliatory School) Pandangan ini berargumen bahwa ketika seseorang mengetahui adanya perbedaan pendapat dari rekan epistemik yang setara, hal tersebut merupakan alasan epistemik yang kuat untuk mengurangi tingkat keyakinannya terhadap pendapat awalnya. Dengan kata lain, perbedaan pendapat itu sendiri merupakan bukti baru yang menandakan kemungkinan kesalahan pada salah satu pihak, termasuk dirinya sendiri. Tokoh-tokoh yang mendukung pendekatan ini sering menekankan pentingnya kerendahan epistemik (epistemic humility) dan revisi rasional terhadap keyakinan dalam menghadapi bukti yang bertentangan. Menurut pandangan ini, mempertahankan keyakinan sepenuhnya dalam situasi ketidaksepakatan justru dapat dianggap tidak rasional atau dogmatis.
- Aliran Teguh (Steadfast School) Sebaliknya, pendekatan ini berpendapat bahwa seseorang tidak wajib mengubah tingkat keyakinannya hanya karena mengetahui adanya ketidaksepakatan dari pihak lain, bahkan jika pihak tersebut setara secara epistemik. Para penganut aliran ini menegaskan bahwa setiap individu dapat secara rasional tetap memegang keyakinannya, selama ia memiliki dasar pembenaran yang memadai. Menurut pandangan ini, fakta bahwa seseorang tidak setuju bukanlah bukti langsung bahwa salah satu pihak salah, karena proses interpretasi bukti, latar belakang konseptual, atau cara menimbang alasan bisa berbeda tanpa mengurangi rasionalitas salah satu pihak.
Signifikansi Filsafati
Isu peer disagreement memiliki implikasi mendalam terhadap konsep rasionalitas, objektivitas, dan keadilan epistemik. Ia memunculkan pertanyaan-pertanyaan seperti:
- Apakah ketidaksepakatan antarindividu yang rasional menandakan kerelatifan kebenaran epistemik?
- Apakah mempertahankan keyakinan dalam menghadapi ketidaksepakatan berarti irasional atau justru menunjukkan konsistensi epistemik?
- Dan sejauh mana kepercayaan terhadap diri sendiri (self-trust) dapat dipertahankan tanpa mengabaikan otoritas epistemik orang lain?
Dalam konteks ini, diskusi tentang peer disagreement tidak hanya membahas perbedaan pendapat, tetapi juga menguji struktur normatif pengetahuan itu sendiri — yakni bagaimana seseorang seharusnya berpikir secara rasional dalam dunia di mana ketidaksepakatan di antara para ahli dan individu yang sama-sama berkompeten tidak dapat dihindari.
Referensi
- ^ Feldman, Richard; Warfield, Ted A., ed. (2010). Disagreement. Oxford: Oxford University Press. ISBN 978-0-19-922607-8.
- ^ Frances, Bryan (2020). Epistemology of Disagreement. Singapore: Springer Singapore. hlm. 1–5. ISBN 978-981-287-532-7.
- ^ Kelly, Thomas (2005-12-01). The Epistemic Significance of Disagreement. Oxford University PressOxford. hlm. 167–196. ISBN 978-0-19-928589-1.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


