Perang dan genosida
Kajian perang dan genosida adalah suatu bidang interdisipliner yang mengidentifikasi dan menganalisis hubungan antara perang dan genosida, serta fondasi struktural dari konflik-konflik yang terkait. Disiplin yang terlibat dapat mencakup ilmu politik, geografi, ekonomi, sosiologi, hubungan internasional, dan sejarah. Terdapat konsensus umum di antara para sarjana bahwa masalah perang dan genosida saling terkait erat karena keduanya sering muncul bersamaan. Namun, terdapat berbagai pemikiran dan perspektif teoretis mengenai topik ini, karena kajian tersebut terus menjadi subjek analisis dan perdebatan ilmiah.[1]
Latar belakang historis
Norman Naimark menulis:
Sepanjang sejarahnya, genosida memiliki hubungan yang sangat erat dengan perang. Bahkan selama masa damai, ancaman perang atau kebutuhan yang tampak untuk mempersiapkan diri menghadapi perang dapat memicu situasi genosida. Perang bukanlah prasyarat bagi terjadinya genosida, dan genosida tidak harus terjadi selama perang. Namun demikian, genosida paling sering dikaitkan dengan niat, kebijakan, dan tindakan pada masa perang. Hal ini sama benarnya pada masa kuno maupun masa kini. Faktanya, penurunan umum dalam kejadian perang dan konflik sipil selama berabad-abad tidak diragukan lagi berkontribusi pada menurunnya kejadian genosida.[2]
Survei atas kasus-kasus abad ke-20, yang sering dianggap sebagai “Era Genosida”, menunjukkan bahwa ketika genosida dilakukan, hal itu terjadi bersamaan dengan beberapa bentuk konflik bersenjata.[3] Genosida Armenia, Holocaust Yahudi, Genosida di Pakistan Timur, Genosida Maya, Genosida Kurdi, Genosida Tutsi, dan Genosida Bosnia masing-masing terkait dengan Perang Dunia Pertama, Perang Dunia Kedua, Perang Pembebasan Bangladesh, Perang Saudara Guatemala, Perang Iran–Irak, Perang Saudara Rwanda, dan Perang Bosnia. Para sarjana juga mengamati tren ini memasuki abad ke-21, karena Genosida Darfur dan Genosida Yazidi juga terkait dengan konflik yang sedang berlangsung di Sudan Barat dan Irak. Pengamatan-pengamatan ini membuat banyak orang menyimpulkan bahwa genosida umumnya terjadi pada masa perang atau sebagai respons terhadap konflik bersenjata.[4]
Para sarjana juga menyoroti diperkenalkannya konsep-konsep seperti mobilisasi massa, gerakan politik massa, media massa, dan pendidikan massa[3] sebagai preseden penting bagi konsep genosida abad ke-20. Paul Bartrop mengamati bahwa semua kasus genosida abad ke-20 disertai dengan obsesi jangka panjang dari pihak pelaku terhadap perbedaan fisik, sosial, atau budaya kelompok korban yang dianggap sebagai ancaman begitu besar sehingga pelaku percaya bahwa pemusnahan massal adalah satu-satunya solusi.[3]
Referensi
- ^ Cushman, Thomas (2000-04). "Genocide or civil War?: Human rights and the politics of conceptualization". Human Rights Review (dalam bahasa Inggris). 1 (3): 12–14. doi:10.1007/s12142-000-1018-7. ISSN 1524-8879.
- ^ Naimark, Norman M. (2017). Genocide: a world history. The New Oxford world history. New York, NY: Oxford University Press. ISBN 978-0-19-976527-0.
- ^ a b c Bartrop, Paul (2002-12). "The relationship between war and genocide in the twentieth century: A consideration". Journal of Genocide Research (dalam bahasa Inggris). 4 (4): 519–532. doi:10.1080/146235022000000445. ISSN 1462-3528.
- ^ Straus, Scott (2012-09). ""Destroy Them to Save Us": Theories of Genocide and the Logics of Political Violence". Terrorism and Political Violence (dalam bahasa Inggris). 24 (4): 544–560. doi:10.1080/09546553.2012.700611. ISSN 0954-6553.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


