Pendidikan di Keresidenan Cirebon

Pendidikan di Keresidenan Cirebon adalah penyelenggaraan pendidikan yang mulai digiatkan di Keresidenan Cirebon sejak berlakunya politik etis di Hindia Belanda pada akhir abad ke-19 Masehi.[1][2] Pada tahun 1851, lembaga pendidikan di Keresidenan Cirebon telah terdiri dari Sekolah Kelas I dan Sekolah Kelas II yang khusus untuk anak-anak penguasa lokal dari kalangan pribumi.[2] Pada tahun 1863, setiap distrik di Keresidenan Cirebon telah memiliki sekolah dasar bernama sekolah distrik yang menjadi tempat pendidikan bagi seluruh pribumi. Pembelajaran di sekolah distrik yang ada di Keresidenan Cirebon meliputi pelajaran membaca, menulis, ilmu hitung dasar, ilmu bumi dan ilmu ukur tanah.[3]

Penyelenggaraan

Pada tahun 1850, Pemerintah Hindia Belanda mulai mengadakan pendidikan untuk anak-anak penguasa lokal dari kalangan pribumi di wilayah bagian barat pulau Jawa.[2] Pada akhir abad ke-19 M, Kerajaan Belanda memberlakukan politik etis di wilayah jajahannya termasuk dalam bidang pendidikan. Sejak pemberlakuan politik etis, Pemerintah Hindia Belanda mulai menyelenggarakan pendidikan di Hindia Belanda untuk seluruh kalangan pribumi. Tujuan penyelenggaraan pendidikan di Hindia Belanda adalah meningkatkan mutu sumber daya manusia di kalangan pribumi dan mengurangi jumlah penduduk yang buta huruf. Penyelenggaraan pendidikan di Hindia Belanda diawali dengan pendirian berbagai macam jenis sekolah.[1] Pembangunan sekolah dilakukan terutama pada ibu kota keresidenan, ibu kota afdeling, dan ibu kota onderafdeling yang ada di wilayah Hindia Belanda, termasuk di wilayah Keresidenan Cirebon.[1][2]

Lembaga pendidikan

Pada tahun 1850, lembaga pendidikan yang digunakan sebagai lokasi penyelenggaraan pendidikan untuk anak-anak penguasa lokal dari kalangan pribumi di Keresidenan Cirebon disebut Sekolah Kelas I. Di Keresidenan Cirebon, Sekolah Kelas I hanya terdapat di ibu kotanya yaitu Kota Cirebon. Pada tahun 1851, didirikan Sekolah Kelas II yang merupakan sekolah lanjutan bagi Sekolah Kelas I.[2]

Pada tahun 1863, di setiap distrik dalam wilayah Keresidenan Cirebon telah didirikan sekolah umum setingkat sekolah dasar yang dikenal dengan nama sekolah distrik. Setiap sekolah distrik memiliki program pembelajaran yang meliputi mata pelajaran membaca dan menulis, ilmu hitung dasar, ilmu bumi dan ilmu ukur tanah. Mata pelajaran membaca dan menulis dilakukan dalam bahasa Jawa, bahasa Sunda dan bahasa Melayu tetapi menggunakan aksara Latin. Sedangkan pada ilmu bumi diutamakan pelajaran mengenai Hindia Belanda khususnya tentang pulau Jawa.[3]

Referensi

  1. ^ a b c Idi, Abdullah (September 2019). Safarina (ed.). Politik Etnisitas Hindia-Belanda: Dilema dalam Pengelolaan Keberagaman Etnis di Indonesia (PDF). Jakarta: Prenadamedia Group. hlm. 68. ISBN 978-623-218-252-3. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  2. ^ a b c d e Usmaedi (2016). Sekolah Pangreh Praja di Banten (OSVIA, 1910-1927). Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Banten & Banten Heritage. hlm. 1. ISBN 978-602-6966-01-8. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  3. ^ a b Kasim, Supali (Oktober 2012). Budaya Dermayu: Nilai-nilai Historis, Estetis, dan Transendental. Sleman: Gapura Publishing.com. hlm. 222. ISBN 978-602-18890-2-2. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement