Penggaya (media sosial)

Penggaya atau peragam (bahasa Inggris: filter) adalah efek gambar digital yang mengubah penampilan, yang sering digunakan di media sosial. Efek umum dari penggaya ini meliputi menghaluskan tekstur kulit dan mengubah proporsi fitur wajah, seperti memperbesar mata atau memancungkan hidung. Penggaya pada awalnya menyimulasikan efek filter kamera, dan sejak saat itu berkembang dengan teknologi pengenalan wajah (face recognition) dan realitas berimbuh (augmented reality) yang dihasilkan oleh komputer.[1] Terkini, penggaya atau filter sudah disertakan sebagai fitur bawaan aplikasi media sosial seperti Instagram dan Snapchat, atau diterapkan juga di aplikasi mandiri seperti Facetune.
Penggaya media sosial, khususnya filter kecantikan, sering digunakan untuk mengubah penampilan swafoto yang diambil pada ponsel cerdas atau perangkat serupa.[1]

Sejarah
Penggaya berasal dari Purikura,[2] yaitu jenis mesin permainan arkade fotografi Jepang yang dibuat pada tahun 1994 dan pertama kali dirilis pada tahun 1995 oleh seorang karyawan wanita dari Jepang.[3] Filter ini menyediakan fitur berupa percantik wajah, kumis kucing, telinga kelinci, menulis teks, memilih latar belakang, dan dekorasi yang dapat disisipi elemen pendukung lain.[4]
Pada akhir tahun 1990-an, telepon seluler Jepang mulai menyertakan kamera depan untuk memanfaatkan filter kecantikan.[4][5] Seiring berjalannya waktu, penggunaan filter kecantikan kian berkembang di berbagai penjuru dunia. Filter kecantikan mulai muncul di aplikasi-aplikasi terkenal seperti Instagram, Snapchat, dan Facebook.[3]
Dampak
Pada dasarnya penggaya atau filter kecantikan hanya mengubah suatu bagian dari tubuh kita di dunia maya. Meskipun perubahan itu tidak benar-benar ada di dunia nyata, tetapi dampak dari munculnya penggaya dapat kita rasakan secara nyata. Dampak yang muncul pun beragam. Penggaya dapat membawa dampak positif maupun negatif tergantung bagaimana seorang individu menggunakannya.
Dampak negatif :
- Body Dysmorphia, merupakan gangguan kesehatan mental ketika seseorang tidak bisa berhenti memikirkan kekurangan yang ada pada penampilannya.[6] Sebenarnya kekurangan ini tampak kecil, bahkan tidak terlihat. Ketika memiliki gangguan ini, seseorang akan fokus pada penampilannya dan citra tubuh sendiri. Mereka akan berulang kali melihat bayangan di cermin, berdandan atau mengoreksi sesuatu secara terus menerus dan memakan waktu yang terlampau lama.
- Bias dunia maya dan dunia nyata,[7] di dunia nyata wajah kita terlihat berbeda tergantung pada pencahayaan, bayangan, dan sudut pandang pengambil gambar. Filter kecantikan menghilangkan semua ketidaksempurnaan ini. Filter kecantikan bukan sekadar membuat warna foto menjadi ebih cerah atau kulit lebih halus, mereka juga dapat memanipulasi fitur wajah secara real-time.
- Ketidaksesuaian diri,[8] penggaya seringkali menyajikan versi diri yang sempurna dengan kulit mulus, hidung lebih mancung, mata lebih besar, dan rahang yang lebih tirus. Saat seseorang terbiasa melihat versi ideal ini, ia secara tidak sadar mulai membandingkannya dengan penampilan aslinya. Perbedaan yang mencolok ini bisa menimbulkan ketidakpuasan terhadap diri sendiri.
Dampak positif :
- Meningkatkan daya tarik, penggaya sudah terbukti meningkatkan daya tarik wajah yang kemudian membawa dampak positif pada penilaian sosial, seperti kepercayaan, kecerdasan, dan kebahagiaan.[9] Penggaya membantu meratakan bias sosial terhadap penampilan karena penggaya tidak hanya membuat wajah seseorang menjadi cantik atau tampan tetapi juga memberikan kesan yang positif.
- Bertambahnya rasa percaya diri, dengan menggunakan penggaya, mereka akan merasa lebih percaya diri karena merasa dirinya terlihat lebih baik. Penggaya menciptakan rasa aman secara sosial. Di media sosial banyak orang merasa tertekan unuk tampil sempurna. Menggunakan filter bisa menjadi cara untuk menyesuaikan diri dengan standar kecantikan yang dominan dan menghindari kritik komentar negatif.
Solusi
- Meningkatkan kesadaran diri tentang penggunaan filter atau penggaya,
- Mengurangi waktu bermedia sosial,
- Menantang diri untuk mengunggah foro tanpa filter,
- Menemukan kegiatan (positif) lain di dunia nyata untuk mengalihkan perhatian,
- Membangun harga diri yang sehat,
- Berpikir kritis terhadap konten di media sosial,
- Mencari dukungan pihak profesional jikaa kecanduan ini berdampak buruk pada kesehatan mental.
Referensi
- ^ a b Ibáñez‐Sánchez, Sergio; Orús, Carlos; Flavián, Carlos (2022-01-18). "Augmented reality filters on social media. Analyzing the drivers of playability based on uses and gratifications theory". Psychology & Marketing. 39 (3): 559–578. doi:10.1002/mar.21639. ISSN 0742-6046. S2CID 246053612.
- ^ Hu, Elise (2017-07-03). "Video: Japan's 'Purikura' Photo Booths Offer Snapchat-Like Filters". NPR (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-10-07.
- ^ a b "How 'playing Puri' paved the way for Snapchat". BBC (dalam bahasa Inggris (Britania)). 2018-11-23. Diakses tanggal 2025-10-07.
- ^ a b Pan, Lu (2015). Aestheticizing Public Apace: Street Visual Politics in East Asian Cities. Intellect Books. hlm. 107. ISBN 978-1-78320-453-3. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ "Taking pictures with your phone". BBC News. 18 September 2001. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 August 2017. Diakses tanggal 15 September 2019.
- ^ Anani, Praise Woeyram; Mintah, Francis Dadzie; Danso, Awura Amma Adomaa; Churcher, Emmanuel Wiston (2024-12-31). "Filtered reality: exploring the motives and socio-demographic factors of smartphone beauty filter usage among university students in Ghana". Cogent Arts & Humanities. 11 (1): 2392381. doi:10.1080/23311983.2024.2392381.
- ^ Schroeder, Makenzie; Behm-Morawitz, Elizabeth (2025-04-01). "Digitally curated beauty: The impact of slimming beauty filters on body image, weight loss desire, self-objectification, and anti-fat attitudes". Computers in Human Behavior. 165: 108519. doi:10.1016/j.chb.2024.108519. ISSN 0747-5632.
- ^ Riccio, Piera; Colin, Julien; Ogolla, Shirley; Oliver, Nuria (2024-04-01). "Mirror, Mirror on the Wall, Who Is the Whitest of All? Racial Biases in Social Media Beauty Filters". Social Media + Society (dalam bahasa Inggris). 10 (2): 20563051241239295. doi:10.1177/20563051241239295. ISSN 2056-3051.
- ^ Gulati, Aditya; Martínez-Garcia, Marina; Fernández, Daniel; Lozano, Miguel Angel; Lepri, Bruno; Oliver, Nuria (2024-11-27). "What is beautiful is still good: the attractiveness halo effect in the era of beauty filters". Royal Society Open Science. 11 (11): 240882. doi:10.1098/rsos.240882. PMC 11597472. PMID 39606589.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


