Perdagangan budak Bukhara

Perdagangan budak Bukhara merujuk pada praktik perbudakan dan transaksi jual beli budak yang dilakukan di Kota Bukhara, salah satu kota di Keamiran Bukhara, sekarang wilayah Uzbekistan. Perdagangan budak di Bukhara telah terjadi sejak zaman dahulu dan bertahan hingga abad ke-19 Masehi. Bukhara dianggap sebagai pusat keislaman di Asia Tengah, sekaligus adalah salah satu kota paling penting di sepanjang Jalur Sutra.[1] Berbagai komoditas diperdagangkan melalui jalur bersejarah yang melewati Bukhara, mulai dari sutra yang menjadi eponim jalur perdagangan darat ini, logam, kosmetik, perhiasan, kain, hingga budak.[2]

Kota ini bersaing dengan Khiva dalam perdagangan budak. Perdagangan budak di kedua kota tampaknya sangat massif pada abad ke-15, hingga keduanya dijuluki oleh pelancong Inggris bernama Anthony Jenkinson sebagai ibu kota perbudakan dunia.[2] Jumlah budak yang diperjual belikan bisa mencapai 100.000 orang, sebagian besar beretnis Persia dan Russia.[2] Pada abad ke-19, perdagangan budak di Bukhara dikalahkan oleh Khiva dari segi banyaknya budak yang diperjualbelikan dan dinamika pasar. Namun, perdagangan budak di kedua kota tetap memiliki banyak kesamaan, termasuk soal siapa pelaku yang mengumpulkan para budak serta daerah atau latar belakang etnis orang-orang yang diperbudak.[3]

Asal suplai budak

Budak yang diperdagangkan di Bukhara dan Khiva disuplai oleh beberapa klan atau subsuku Turkmen, yang secara rutin menggelar alaman atau perburuan budak. Saking terkenalnya sub-subsuku Turkmen akan perbudakan, disebutkan bahwa mungkin apabila Nabi Muhammad bertemu dengan orang-orang Turkmen di jalan, beliau bisa saja turut ditangkap dan dijual sebagai budak.[2] Sasaran perburuan budak yang utama adalah para peziarah berbangsa Persia yang mengunjungi Masyhad serta komunitas etnik Rusia dan Jerman di sekitaran Pegunungan Ural.[3] Kedua sasaran ini, satunya adalah penganut Syiah dan lainnya adalah pemeluk Kristen, dipandang sebagai orang-orang yang layak untuk diperbudak dan perbudakan atas mereka diperbolehkan,[3] walaupun sebenarnya perbudakan dilarang dalam Islam.[2] Selain itu, ada pula budak dari India yang diperdagangkan sampai jauh ke Bukhara.[4]

Pada abad ke-19 saja ada tak kurang dari 1 juta orang Persia, serta orang Rusia yang jumlahnya tidak diketahui pasti yang dijual ke Asia Tengah, dengan Bukhara dan Khiva sebagai pusat perdagangannya.[5][6] Antara 20.000 hingga 40.000 budak diperkirakan berada di wilayah Bukhara pada 1821. Pada 1860an, jumlahnya sekitar 20.000 saja.[4]

Jual beli dan pemanfaatan

Para pembeli budak datang dari berbagai daerah di Asia Tengah, India, maupun Timur Tengah. Mereka menyambangi kota penting di Jalur Sutra ini dalam rangka membeli budak, yang menjadikan budak sebagai salah satu ekspor utama Bukhara.[2] Selain diekspor, penduduk Bukhara juga memperjualbelikan budak di antara sesama mereka. Budak wanita umumnya dijadikan pelayan maupun budak seks. Baron Meyendorff melaporkan bahwa tahun 1820, budak yang memiliki keahlian tertentu di bidang seni dihargai 100 tilla, sedangkan budak seks yang cantik dapat dibandrol hingga 150 tilla.[7]

Budak laki-laki dewasa ditempa menjadi ghilman atau tentara budak. Selain itu, budak dipergunakan secara luas di perkebunan.[4] Budak laki-laki remaja (15 tahun ke bawah) serta wanita yang dianggap cantik dijadikan selir dan bacha bazi bagi penguasan Keamiran Bukhara.[8] Saat Soviet menaklukkan Keemiran Bukhara, dilaporkan bahwa sang amir kabur membawa beberapa budak laki-laki remaja dan meninggalkan semua budak wanitanya.[8]

Penghapusan

Rusia menaklukkan Bukhara pada 1873 dan pada tahun yang sama menghapuskan perdagangan budak.[9]

Lihat pula

Referensi

  1. ^ Gangler, A.; Gaube, H.; Petruccioli first3=A. (2004). Bukhara, the Eastern Dome of Islam: Urban Development, Urban Space, Architecture and Population. Tyskland: Ed. Axel Menges. Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link)
  2. ^ a b c d e f The First English Explorer: The Life of Anthony Jenkinson (1529–1611) and His Adventures on the Route to the Orient. Matador. 2016. hlm. 121–123. ; ; Pemeliharaan CS1: Lokasi tanpa penerbit (link)
  3. ^ a b c Barisitz, S.  (2017). Central Asia and the Silk Road: Economic Rise and Decline Over Several Millennia. Tyskland: Springer International Publishing. hlm. 223.
  4. ^ a b c Dumper, M.; Stanley, B (2007). Cities of the Middle East and North Africa: A Historical Encyclopedia. Storbritannien: Bloomsbury Publishing. hlm. 95–97.
  5. ^ "Ichan-Kala | royal court, Khiva, Uzbekistan | Britannica". www.britannica.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 26 May 2023.
  6. ^ Mayhew, Bradley (1989). Fabled Cities of Central Asia: Samarkand, Bukhara, Khiva: Robin Magowan, Vadim E. Gippenreiter. Abbeville Press. ISBN 0896599647.
  7. ^ Levi, Scott C. (2002). "Hindus beyond the Hindu Kush: Indians in the Central Asian Slave Trade". Journal of the Royal Asiatic Society: 277–288. ; ;
  8. ^ a b Khan-Urf, R.  (1936). The Diary of a Slave. Storbritannien: S. Low. hlm. 41.
  9. ^ Becker, S (2004). Russia's Protectorates in Central Asia: Bukhara and Khiva, 1865–1924. Storbritannien. ; Pemeliharaan CS1: Lokasi tanpa penerbit (link)

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement