Payung Juwiring

Payung Juwiring merupakan produk kerajinan tradisional berupa payung lukis yang berasal dari Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah. Payung ini umumnya terbuat dari bahan kertas dan dihias dengan lukisan beraneka warna serta motif yang khas dan menarik. Salah satu sentra pembuatan payung lukis tradisional tersebut berada di Dukuh Gumantar, Desa Tanjung, Kecamatan Juwiring, Klaten. Di wilayah ini terdapat komunitas perajin yang tergabung dalam Paguyuban Payung Lukis Tradisional Ngudi Rahayu, yang secara konsisten melestarikan dan mengembangkan seni kerajinan payung lukis khas daerah setempat. Pada tahun 2022, Payung Juwiring resmi ditetapkan oleh Pemerintah sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb).
Sejarah

Industri kerajinan payung di Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten, memiliki sejarah panjang yang tidak terlepas dari peran budaya dan permintaan kalangan bangsawan. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Mahasiswa UNS, awal mula berkembangnya kerajinan ini diperkirakan bermula ketika seorang bangsawan dari Keraton Kasunanan Surakarta memesan payung kepada perajin lokal di Juwiring. Hasil pengerjaan yang memuaskan kemudian menjadi titik awal berkembangnya tradisi pembuatan payung di daerah tersebut.[1]
Pada masa kolonial Hindia Belanda, industri payung telah mengalami perkembangan signifikan. Di daerah Ngreni pernah berdiri sebuah pabrik yang dimiliki oleh Sutomo dari trah Mangkunegaran. Pabrik tersebut kemudian dipindahkan ke wilayah Kenaiban (kini Kelurahan Kenaiban). Pada masa pemerintahan Presiden Soekarno, pabrik ini berubah nama menjadi Perusahaan Negara Perindustrian Rakyat Kriyayasa dan berada di bawah pengawasan langsung Menteri Penerangan serta Menteri Perindustrian.[2]
Produksi payung pada masa lampau tidak berlangsung sepanjang tahun. Dalam penanggalan Jawa (mongso), produksi umumnya dilakukan pada bulan Agustus hingga Oktober. Hal ini disesuaikan dengan kondisi bambu yang digunakan sebagai jeruji payung, agar tidak mudah diserang hama bubuk. Jenis payung yang diproduksi meliputi payung hujan berdiameter besar dan payung batik untuk pelindung panas matahari.[2]
Setelah tahun 1967, pengelolaan industri dialihkan dari pemerintah pusat ke Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Perubahan tersebut disertai dengan penggantian bahan utama payung menjadi kertas kraft, yang bersifat tebal seperti kertas semen. Pergantian ini menyebabkan penurunan daya kreasi karena bahan tersebut sulit dibentuk. Payung berbahan kertas kraft sebagian besar hanya diproduksi untuk kebutuhan ritual, seperti pembakaran di Bali, dengan omzet yang relatif kecil. Puncak produksi tercatat terjadi pada tahun 1967–1968, dengan capaian hampir 140 ribu unit per tahun.[3]
Proses produksi dilakukan secara manual oleh keluarga perajin, termasuk anak-anak, yang turut serta dalam berbagai tahapan pengerjaan. Lem khusus yang digunakan agar tahan air berasal dari buah kleco, yang dahulu diperoleh hingga ke wilayah Bandung. Bahan baku utama payung didatangkan dari luar Juwiring, sementara pengerjaan dilakukan oleh tenaga lokal.[butuh rujukan]
Kerajinan rangka dan pembuatan payung telah menjadi tradisi yang mengakar di masyarakat Juwiring sejak era Kasunanan Surakarta. Hingga kini, industri tersebut terus berkembang menyesuaikan kebutuhan pasar. Industri ini telah memasuki generasi ketiga, dengan beragam inovasi dalam bentuk, bahan, dan harga yang terus berubah mengikuti perkembangan zaman.[2]
Referensi
- ^ Rizky, Noveni Fitria (2020). "Potensi Industri Kerajinan Payung "Wisnu" di Desa Tanjung sebagai Daya Tarik Wisata di Kabupaten Klaten".
- ^ a b c Utami, Trisni; Wijaya, Mahendra (2014). "Etos Kerja Pada Pengrajin Payung Di Juwiring, Klaten". Jurnal Sosiologi Reflektif. 9 (1): 130897. ISSN 1978-0362.
- ^ UTAMA, IMAM LISTIYANTO (2021-01-05). "AKTIVITAS FESTIVAL PAYUNG INDONESIA SEBAGAI UPAYA PROMOSI UNTUK MELESTARIKAN KERAJINAN PAYUNG TRADISIONAL (Studi Analisis di Desa Payung Juwiring Klaten)". JURNAL KOMUNITAS (dalam bahasa Inggris). 7 (2). ISSN 2830-3768.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


