Pembangkit listrik di Indonesia

Pembangkit listrik di Indonesia mulai dirintis pembangunan unit pembangkitan listriknya sejak tahun 1897 ketika wilayah Indonesia masih dalam pemerintahan Hindia Belanda. Jenis pembangkit listrik yang paling awal dibangun di wilayah Indonesia adalah pembangkit listrik tenaga uap di Batavia dan pembangkit listrik tenaga air di Kota Bandung.[1][2] Sebagian besar pembangkit listrik di Indonesia dibangun dengan bahan bangunan utama yang meliputi beton, baja dan material tahan panas suhu tinggi.[3]

Perintisan

Perintisan pengadaan pembangkit listrik di Indonesia dimulai sejak masa Hindia Belanda. Pada tahun 1897, pembangkit listrik pertama dibangun di Gambir yang termasuk dalam wilayah Batavia di Hindia Belanda. Jenis pembangkit listrik yang dibangun di Gambir adalah pembangkit listrik tenaga uap. Bahan bakar yang digunakan untuk pembangkitan listrik tenaga uap di Gambir adalah batu bara yang menghasilkan uap yang menggerakkan turbin uap dan menghasilkan listrik. Daya listrik yang dihasilkan oleh pembangkit listrik tenaga uap di Gambir sebesar 7.500 kiloWatt. Energi listrik yang dihasilkan kemudian digunakan untuk penerangan jalan dan penerangan ruangan untuk tempat tinggal para pejabat pemerintahan Hindia Belanda.[1]

Pada tahun 1906, Pemerintah Hindia Belanda berhasil membangun sebuah pembangkit listrik tenaga air di Kota Bandung. Pembangunan pembangkit listrik tenaga air di Kota Bandung dilakukan dengan memanfaatkan aliran air dari sungai Cikapundung. Daya listrik yang mampu dihasilkan oleh pembangkit listrik tenaga air di Kabupaten Bandung saat itu sebesar 800 kiloWatt dan digunakan untuk keperluan Pemerintah Hindia Belanda.[2]

Konstruksi

Sebagian besar pembangkit listrik di Indonesia dibangun dengan menggunakan beton sebagai bahan bangunan utamanya. Beton digunakan untuk pembangunan fondasi dan struktur utama pada pembangkit listrik. Sedangkan struktur pendukung pada bangunan pembangkit listrik seperti instalasi saluran perpipaan dibuat dengan menggunakan bahan berupa baja. Sementara itu, komponen pembangkit listrik yang mudah mengalami peningkatan panas seperti turbin dibuat menggunakan bahan tahan panas dengan suhu tinggi.[3]

Referensi

  1. ^ a b Climate Action 101: Indonesia’s Guide for Newbies. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. Oktober 2025. hlm. 64. ISBN 978-623-134-472-4. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  2. ^ a b Juwono, P. T., dan Subagiyo, A. (Oktober 2018). Sumber Daya Air dan Pengembangan Wilayah: Infrastruktur Keairan Mendukung Pengembangan Wisata, Energi, dan Ketahanan Pangan. Malang: Universitas Brawijaya Press. hlm. 103. ISBN 978-602-432-623-4. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  3. ^ a b Mudjanarko, M. W., dkk. (Agustus 2025). Material Konstruksi: Sejarah, Perkembangan, Inovasi dan Tantangan di Masa Depan. Surabaya: Narotama University Press. hlm. 208. ISBN 978-623-5486-14-7. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement