Penggunaan media digital dan kesehatan jiwa
Hubungan antara penggunaan media digital dan kesehatan jiwa telah diselidiki oleh beragam peneliti—kebanyakan di antaranya psikolog, sosiolog, antropolog dan pakar medis—terutama sejak pertengahan dasawarsa 1990-an setelah pertumbuhan World Wide Web. Sejumlah besar penelitian telah mendalami fenomena kecanduan yang umumnya dikenal sebagai "kecanduan digital" atau "ketergantungan digital". Fenomena ini telah berkelindan dalam banyak komunitas dan budaya lewat jalur yang berbeda-beda. Beberapa pakar telah menyelidiki manfaat penggunaan media digital yang cukup dalam pelbagai sisi, termasuk dalam kesehatan jiwa, dan perawatan masalah kesehatan jiwa dengan penyelesaian teknologi baru.
Batas antara penggunaan media digital yang bermanfaat dan patologis sendiri belum ditetapkan. Tidak ada kriteria diagnosis yang diterima secara luas, walaupun beberapa pakar menganggap terlalu berlebihan sebagai manifestasi dari gangguan jiwa yang mendasarinya. Pencegahan dan perawatan penggunaan media digital patologis juga tidak dibakukan, walaupun pedoman penggunaan media yang lebih aman bagi anak dan keluarga telah dikembangkan. Pedoman Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition (DSM-5) tidak mencakup diagnosis untuk penggunaan internet bermasalah, penggunaan media sosial bermasalah, kecanduan penggunaan ponsel cerdas, dan kecanduan permainan video, sedangkan revisi kesebelas Klasifikasi Penyakit Internasional (ICD-11) mengakui kecanduan permainan video. Banyak pakar masih berdebat cara dan kapan mendiagnosis keadaan ini. Penggunaan istilah kecanduan untuk merujuk kepada fenomena dan diagnosis ini juga dipertanyakan.
Media digital dan waktu layar telah mengubah cara anak-anak berpikir, berinteraksi, dan berkembang dengan cara yang positif dan negatif, tetapi peneliti tidak pasti mengenai keberadaan hubungan sebab-akibat yang dihoptesiskan antara penggunaan media sosial dan hasil kesehatan mental. Kaitan tersebut bergantung kepada individu dan platform yang mereka gunakan. Beberapa perusahaan teknologi besar telah membuat komitmen atau mengumumkan strategi untuk mengurangi risiko penggunaan media digital.
Sejarah dan terminologi

Hubungan antara teknologi digital dan kesehatan mental telah diselidiki dari banyak perspektif.[1][2][3] Manfaat penggunaan media digital dalam perkembangan anak-anak dan remaja telah ditemukan.[4] Kekhawatirkan telah diangkat oleh peneliti, dokter, dan masyarakat sehubungan dengan perilaku kompulsif pengguna media digital, karena korelasi antara penggunaan teknologi berlebihan dan masalah kesehatan jiwa menjadi jelas.[1][5][6]
Terminologi yang digunakan untuk merujuk kepada perilaku penggunaan media digital tidak dibakukan atau diakui secara umum. Istilah tersebut di antaranya "kecanduan digital", "ketergantungan digital", "penggunaan bermasalah", atau "penggunan berlebihan", yang sering digambarkan oleh platform media digital yang digunakan atau sedang dipelajari (seperti kecanduan penggunaan ponsel cerdas atau kecanduan penggunaan internet).[7] Penggunaan perangkat teknologi yang tidak terkendali dapat berpengaruh kepada perkembangan, sosial, mental, dan fisik serta berujung pada gejala yang mirip dengan sindrom ketergantungan psikologis atau kecanduan perilaku.[8][6] Fokus pada penggunaan teknologi bermasalah dalam penelitian, terutama dalam kaitannya terhadap paradigma kecanduan perilaku, menjadi lebih diterima, terlepas dari pembakuan yang lemah dan penelitian yang saling bertentangan.[9]
Kecanduan internet telah diusulkan sebagai diagnosis sejak pertengahan 1990-an dan media sosial dan hubungannya dengan kecanduan telah diuji sejak 2009. Laporan Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) tahun 2018 mencatat manfaat penggunaan internet yang terstruktur dan terbatas pada anak-anak dan remaja untuk tujuan perkembangan dan pendidikan, tetapi penggunaan yang berlebihan dapat berdampak negatif pada kesejahteraan mental. Ini juga mencatat peningkatan 40% secara keseluruhan dalam penggunaan internet pada anak-anak usia sekolah antara 2010 dan 2015, serta bahwa negara-negara OECD yang berbeda telah menandai variasi dalam tingkat penggunaan teknologi masa kanak-kanak, serta perbedaan dalam platform yang digunakan.[10]
The Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (Diagnosis dan Panduan Statistik Gangguan Kejiwaan) belum secara resmi mengodifikasikan penggunaan media digital yang bermasalah dalam kategori diagnosis, tetapi dianggap gangguan permainan internet sebagai kondisi untuk studi lebih lanjut pada tahun 2013. Gangguan permainan, umumnya dikenal sebagai kecanduan video game, telah diakui dalam ICD-11. Berbagai rekomendasi dalam DSM dan ICD sebagian disebabkan oleh kurangnya konsensus ahli, perbedaan dalam penekanan dalam manual klasifikasi, serta kesulitan menggunakan model hewan untuk kecanduan perilaku.[8]
Kegunaan dari istilah kecanduan (addiction) sehubungan dengan penggunaan media digital yang berlebihan telah dipertanyakan, sehubungan dengan kesesuaiannya untuk menggambarkan kategori psikiatrik baru yang dimediasi secara digital, yang bertentangan dengan penggunaan yang berlebihan sebagai manifestasi dari gangguan kejiwaan lainnya.[2][3] Penggunaan istilah ini juga telah dikritik karena menggambar paralel dengan perilaku penggunaan narkoba. Penggunaan istilah yang ceroboh dapat menyebabkan lebih banyak masalah — baik mengecilkan risiko bahaya pada orang yang terkena dampak serius, maupun risiko berlebihan penggunaan media digital yang non-patologis.[3] Evolusi terminologi yang menghubungkan penggunaan media digital yang berlebihan dengan penggunaan yang problematis daripada kecanduan didorong oleh Panova dan Carbonell, psikolog di Universitas Ramon Llull, dalam sebuah tinjauan tahun 2018.[11]
Psikologi Siber
Penggunaan Internet yang makin marak di zaman sekarang ini mendorong manusia untuk menciptakan suatu dunia di dalam media dengan tingkah laku dan interaksi yang baru. Hal inilah yang kemudian mendorong munculnya psikologi siber (cyberpsychology). Psikologi Siber sendiri sudah ada sejak pertengahan tahun 1990-an, tetapi baru bisa dikatakan mencuat di dekade akhir ini. Psikologi Siber diartikan sebagai studi yang mempelajari tingkah laku ataupun interaksi manusia yang terjadi di dunia maya. Banyak sekali fenomena yang ada dalam psikologi siber, misalnya, cyberbullying, online dating, gaming, dan lainnya.[12]
Kerangka Teoretis
1. Teori Regulasi Diri
Self-Regulation Theory menjelaskan bahwa kecanduan media sosial dapat terjadi ketika individu gagal mengendalikan dorongan internal dan tidak mampu mengatur perilaku penggunaan media secara sadar. Hasil penelitian[13] yang menunjukkan adanya korelasi negatif antara regulasi diri dan adiksi media sosial mendukung asumsi teori ini, yaitu bahwa semakin lemah kemampuan seseorang dalam mengatur perhatian, emosi, dan waktu, semakin besar kecenderungannya untuk menggunakan media sosial secara berlebihan. Rendahnya regulasi diri membuat individu lebih mudah terjebak pada kepuasan instan yang ditawarkan media sosial, seperti notifikasi, "like," dan umpan balik sosial, sehingga memperkuat perilaku adiktif. Sebaliknya individu dengan regulasi diri yang tinggi mampu menunda gratifikasi, menetapkan batas waktu penggunaan, dan lebih adaptif dalam mengelola kebutuhan sosialnya di dunia digital. Individu dengan kemampuan regulasi diri rendah memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk mengalami gejala depresi akibat penggunaan media sosial berlebihan.[14]
2. Teori Ketergantungan Media
Dalam Media System Dependency Theory, ketika individu terus-menerus bergantung pada media sosial untuk mencari informasi, hiburan, dan relasi sosial merupakan tanda-tanda awal dari kecanduan media sosial. Media sosial menjadi semakin merugikan individu dalam memengaruhi caranya berpikir, berperilaku, dan meregulasi emosi ketika ketergantungan ini semakin meningkat. Akibatnya, individu secara bertahap mengalami kesulitan dalam mengontrol penggunaan media sosial, merasa cemas ketika tidak terhubung, dan menjadikan media sebagai sumber utama validasi diri serta regulasi emosional.[15]
3. Teori Sistem Penghargaan dan Dopamin Digital
Dalam teori ini, perilaku adiktif terhadap media sosial dipengaruhi oleh penggunaan sistem penghargaan dopamin di otak secara berulang, khususnya pada area Ventral Tegmental Area (VTA) dan nucleus accumbens. Algoritma media sosial yang menampilkan konten secara personalisasi menstimulasi sistem ini dengan memberikan rangsangan visual dan emosional yang tidak terduga, sehingga memicu pelepasan dopamin dan menciptakan sensasi kesenangan instan. Proses ini memperkuat perilaku scrolling media sosial secara berulang melalui proses penguatan loop, yang dalam jangka panjang dapat menurunkan sensitivitas terhadap reward alami dan mengarah pada perubahan struktur otak, seperti penurunan volume materi abu-abu. Akibatnya, pengguna cenderung mengalami kesulitan mengendalikan keinginan untuk terus menggunakan media sosial serta penurunan kapasitas atensi. Dengan demikian, algoritma media sosial berperan sebagai penyebab eksternal yang memperkuat siklus dopamin digital.[16]
4. Model Uses and Gratifications
Individu termasuk para influencer pendidikan menggunakan media sosial untuk memenuhi kebutuhan psikologis dan sosial tertentu.[17] Namun, ketika kepuasan yang diperoleh mendapatkan penguatan perilaku berulang yang didukung oleh reward sosial digital, fenomena ini dapat berubah menjadi kecanduan. Dengan demikian, Use and Gratification memberikan kerangka motivasional awal yang penting untuk memahami akar psikologis dari kecanduan media sosial.[18] dalam artian lebih lanjut bahwa kecanduan media sosial berakar pada pemenuhan kebutuhan psikologis yang terus-menerus diperkuat oleh interaksi digital, hingga pola penggunaan bergeser dari kebutuhan fungsional menjadi ketergantungan emosional.
Dampak Negatif
Penggunan media sosial yang berlebihan memicu banyak hal negatif dalam berbagai aspek kehidupan. Salah satu dampak dari segi kesehatan mental yaitu penurunan kesehatan mental yang meliputi depresi, stress, dan kecemasan berlebih karena banyaknya informasi yang diterima.[19] Banyaknya informasi yang diterima dapat menyebabkan seseorang kehilangan kontrol diri. Seseorang yang mengalami kesulitan dalam kehidupan nyata akan merasa cemas berlebihan, stress, dan berujung ke arah depresi akibat dari kebanyakan informasi dari media sosial yang diterima. Penurunan kesehatan mental ini disebabkan oleh kelelahan akibat bermain di media sosial melebihi waktu ideal.
Orang yang menggunakan media sosial lebih dari dua jam sehari lebih mungkin menderita kesehatan mental daripada orang yang menghabiskan kurang dari dua jam per harinya. Selain pada kesehatan mental, penggunaan media sosial yang melebihi waktu ideal juga dapat berdampak pada produktivitas.[20] Semakin kuat regulasi diri yang dimiliki, semakin rendah kecanduan dalam penggunaan media sosial. Penelitian ini menunjukkan bahwa semakin kita dapat meregulasi diri dengan baik, seperti mengontrol diri untuk tidak berlama-lama bermain media sosial, kita dapat mencegah terjadinya kecanduan media sosial. Regulasi diri juga berhubungan dengan produktivitas, jika seseorang yang meregulasi dirinya rendah, produktivitas yang dilakukan juga rendah. Orang yang sudah kecanduan media sosial akan melupakan waktu, dari waktu belajar, makan, bahkan mandi pun mereka akan sangat berat untuk meninggalkan media sosialnya.[21]
Faktor yang Memengaruhi
Faktor internal
1. FoMO (Fear of Missing Out): Merupakan rasa takut tertinggal informasi atau peristiwa penting, sehingga individu terdorong untuk terus terhubung dengan media sosial. [22]
2. Kepribadian:
a. Keterbukaan (Openness): Seseorang yang memiliki pikiran yang fleksibel, imajinatif, kreatif, dan suka mencoba hal baru.
b. Ketelitian (Conscientiouness): Seseorang yang terstruktur, rajin, fokus pada tujuan, bertanggung jawab, dan berhati-hati dalam bertindak.
c. Ekstroversi (Extraversion): Seseorang yang antusias, komunikatif, energik dalam suatu perkumpulan.
d. Keramahan (Agreeableness): Seseorang yang ramah, kooperatif, altruistik, dan memiliki jiwa sosial yang tinggi.
e. Neurotisisme (Neuroticism): Seseorang dalam mengatur stabilitas emosionalnya yang mudah khawatir, tegang, sensitif, dan mudah merasakan emosi lainnya. [23]
3. Kesepian dan Kebosanan: Ketika individu merasa tidak memiliki hubungan sosial yang memadai, media sosial dijadikan pelarian untuk mengisi kekosongan tersebut. Kebosanan yang dirasakan, terutama dalam situasi yang tidak menyenangkan, mendorong individu untuk menggunakan media sosial secara berlebihan sebagai bentuk distraksi.[24]
4. Kecemasan Sosial: Social anxiety atau kecemasan sosial keadaan individu dengan kecemasan sosial lebih nyaman berinteraksi secara virtual daripada langsung, sehingga meningkatkan penggunaan media sosial sebagai sarana komunikasi dan ekspresi diri.[25]
Faktor Eksternal
- Faktor lingkungan sosial: Faktor eksternal yang paling berdampak terhadap kecanduan media sosial pada remaja adalah lingkungan sosial. Mulai dari lingkungan keluarga dalam memberi pengawasan terhadap anak dalam menggunakan media sosial, serta pola asuh dalam membiasakan komunikasi anak dengan keluarga dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, faktor lingkungan pertemanan memberikan pengaruh kebiasaan di era digital ini, sebagian remaja mengikuti teman-temannya agar tidak merasa tertinggal atau terasing. [26][27]
- Faktor motivasi: Memiliki motivasi tentunya akan membuat tujuan hidup yang lebih jelas. Motivasi dapat membantu dalam mencari arah dan makna hidup, sehingga berpengaruh pada pencapaian diri dan penghargaan diri.
- Faktor pendidikan: Pentingnya literasi pendidikan terkait pemahaman dan arahan dalam menggunakan media sosial.
Strategi dan Pencegahan
Dalam perkembangan era digital saat ini, tentunya media sosial merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan seseorang dan pastinya memiliki dampak yang negatif, oleh karena itu di setiap dampak yang negatif, pasti terdapat beberapa cara atau strategi untuk mencegah dan menangani kecanduan media sosial atau social media addiction pada remaja:
a. Cognitive Behavioral Therapy (CBT): Salah satu intervensi efektif untuk mengatasi kecanduan media sosial adalah terapi perilaku kognitif (CBT). Pendekatan ini telah menunjukkan manfaat yang signifikan bagi remaja yang berjuang melawan penggunaan media sosial yang berlebihan. CBT dapat membantu individu mengidentifikasi dan mengubah pola pikir dan perilaku tidak sehat yang terkait dengan aktivitas daring mereka. Dengan menumbuhkan pemikiran yang lebih adaptif, CBT memungkinkan remaja untuk mengenali pemicu penggunaan media sosial mereka dan mengembangkan strategi koping yang lebih sehat. Melalui proses ini, mereka dapat belajar mengelola impuls dan membuat pilihan yang lebih sadar terkait interaksi digital mereka, yang pada akhirnya mengurangi dampak negatif media sosial terhadap kehidupan mereka.
b. Mindfulness dan self regulation: Selain terapi CBT, teknik seperti pelatihan mindfulness dan self regulation juga terbukti efektif dalam mengelola kecanduan media sosial. Praktik mindfulness mendorong individu untuk lebih menyadari pikiran, perasaan, dan perilaku mereka saat ini. Peningkatan kesadaran ini dapat membantu remaja mengenali kapan mereka menggunakan media sosial kompulsif. Strategi self regulation termasuk menetapkan batasan khusus pada diri sendiri dalam penggunaan media sosial.
c. Keterlibatan orang tua: Intervensi yang efektif untuk mengatasi kecanduan media sosial seringkali melibatkan partisipasi aktif dari orang tua untuk mendorong remaja dalam menetapkan batasan dan memantau penggunaan media sosial remaja secara signifikan dan tentunya akan mengurangi risiko kecanduan.
d. Menetapkan batas waktu: Salah satu strategi untuk mengelola penggunaan media sosial yang berlebihan adalah menetapkan batas waktu. Banyak platform media sosial kini menawarkan fitur yang sudah terintegrasi dengan hal tersebut, tentunya memungkinkan pengguna melacak dan membatasi penggunaan harian mereka dan membantu menanamkan kebiasaan yang lebih baik.[28][29]
Bidang Penelitian Terkini
Penelitian terakhir menunjukkan bahwa kecerdasan buatan (artificial intelligence) dan algoritma rekomendasi memainkan peran penting dalam membentuk pengalaman pengguna media sosial dan kesejahteraan psikologis mereka. Personalisasi konten melalui sistem rekomendasi, yang disesuaikan dengan preferensi pengguna, memiliki kapasitas untuk meningkatkan interaksi pengguna. Namun, hal ini secara bersamaan membawa risiko mengintensifkan perilaku adiktif, memperburuk defisit perhatian, dan berdampak negatif pada kesejahteraan emosional.[30] Selain itu, bidang terapi digital dan jasa konsultasi psikologi secara online mengalami pertumbuhan yang cepat, dengan studi yang menunjukkan keberhasilan intervensi yang didasarkan pada aplikasi dan terapi kognitif perilaku melalui internet dalam mengurangi gejala depresi dan kecemasan, terutama di kalangan remaja dan orang dewasa muda.[31] Pandemi COVID-19 juga berfungsi sebagai pendorong utama dalam perubahan kesehatan mental secara digital, dimana bertambahnya pemakaian media sosial platform online terkait dengan peningkatan risiko stres, rasa kesepian, serta kelelahan digital, tetapi di sisi lain juga menciptakan kesempatan untuk dukungan sosial melalui internet dan telepsikologi.[32] Ketiga bidang ini menunjukkan bahwa interaksi antara teknologi digital dan kesehatan mental merupakan area penelitian yang terus berkembang dan memerlukan pendekatan multidisipliner.
Rujukan
- ^ a b Dickson K, Richardson M (1 January 2019). "Screen-based activities and children and young people's mental health: A Systematic Map of Reviews" (PDF). Department of Health Reviews Facility. EPPI-Centre, Social Science Research Unit, UCL Institute of Education, University College London. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 11 February 2019. Diakses tanggal 15 May 2019.
- ^ a b Kesalahan pengutipan: Tanda
<ref>tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama:10 - ^ a b c Kardefelt-Winther, Daniel (1 February 2017). "How does the time children spend using digital technology impact their mental well-being, social relationships and physical activity? – An evidence-focused literature review" (PDF). UNICEF Office of Research – Innocenti. UNICEF Office of Research. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 5 July 2019. Diakses tanggal 12 May 2019.
- ^ Reid Chassiakos YL, Radesky J, Christakis D, Moreno MA, Cross C (November 2016). "Children and Adolescents and Digital Media". Pediatrics. 138 (5): e20162593. doi:10.1542/peds.2016-2593. PMID 27940795.
- ^ Stiglic N, Viner RM (January 2019). "Effects of screentime on the health and well-being of children and adolescents: a systematic review of reviews". BMJ Open. 9 (1): e023191. doi:10.1136/bmjopen-2018-023191. PMC 6326346. PMID 30606703.
- ^ a b Kesalahan pengutipan: Tanda
<ref>tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama:0 - ^ Stiglic N, Viner RM (January 2019). "Effects of screentime on the health and well-being of children and adolescents: a systematic review of reviews". BMJ Open. 9 (1): e023191. doi:10.1136/bmjopen-2018-023191. PMC 6326346. PMID 30606703.
• Beales, Katriona; MacDonald, Fiona; Bartlett, Vanessa; Bowden-Jones, Henrietta (2017). Are we all addicts now? : digital dependence. Liverpool: Liverpool University Press. ISBN 978-1-78694-081-0. OCLC 988053669.
• Pantic I (October 2014). "Online social networking and mental health". Cyberpsychology, Behavior and Social Networking. 17 (10): 652–657. doi:10.1089/cyber.2014.0070. PMC 4183915. PMID 25192305.
• Kuss DJ, Griffiths MD (March 2017). "Social Networking Sites and Addiction: Ten Lessons Learned". International Journal of Environmental Research and Public Health. 14 (3): 311. doi:10.3390/ijerph14030311. PMC 5369147. PMID 28304359. Pemeliharaan CS1: DOI bebas tanpa ditandai (link)
• Sigman, Aric. "The Impact of Screen Media on Children: A Eurovision For Parliament" (PDF). Steiner Education Australia (reprint of original speech). Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 17 March 2019. Diakses tanggal 10 January 2019. - ^ a b Grant JE, Chamberlain SR (August 2016). "Expanding the definition of addiction: DSM-5 vs. ICD-11". CNS Spectrums. 21 (4): 300–303. doi:10.1017/S1092852916000183. PMC 5328289. PMID 27151528.
- ^ Ellis, David A. (1 August 2019). "Are smartphones really that bad? Improving the psychological measurement of technology-related behaviors". Computers in Human Behavior. 97: 60–66. doi:10.1016/j.chb.2019.03.006. ISSN 0747-5632.
- ^ Cornford, Kate (2018). "Children & Young People's Mental Health in the Digital Age" (PDF). OECD.org. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 11 January 2019. Diakses tanggal 22 March 2019.
- ^ Panova T, Carbonell X (June 2018). "Is smartphone addiction really an addiction?". Journal of Behavioral Addictions. 7 (2): 252–259. doi:10.1556/2006.7.2018.49. PMC 6174603. PMID 29895183.
- ^ Takwin, Bagus (2020-02-21). "Pesan dari Editor-in-Chief: Tantangan Psikologi Siber". Jurnal Psikologi Sosial. 18 (1): 3–4. doi:10.7454/jps.2020.02. ISSN 2615-8558.
- ^ Sifa, Izka Aniyatul Manfaati; Sawitri, Dian Ratna (2020-06-30). "HUBUNGAN REGULASI DIRI DENGAN ADIKSI MEDIA SOSIAL INSTAGRAM PADA SISWA SMK JAYAWISATA SEMARANG". Jurnal EMPATI. 7 (2): 691–698. doi:10.14710/empati.2018.21699. ISSN 2829-1859.
- ^ Lin, Liu yi; Sidani, Jaime E.; Shensa, Ariel; Radovic, Ana; Miller, Elizabeth; Colditz, Jason B.; Hoffman, Beth L.; Giles, Leila M.; Primack, Brian A. (2016). "Association Between Social Media Use and Depression Among U.s. Young Adults". Depression and Anxiety (dalam bahasa Inggris). 33 (4): 323–331. doi:10.1002/da.22466. ISSN 1520-6394. PMC 4853817. PMID 26783723.
- ^ Rahayu, Luthfiyyah; Rizky, Muhammad; Putera, AB Sarca; Adriyani, Ayu (2024-12-06). "Analisis Kasus Ketergantungan Manusia Terhadap Media Digital dalam Media System Dependency Theory". Social Empirical (dalam bahasa Inggris). 1 (2): 137–143. doi:10.24036/scemp.v1i2.35. ISSN 3063-0703.
- ^ Wicaksono, Thomas Ari; Reformasianto, Viki Love; Mufidah, Diffani; Anggelina, Elsa; Wimbarti, Supra; Kusrohmaniah, Sri (2024-09-28). "The Impact of TikTok Social Media on Users: A Neuropsychological Perspective". Psikostudia : Jurnal Psikologi. 13 (3): 455–463. doi:10.30872/psikostudia.v13i3.15920. ISSN 2657-0963.
- ^ Sun, Lanfang; Zhou, Keyi; Li, Lanqing; Cheung, Wai Ming; Lin, Chin-Hsi (2025-10-01). "From teachers to influencers: Exploring edu-influencers' social media practices through uses and gratification theory". System. 133: 103774. doi:10.1016/j.system.2025.103774. ISSN 0346-251X.
- ^ H, Hans Karunia; Ashri, Nauvaliana; Irwansyah, Irwansyah (2021-01-31). "Fenomena Penggunaan Media Sosial : Studi Pada Teori Uses and Gratification". Jurnal Teknologi Dan Sistem Informasi Bisnis (dalam bahasa Inggris). 3 (1): 92–104. doi:10.47233/jteksis.v3i1.187. ISSN 2655-8238.
- ^ Putri, Adhisty Bayuningtias; Atmoko, Waluyo Budi (2024-03-01). "Dampak Kecanduan Media Sosial Terhadap Kesehatan Mental". Journal of Health Management Research. 3 (1): 26–33. doi:10.37036/jhmr.v3i1.468. ISSN 2963-4229.
- ^ Ernawati, Ernawati (2024-01-25). "DAMPAK KECANDUAN MEDIA SOSIAL TERHADAP KESEHATAN MENTAL REMAJA: STUDI CROSS SECTIONAL: THE IMPACT OF SOCIAL MEDIA ADDICTION ON THE MENTAL HEALTH OF ADOLESCENTS: A CROSS SECTIONAL STUDY". Intan Husada : Jurnal Ilmiah Keperawatan (dalam bahasa Inggris). 12 (01): 78–92. doi:10.52236/ih.v12i1.507. ISSN 2655-9870.
- ^ Adityaputra, Amran Hasbi; Salma, Salma (2022-12-05). "REGULASI DIRI DAN KECANDUAN DALAM PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL PADA MAHASISWA GENERASI Z FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS DIPONEGORO". Jurnal EMPATI. 11 (6): 386–393. doi:10.14710/empati.0.36827. ISSN 2829-1859.
- ^ Pratiwi, Ayu; Tangera, Anggita Fazriani 2 1 Dosen STIKes YATSI (2020-05-30). "Hubungan Antara Fear of Missing Out (FOMO) Dengan Kecanduan Media Sosial Pada Remaja Pengguna Media Sosial". Jurnal Kesehatan. 9 (1): 1–13. ISSN 2654-587X. Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link)
- ^ Budysan, Tiek (2019). "HUBUNGAN ANTARA TIPE KEPRIBADIAN BIG FIVE DENGAN ADIKSI INTERNET PADA MAHASISWA DI SURABAYA". HUBUNGAN ANTARA TIPE KEPRIBADIAN BIG FIVE DENGAN ADIKSI INTERNET PADA MAHASISWA DI SURABAYA. ;
- ^ Zelfina, Tsania; Nurmina (2023-09-26). "HUBUNGAN ANTARA LONELINESS DENGAN INTERNET ADDICTION PADA REMAJA PENGGUNA MEDIA SOSIAL". CAUSALITA : Journal of Psychology. 1 (2): 109–115. doi:10.62260/causalita.v1i2.70. ISSN 2988-2354.
- ^ Aslamiyah, Farikha; Santi, Dyan Evita; Ananta, Aliffia (2024-04-22). "Kecemasan sosial dewasa awal: Adakah peran kecenderungan kecanduan media sosial dan body dissatisfaction ?". JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia (dalam bahasa Inggris). 2 (1). doi:10.30996/jiwa.v2i1.10471. ISSN 3031-9897.
- ^ Xu, Xiaopan; Han, Wanqu; Liu, Qingqi (2023). "Peer pressure and adolescent mobile social media addiction: Moderation analysis of self-esteem and self-concept clarity". Frontiers in Public Health. 11: 1115661. doi:10.3389/fpubh.2023.1115661. ISSN 2296-2565. PMC 10126400. PMID 37113179. Pemeliharaan CS1: DOI bebas tanpa ditandai (link)
- ^ Qi, Yating; Zhao, Miaomiao; Geng, Tingting; Tu, Ziqi; Lu, Qingyun; Li, Ruyu; Niu, Luyao; Qu, Wenjie; Zhong, Yaqin (2024-06-10). "The relationship between family functioning and social media addiction among university students: a moderated mediation model of depressive symptoms and peer support". BMC Psychology. 12 (1): 341. doi:10.1186/s40359-024-01818-2. ISSN 2050-7283. Pemeliharaan CS1: DOI bebas tanpa ditandai (link)
- ^ Halodoc, Redaksi. "Ini 6 Cara Mengatasi Kecanduan Media Sosial pada Remaja". halodoc. Diakses tanggal 2025-10-10.
- ^ "Cara Mengatasi Kecanduan Media Sosial di Kalangan Remaja". Sepenuhnya. Diakses tanggal 2025-10-10.
- ^ Febryan, Putra Hikmah; Negara, Arya Kusuma; Ramadhan, Muhammad Farell Altivan (2024-12-20). "ANALISIS PENGGUNAAN AI DALAM ALGORITMA SOSIAL MEDIA : SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW". JATI (Jurnal Mahasiswa Teknik Informatika) (dalam bahasa Inggris). 9 (1): 1095–1102. doi:10.36040/jati.v9i1.12613. ISSN 2598-828X.
- ^ Plessen, Constantin Yves; Panagiotopoulou, Olga Maria; Tong, Lingyao; Cuijpers, Pim; Karyotaki, Eirini (2025-01-15). "Digital mental health interventions for the treatment of depression: A multiverse meta-analysis". Journal of Affective Disorders. 369: 1031–1044. doi:10.1016/j.jad.2024.10.018. ISSN 0165-0327.
- ^ Király, Orsolya; Potenza, Marc N.; Stein, Dan J.; King, Daniel L.; Hodgins, David C.; Saunders, John B.; Griffiths, Mark D.; Gjoneska, Biljana; Billieux, Joël (2020-07-01). "Preventing problematic internet use during the COVID-19 pandemic: Consensus guidance". Comprehensive Psychiatry. 100: 152180. doi:10.1016/j.comppsych.2020.152180. ISSN 0010-440X. PMC 7215166. PMID 32422427.
Pranala luar
Media terkait Digital media use and mental health di Wikimedia Commons- Anthropology of Social Media: Why We Post, University College London, Free online five-week course, asking "What are the consequences of social media?"
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


