Perang Banten–Belanda (1633–1635)
Perang Banten–Belanda kembali terjadi lagi sekitar tahun 1633 hingga tahun 1635 dengan diakhiri kesepakatan damai pada tahun 1639. Perang ini terjadi karena Belanda melakukan blokade terhadap pelabuhan Banten yang mengakibatkan kerugian bagi Banten,[1][2][3] Mengetahui hal itu rakyat Banten melakukan perampokan, pembunuhan, dan pengrusakan di Batavia,[4][3] Mendengar hal ini gubernur Batavia mengirimkan ekspedisi kewilayah Banten, Namun ekspedisi ini gagal karena Banten melakukan pembakaran terhadap kapal Belanda.[5][6][7]
| Perang Banten–Belanda (1633–1635) | |||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| |||||||
| Pihak terlibat | |||||||
|
|
| ||||||
| Tokoh dan pemimpin | |||||||
|
|
| ||||||
Latar belakang
Pada tahun 1632 Belanda hendak memaksa Banten untuk memonopoli perdagangannya, Namun Sultan Banten menolak hal itu dengan tegas. Karena Belanda sangat ingin memonopoli perdagangan Banten yang sangat ramai, Belanda melakukan blokade di Laut Jawa dengan menyerang kapal Cina yang akan mendarat di Banten.[4][3] Sultan Banten yang mendengar hal ini langsung menyuruh rakyatnya agar melakukan Perampokan, perompakan, dan pembunuhan terhadap kapal Belanda yang melewati Banten.[3][8] Gubernur Batavia pun membalas aksi itu dengan mengirimkan ekspedisi ke Lampung, Tanara, dan Anyer.[3] Tidak hanya itu, Belanda juga melakukan blokade terhadap pelabuhan Banten.[1][2][8]
Jalannya pertempuran
Melihat banyaknya perampokan dan pengrusakan oleh pihak Banten, Gubernur Batavia mengirimkan beberapa ekspedisi ke beberapa wilayah Banten.
Ekspedisi Belanda
Belanda mengirimkan ekspedisi ke wilayah Banten seperti Lampung, Tanara, dan Anyer,[1][2][8] kebanyakan dari ekspedisi itu dimenangkan oleh Banten karena saat itu Belanda sedang lemah akibat bertempur dengan Mataram.[9] Setelah itu VOC mengirimkan lagi ekspedisi untuk mengepung Surosowan, Maka Banten mengadakan blokade secara menyeluruh atas pelabuhan Banten.[9]
Pertempuran Tanara
Pada tanggal 5 Januari 1634, kapal VOC yang berada di Tanara berhasil digagalkan oleh Tubagus Singaraja. sedangkan pengepungan yang berada di Pelabuhan Banten baru dapat digagalkan dengan taktik baru oleh Wangsadipa.[9][2][10]
Peristiwa Pabaranang
Lalu kapal VOC yang sudah dekat dengan Surosowan segera di tangani dengan cara membakar kapal-kapal itu,[9] pembakaran itu terjadi dalam 2 sesi, yang pertama pada 4-5 Januari, dan yang kedua pada tanggal 10-10 Januari. dengan begitu pengepungan Banten oleh VOC dapat digagalkan.[2][10][11][9].Peristiwa ini disebut dengan "Peristiwa Pabaranang" atau "Binrêranang".[12]
Penyerangan pedagang Banten di Maluku
Pangeran Anom menyebut bahwa penyerangan ini sampai ke Timur, Yaitu disekitar Maluku, bahwa pedagang Banten yang berada disana pun mendapatkan serangan dari Belanda,[7][13] yang mengakibatkan kerugian bagi perdagangan Banten.
Akhir pertempuran
Bagaimanapun juga, peperangan besar maupun kecil ini sangat merugikan Belanda, Terlebih lagi saat itu Belanda sedang berperang melawan Mataram dan Makassar, Jadi mereka harus melakukan gencatan senjata agar bisa kembali pulih, perdamaian pun ditandatangani pada bulan Mei tahun 1639.[14][9][2]
Referensi
- ^ a b c Agus Prasetyo 2019, hlm. 86.
- ^ a b c d e f Djajadiningrat 1983, hlm. 189.
- ^ a b c d e Sejarah Kesultanan Banten dari masa ke masa. kesultananbanten.id. 2017.
- ^ a b Adung 2021, hlm. 128.
- ^ Titik Pudjiastuti 2015, hlm. 139.
- ^ Djajadiningrat 1983, hlm. 39.
- ^ a b Agus Prasetyo 2021, hlm. 87.
- ^ a b c Adung 2021, hlm. 129.
- ^ a b c d e f Michrob, Halwany, A. Mudjahid Chudari 1989, hlm. 88.
- ^ a b Agus Prasetyo 2019, hlm. 74.
- ^ Titik Pudjiastuti 2015, hlm. 336.
- ^ Sêrat Bantên, British Library (Add MS 12304), 1787, #1036 (Pupuh 01–13). sastra.org. 2023.
- ^ Titik Pudjiastuti 2007, hlm. 23.
- ^ Agus Prasetyo 2021, hlm. 87-88.
Sumber
- Titik Pudjiastuti, (2007), Perang, dagang, persahabatan: surat-surat Sultan Banten, Yayasan Obor Indonesia, ISBN 979-461-650-8.
- Agus Prasetyo. 2019. Raja Sufi dari Kesultanan Banten: Sultan Abul Mafakhir Mahmud Abdul Kadir (1596-1651 M). Program studi sejarah dan peradaban Islam fakultas adab dan humaniora Universitas Islam negeri syarif hidayatullah Jakarta
- Djajadiningrat, Hosein. 1983. Tinjauan kritis tentang sajarah Banten: sumbangan bagi pengenalan sifat-sifat penulisan sejarah Jawa. Jakarta: Djambatan
- Michrob, Halwany, A. Mudjahid Chudari. 1989. Catatan masalalu Banten. Serang: Pengurus Daerah Tingkat II Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kapubaten Serang
- Adung. 2021. Sejarah Sumur Sentul : Tapak Tilas Atau Petilasan Para Ulama Dan Pejuang Kemerdekaan. GUEPEDIA.
- Pudjiastuti, Titik. 2015. Menyusuri Jejak Kesultanan Banten. Jakarta: Wedatama Widya Sastra.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


