Penaklukan Kairo (1517)

Penaklukan Kairo (1517)
Bagian dari Perang Utsmaniyah-Mamluk (1516–1517)

Eksekusi Tuman Bay II
Tanggal27–30 Januari 1517
LokasiKairo, sekarang Mesir
Hasil

Utsmaniyah menang

Pihak terlibat
Kesultanan Utsmaniyah Kesultanan Mamluk
Tokoh dan pemimpin
Selim I
Yunus Pasha
Tuman Bay II Dihukum mati
Al-Mutawakkil (POW)
Kekuatan
Tidak diketahui 10.000–20.000
Korban
Tidak diketahui Kerugian besar
50.000 warga sipil tewas[1][2]

Penaklukan Kairo adalah pertempuran besar terakhir dalam Perang Utsmaniyah–Mamluk 1516–1517. Kota Kairo, ibu kota Kesultanan Mamluk, dijarah dan jatuh ke tangan pasukan Utsmaniyah yang dipimpin oleh Sultan Selim I pada 27–30 Januari 1517. Setelah jatuhnya Kairo dan eksekusi sultan Mamluk terakhir sekaligus anggota dinasti Abbasiyah, Tuman Bay II, Kesultanan Mamluk kemudian diserap ke dalam Kekaisaran Utsmaniyah yang sedang berkembang. Setelah penaklukan tersebut, status Kairo menurun dari sebelumnya sebagai ibu kota Kesultanan Mamluk menjadi kota provinsi yang diperintah dari Konstantinopel. Tren ekonomi dari tahun-tahun terakhir Kesultanan Mamluk juga berlanjut di bawah pemerintahan Utsmaniyah, dengan Mesir dikenai pajak oleh pemerintah kekaisaran dan berfungsi sebagai basis militer untuk melancarkan ekspansi lebih lanjut ke wilayah sekitarnya.

Latar belakang

Kesultanan Mamluk Mesir adalah sebuah dinasti Muslim di Mesir (1250–1517). Mamluk merupakan kelas budak militer yang berasal dari bangsa Turkik atau Sirkasia. Setelah kudeta pada 1250, mereka mulai memerintah Mesir dan kemudian memasukkan Suriah serta Palestina ke dalam wilayah kekuasaannya. Pada awalnya, hubungan antara Kesultanan Mamluk dan Kekaisaran Utsmaniyah di Turki serta Balkan bersifat bersahabat. Namun, pada akhir abad ke-15, persaingan untuk menguasai Turki selatan (Çukurova, wilayah yang pada masa kuno dikenal sebagai Kilikia) memperburuk hubungan tersebut.

Selain itu, selama Perang Utsmaniyah–Safawi (Persia), Dinasti Dulkadiriyah yang merupakan vasal Mamluk mendukung pihak Safawi. Setelah Pertempuran Chaldiran pada 1514, wazir Utsmaniyah (kemudian menjadi wazir agung) Hadim Sinan Pasha membalas dengan mencaplok wilayah Dulkadiriyah—sebagian besar Anatolia Tenggara—ke dalam wilayah Utsmaniyah setelah Pertempuran Turnadag pada 1515. Ketegangan antara dua kekuatan besar ini akhirnya memicu konflik terbuka. Sultan Utsmaniyah Selim I (memerintah 1512–1520) memenangkan dua pertempuran penting, yaitu Pertempuran Marj Dabiq pada 1516 dan Pertempuran Ridaniyah pada 1517.

Penaklukan Kairo

Setelah Pertempuran Ridaniyah pada 23 Januari 1517, Selim mendirikan perkemahan di Pulau Vustaniye (atau Burac) yang menghadap Kairo, ibu kota Kesultanan Mamluk. Namun ia tidak langsung memasuki kota tersebut. Karena Tumanbay II, sultan Mamluk, serta seorang pemimpin Mamluk lainnya, Kayıtbay, berhasil melarikan diri, Selim memutuskan untuk memusatkan perhatian pada penangkapan para pemimpin itu sebelum memasuki Kairo. Oleh karena itu, pada 26 Januari ia hanya mengirim satu resimen pasukan pelopor ke kota tersebut.

Meskipun resimen itu berhasil memasuki ibu kota tanpa banyak perlawanan, pada malam yang sama Tumanbay juga secara diam-diam kembali ke Kairo. Dengan bantuan sebagian penduduk kota, ia menyerang pasukan Utsmaniyah di ibu kota dan mulai menguasai Kairo. Setelah mendengar kabar tentang keberadaan Tumanbay di Kairo, Selim mengirim pasukan Janissari ke kota tersebut. Setelah beberapa hari pertempuran, pasukan Utsmaniyah berhasil memasuki kota pada 3 Februari 1517. Selim kemudian masuk ke Kairo dan mengirimkan pesan kemenangan (Turki: zafername) kepada para penguasa lain mengenai penaklukan kota itu. Meskipun demikian, para pemimpin Mamluk masih belum tertangkap.[3]

Akibat

Tumanbay melarikan diri dari Kairo dan berusaha mengorganisasi pasukan baru yang terdiri dari orang-orang Mesir bersama sisa-sisa tentara Mamluk. Pasukannya lebih kecil dan lebih lemah dibandingkan dengan tentara Utsmaniyah. Namun ia berencana menyerang perkemahan Selim di Pulau Vustatiye. Rencana ini diketahui oleh Selim, sehingga ia mengirim pasukan untuk menghadang Tumanbay sebelum rencananya terlaksana. Setelah beberapa bentrokan kecil, Tumanbay ditangkap pada 26 Maret 1517.

Pada awalnya Selim memutuskan untuk mengirim para tokoh Mamluk ke Istanbul. Namun kemudian ia mengubah keputusannya. Tumanbay dan para tokoh Mamluk lainnya akhirnya dieksekusi pada 13 April 1517 di Bab Zuweila oleh seorang mantan komandan Mamluk yang telah berpihak kepada Utsmaniyah.[4]

Referensi

  1. ^ Иванов Н. А. 1984.
  2. ^ Петросян 2013.
  3. ^ Joseph von Hammer: Geschichte der osmanischen Dichtkunst Vol I (translation: Mehmet Ata) Milliyet yayınları, pp 275–276.
  4. ^ Prof. Yaşar Yüce-Prof. Ali Sevim: Türkiye tarihi Cilt II, AKDTYKTTK Yayınları, İstanbul, 1991, p 250.

Bibliografi

  • Иванов Н. А. (1984). Османское завоевание арабских стран, 1516-1574. Изд-во "Наука," Глав. ред. восточной лит-ры.
  • Петросян, Юрий Ашотович (2013). Османская империя. Величайшие империи человечества. М.: Алгоритм. hlm. 63–65. ISBN 9785443801001.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement