Pengepungan Surakarta (1790)
| Pengepungan Surakarta (1790) | |||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| |||||||
| Pihak terlibat | |||||||
|
|
| ||||||
| Tokoh dan pemimpin | |||||||
|
|
| ||||||
| Kekuatan | |||||||
| Ribuan pasukan | Ratusan pasukan | ||||||
Pengepungan Surakarta atau lebih dikenal dengan Peristiwa Pakepung ini terjadi sekitar bulan Oktober-Desember 1790. Peristiwa ini terjadi karena Pakubuwana IV mengangkat 7 Ulama sebagai penasihat dan pengatur pemerintah di Surakarta[1][2][3].Namun, banyak yang tidak suka mengenai ini termasuk VOC. Lalu VOC menyerbu Surakarta yang mengakibatkan kekalahan Surakarta.
Latar Belakang
Pada awal tahun 1970. Pakubuwana IV mengangkat Kyai dan Santri sebagai abdi dalem. Abdi dalem ini sangat memengaruhi politik dan keagamaan di Surakarta. Pakubuwana IV juga mengadakan perubahan kepada Kyai dan Santri itu, jika mereka tidak patuh kepada syariat agama Islam, mereka akan dihukum atau dipecat dari jabatannya.[1][2][4]
Perubahan ini tidak disukai oleh Belanda, sehingga Belanda mengirimkan utusan bernama Jan Grevee agar Pakubuwana IV menyerahkan abdi dalem itu.[1][2][3][4][5] Pada tahun yang sama Yogyakarta dan Mangkunegara mendengar kabar bahwa Pakubuwana IV ingin menyatukan kembali wilayah Mataram yang dulu. Karena itu Yogyakarta dan Mangkunegara bersedia membantu Belanda untuk menyerang Surakarta.
Pakubuwana IV menolak untuk menyerahkan Abdi dalem itu kepada VOC dan bersedia melawan.
Jalannya penyerbuan
Akhirnya VOC–Yogyakarta–Mangkunegaran mengepung Surakarta dari segala arah. Dari selatan oleh Yogyakarta, dari timur oleh Mangkunegaran, dan dari barat-utara oleh VOC.
VOC memaksa Pakubuwana IV untuk menyerahkan abdi dalem tersebut, atau Surakarta akan dihancurkan dan Pakubuwana IV diturunkan dari jabatannya secara paksa. [6][1][2][4]
Pakubuwana IV sangat tertekan, apalagi keluarga keraton di sana sangat panik. atas nasihat keluarga keraton dan demi kedamaian rakyat Surakarta, lebih baik Pakubuwana IV menyerah abdi dalem itu kepada VOC.[6][3] Pakubuwana IV menyerahkan abdi dalem tersebut kepada VOC, tetapi Pakubuwana IV meminta syarat agar mereka tidak dihukum mati.[1]
Referensi
- ^ a b c d e f AfifKhoirul M 2023.
- ^ a b c d A.Z.Muttaqin 2016.
- ^ a b c Ahmad Wahyu Sudrajad 2014, hlm. 145.
- ^ a b c Ajie Najmuddin 2022.
- ^ Kanjeng Senopati 2022.
- ^ a b Antonius Sriyono, Abdul Haris Farid, Mujiati 2015, hlm. 19.
Sumber
- Antonius Sriyono, Abdul Haris Farid, Mujiati. 2015. Eksistensi tanah eks Swapraja. Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional Yogyakarta.
- Kanjeng Senopati. 2022. Sejarah Penting Disingkirkannya Ulama Kraton. Kompasiana.com.
- Ajie Najmuddin. 2022. Kiai Mochammad Qorib Kalioso Sragen dan Peristiwa Geger Pakepung. jateng.nu.or.id.
- Ahmad Wahyu Sudrajad. 2014. Menelusuri jejak kehidupan Ulama dan cendikiawan pada masa kolonial dalam teks Maulid Qashor H. Tabbri di Surakarta.
- A. Z. Muttaqin. 2016. Pakepung 1790, penggagalan upaya penerapan Syariat Islam di Keraton Surakarta oleh Belanda dan sekutunya. arrahman.id.
- Afif Khoirul M. 2023. Perjuangan dan Pengorbanan Para Ulama Keraton Mataram Islam Surakarta dalam Peristiwa Pakepung 1790. Intisari.grid.id.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


