Pasar Lama Kota Tangerang
Artikel ini memiliki beberapa masalah. Tolong bantu memperbaikinya atau diskusikan masalah-masalah ini di halaman pembicaraannya. (Pelajari bagaimana dan kapan saat yang tepat untuk menghapus templat pesan ini)
|
Pasar Lama Kota Tangerang salah satu area perdagangan yang bersejarah dan memiliki asal-usul yang berawal dari zaman penjajahan Belanda. Berdiri sejak tahun 1810, awalnya pasar ini merupakan tempat jualan sederhana untuk sayur dan ikan. Namun, seiring waktu pasar ini berkembang menjadi tempat yang sarat dengan penggabungan budaya dari etnis Cina, Betawi, Eropa, dan Sunda. Di tahun 2012, pemerintah Kota Tangerang membenahi Pasar Lama menjadi destinasi wisata kuliner yang memberikan dampak positif terhadapa aktivitas ekonomi di wilayah sekitar. Pasar Lama berlokasi di pusat Kota Tangerang di Jalan Ki Samaun, Kel. Sukasari, Kec. Tangerang.[1] Secara geografis, Kota Tangerang terletak bersebelahan dengan Kota Jakarta yang membuat kota ini berada pada lokasi yang strategis.
Sejarah Terbentuknya Pasar Lama Kota Tangerang[2]
Sejak abad ke-15 hingga awal abad ke-19, Kota Tangerang merupakan kota pelabuhan, sungai Cisadane berperan sebagai sarana transportasi air utama yang menghubungkan daerah pedalaman dengan daerah pesisir. Berdasarkan Babad Sunda dalam kitab Tina Layang Parahyangan[3] menyebutkan bahwa, kedatangan rombongan Tjen Tjie Lung (Halung) di muara sungai Cisadane (Teluk Naga) pada tahun 1407. Pada tahun 1526, penduduk etnis Jawa berdatangan ke Tangerang, yang berasal dari Kesultanan Demak dan Cirebon, lalu disusul dengan kedatangan etnis Betawi pada tahun 1680 yang pindah dari Batavia akibat bencana banjir. Kawasan Pasar Lama Tangerang ditetapkan sebagai cagar budaya dan masuk dalam program Kota Pusaka yang memiliki Spirit of Place (Jiwa atau roh sebuah tempat) yang terlihat signifikansinya di Klenteng Boen Tek Bio, Tangga Djamban, dan sirkulasi sekunder di kawasan Pasar Lama Tangerang.
Sejarah awal mula terbentuknya pasar Lama, dahulu tionghoa benteng banyak mendirikan lahan perkambungan di sekitar Tangerang, Teluk Naga, pasar Baru, dan pasar Lama. Di pasar Lama terdapat klenteng Boen Tek Bio yang sudah berdiri pada tahun 1684 yang menjelaskan kehidupan dan cara tionghoa benteng hidup. Secara garis keturuanan, tionghoa benteng berawal dari pelayaran Laksamana gang dan menikah dengan pribumi. Kampung ini dulunya sama seperti kampung pada umumnya yang melakukan aktivitas perdagangan, toko kelontong, toko makanan, dan masih banyak lagi. Seiring waktu, mulai berdatangan pedagang dari luar perkampungan, dan akhirnya pemerintah kota meresmikan pasar Lama menjadi pasar kuliner. Menurut Iwan Sugi (60) salah satu warga asli pasar Lama, sejarah pasar Lama merupakan kota tua di Kota Tangerang dan cenderung disebut Chinatown. Tapi, kebanyak pendatang dari Teluk Naga, pelabuhan ke daerah pasar Lama dan pasar Baru. Pasar Lama memiliki hubungan yang erat dengan orang tionghoa. Salah satu anak buah laksamana Cheng Ho diperintahkan ke Teluk Naga. Sehingga mereka menikah di sana kemudian pindah ke pasar Lama, pasar Baru, dan kali pasir. Salah satu contoh pada bangunan masjid kali pasir mempunyai atap berbentuk pagoda, masjid tersebut juga berdekatan dengan vihara atau klenteng Boen Tek Bio.
Rombongan Tjen Tjie Lung menetap, berbaur, dan menikah di tanah Jawa. Kelompok masyarakat Tionghoa Benteng juga semakin berkembang. Mereka mendirikan lebih banyak desa di beberapa daerah di sekitar Tangerang. Selain di Teluk Naga, mereka juga mendirikan pemukiman di Pasar Baru dan Pasar Lama.
Klenteng Boen Tek Bio di pasar Lama berlokasikan di Persimpangan Jalan Bhakti dan Jalan Cilame, Pasar Lama, Tangerang, Provinsi Banten. Lebih tepatnya di Jalan Bhakti No. 14 Kota Tangerang, Provinsi Banten, Indonesia. Sejarah Klenteng Boen Tek Bio tidak terlepas dari sejarah Kota Tangerang dan keberadaan orang beretnis Tionghoa yang tinggal di Tangerang.
Referensi
- ^ Kota, Tangerang. "WISATA KAWASAN KULINER PASAR LAMA". tangerangkota.co.id. Diakses tanggal 3 Maret 2025.
- ^ Rachmawati, Nindya (2024). "Sejarah Terbentuknya Pasar Lama Kota Tangerang". DEWARUCI. 3 (1). doi:10.3783.
- ^ Munandar Aris, Agus (2007). [chrome-extension://efaidnbmnnnibpcajpcglclefindmkaj/https://repositori.kemdikbud.go.id/24652/1/SEJARAH%20KEBUDAYAAN%20INDONESIA%201%20RELIGI%20DAN%20FALSAFAH.pdf Sejarah Kebudayaan Indonesia] (PDF). Jakarta: Direktorat Geografi Departemen Budapar. hlm. 187. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


