Perahu Tradisional Ijon-Ijon Lamongan
Perahu Ijon-Ijon adalah perahu tradisional khas daerah Lamongan, terutama bagi penduduk daerah pesisir. Seperti Brondong dan Kandangsemangkon yang mata pencahariannya sebagai nelayan. Bentuknya Perahu ijon-ijon digunakan penduduk pantura untuk mencari ikan di laut. karena Perahu ijon-ijon biasa disebut "Perahu Wedok", dalam bahasa Jawa wedok artinya perempuan. Ijo-Ijon berasal dari kara ijol atau bergantian, nelayan biasanya memakai modal dulu baru dikembalikan saat mereka mendapatkan ikan.[1][2]
Sejarah dan Asal Usul
Keberadaan perahu ijon-ijon di Desa Kandangsemangkon dikenal luas dan kerap dikaitkan dengan peristiwa tenggelamnya Van Der Wijck, kapal uap milik Koninklijke Paketvaart-Maatschappij (KPM) yang karam di perairan Lamongan, sekitar 12 mil dari Pantai Brondong, pada 20 Oktober 1936. Selain peristiwa tersebut, tradisi pembuatan perahu juga dihubungkan dengan kisah Surosiro, seorang perantau asal Madura yang pada sekitar tahun 1890 berlayar menggunakan perahu berlayar bagor (goni) dan mendarat di wilayah pesisir utara Jawa (Pantura). Kedatangannya disebut-sebut turut memperkenalkan aktivitas pelayaran dan ekspedisi laut kepada masyarakat setempat. Berdasarkan cerita yang berkembang di masyarakat, konstruksi perahu kemudian dibakukan oleh para leluhur sebagai pola dasar pembuatan perahu tradisional. Salah satu bentuk yang dikenal ialah den jon, ijon-ijon, atau jonjong.[1]
Ciri Khas dan Fungsi
Perahu ijon-ijon dikonotasikan masyarakat sebagai perahu “perempuan” (wedok), dengan ciri haluan dan buritan yang cenderung tumpul (papak) serta badan perahu yang gemuk. Pada bagian tertentu terdapat ragam hias simbolis seperti topeng, mata, alis, sanggul (gelung), mahkota (rambut), dan motif bunga. Secara fungsional, perahu ini digunakan untuk menangkap, menyimpan, menampung, mengangkut, serta mendinginkan atau mengawetkan ikan hasil tangkapan nelayan.[1][2]
Selain itu, pada bagian bodi perahu terdapat ragam hias berupa simbol topeng, mata, alis, sanggul, mahkota, dan bunga. Setiap bagian perahu memiliki sebutan tersendiri sesuai dengan istilah lokal yang digunakan oleh para perajin. Seiring perkembangan zaman, kemampuan produksi masyarakat setempat juga mengalami peningkatan. Jika pada awalnya galangan hanya mampu membuat perahu berkapasitas 2–3 GT (gross tonnage), kini perajin telah dapat membangun perahu hingga berkapasitas sekitar 30 GT.[2]
Galangan dan Teknik Pembuatan
Galangan kapal yang memproduksi perahu ijon-ijon di Desa Kandangsemangkon umumnya bersifat nonformal dan tidak berbadan hukum. Usaha ini dikelola secara perorangan, dengan keahlian yang diperoleh secara otodidak, berdasarkan pengalaman, serta diwariskan secara turun-temurun. Peralatan yang digunakan pada awalnya tergolong sederhana dan minim sentuhan teknologi modern, meskipun dalam perkembangannya sebagian pengrajin telah memanfaatkan peralatan yang lebih modern. Tahapan produksi perahu memiliki perbedaan dibandingkan galangan di daerah lain, terutama dalam teknik pembangunan lambung. Papan lambung disusun terlebih dahulu hingga mencapai ketinggian tertentu, kemudian dilanjutkan dengan pemasangan gading-gading (kerangka perahu).[1]
Keberlanjutan Produksi
Perahu ijon-ijon tetap diproduksi dan bertahan hingga kini di Desa Kandangsemangkon. Keberlanjutan tersebut didukung oleh sejumlah faktor, antara lain lokasi galangan yang strategis di kawasan pesisir serta berada di jalur jalan raya Daendels Surabaya–Semarang–Jakarta, ketersediaan sarana komunikasi dan listrik, serta keberadaan sumber daya manusia berupa para tukang pembuat perahu yang masih aktif.[1]
Penetapan sebagai Warisan Budaya
Pada tahun 2022, Pemerintah Indonesia telah menetapkan nama karya budaya "Perahu Tradisional Ijon-Ijon Lamongan" sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia atau intangible cultural heritage dalam domain Kemahiran dan Kerajinan Tradisional. Penetapan tersebut dilakukan melalui Surat Keputusan Menteri Kebudayaan Republik Indonesia No SK: 414/P/2022, dengan kode referensi AA001665.[1]
Referensi
- ^ a b c d e f kita, budaya (2022). "perahu ijon-ijon". https://referensi.data.kemendikdasmen.go.id/budayakita/wbtb/objek/AA001665. Diakses tanggal 2026-02-08.
- ^ a b c Arfah, Hamzah; Kurniati, Pythag (28 November 2021). "Mengenal Perahu Tradisional Ijon-ijon Lamongan yang Diajukan sebagai Warisan Budaya Nasional". Kompas.com. Diakses tanggal 22 Februari 2026.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


