Panunggru Mentawai
Panunggru Mentawai adalah tradisi berkabung dan penghormatan terhadap orang yang telah meninggal di masyarakat Suku Mentawai. Tradisi ini diwujudkan melalui berbagai ritual dan tindakan simbolis seperti menanggalkan perhiasan, memotong rambut atau sampan, dan mengganti nama panggilan, serta dilaksanakan antara 1 hingga 3 bulan setelah pemakaman, tergantung dari kesiapan keluarga. Tradisi berkabung Panunggru Mentawai menunjukkan bagaimana masyarakat suku mentawai menghormati dan meresapi kehilangan seseorang dengan cara yang khas dan penuh makna. Dari menanggalkan perhiasan hingga mengubah panggilan, setiap langkah dalam proses ini memperlihatkan kedalaman kepercayaan dan nilai-nilai dalam budaya Mentawai.[1][2]
Kematian bagi masyarakat Mentawai
Kematian di lingkungan masyarakat Suku Mentawai, khususnya di Pulau Siberut, tidak berarti putus hubungan antara yang mati dengan yang masih hidup. Tidak jarang yang masih hidup merasa diikuti atau dihantui oleh yang sudah meninggal. Apalagi jika yang meninggal tersebut masih ada hubungan saudara atau keluarga. Maka dari itu dilaksanakanlah acara Panunggru Mentawai yakni masa berkabung bagi keluarga yang ditinggal yang ditandai dengan menanggalkan dan menyimpan perhiasan manik-manik yang mereka pakai dan tidak mengenakan pakaian bagus.[3]
Istri ditinggal mati suaminya, memotong lurus sedikit rambut di dahi, sementara anak perempuannya memotong sebagian ujung rambutnya, apabila seorang anak meninggal, maka ibunya memotong miring sedikit rambut di dahi kirinya. Selain rambut, sampan juga dipotong untuk menandakan ada peristiwa kemalangan menimpa pemiliknya. Apabila seorang suami meninggal, istrinya memotong kepala sampan (utet abak) sepanjang 5 cm. Ini menandakan istri kehilangan pemimpin dalam rumah tangganya. Jika istri meninggal, suaminya memotong ujung sampan (muri abak) yang menandakan ia kehilangan pendamping hidupnya. Jika anak yang meninggal, maka orang tuanya memotong sisi kiri bagian tengah sampan (tok-tok abak) yang menandakan ada yang hilang dalam hidup mereka.[3]
Seorang suami atau istri pasangannya yang meninggal akan berganti nama panggilan. Nama yang diberikan sesuai kejadian tertentu pada saat kemalangan itu yang disebut dengan Patonojiakenen. Selain itu, terdapat juga tradisi Kirekat, yaitu ukiran atau tanda telapak kaki pada sebuah pohon sebagai pengenang dari seorang kerabat yang telah meninggal dunia. Pohon ini kemudian dianggap sakral dan tidak bisa ditebang sembarangan.[3]
Pelaksanaan Punen Panunggru
Punen Panunggru merupakan upacara penting bagi suku Mentawai sebagai tanda berakhirnya masa berkabung dan sebagai tanda perpisahan abadi antara arwah yang telah meninggal dengan keluarga yang ditinggalkannya, dengan dipimpin oleh seorang dukun khusus, yang disebut sikerei, yang mengenakan atribut pakaian adat lengkap dengan cawat. Sikerei akan terlebih dahulu memulai dialog khusus dengan arwah almarhum dengan menanyakan alasan mengapa almarhum meninggal serta menyampaikan pesan-pesan penting kepada anak-anak dan anggota keluarga yang masih hidup. kemudian, memisahkan dan menyerahkan pakaian-pakaian maupun barang-barang kesayangan selama almarhum masih hidup di dunia kepada arwah yang telah meninggal tersebut (bukan barang secara fisik tapi secara roh).[4]
Pelaksanaan ritual ini sebagai pemisahan jiwa yang sudah meninggal dengan keluarga yang masih hidup serta penyerahan barang-barang yang dimiliki si arwah tersebut dilakukan untuk digunakan si arwah di kehidupan berikutnya. Apabila ritual ini tidak dilaksanakan maka arwah tersebut akan selalu meng-gentayangi atau meng-hantui rumah keluarganya yang masih hidup, yang mengakibatkan keluarganya akan mengalami sakit-sakit. Banyak persiapan yang harus dipenuhi untuk mempersiapkan ritual ini, yaitu setiap anggota keluarga memiliki pembagian tugas masing-masing berdasarkan jenis kelamin yang mana harus menyediakan segala hal yang berasal dari alam, seperti ayam, babi, dan kayu bakar menjadi tugas laki-laki, sedangkan perempuan menyiapkan sagu, keladi, kelapa dan bambu.[4]
Tradisi Punen Panunggru memiliki nilai magis yang sangat berkaitan dengan sistem kepercayaan suku mentawai yakni kepercayaan Arat Sabulungan. Dalam arat sabulungan, masyarakat suku mentawai percaya bahwa benda-benda dari alam memiliki roh dan jiwa. Disamping itu, setiap ritual yang mereka lakukan selalu menggunakan daun-daun yang dipercaya daun-daun tersebut dapat menjadi perantara kepada Sang Pencipta dengan sebutan "Ulau Manua".[4]
Referensi
- ^ Farid Akbar, Muhammad (25-08-2025). "Eksplorasi Budaya Suku Mentawai: Ritual, Kepercayaan, dan Warisan Spiritual yang Kaya". goodnewsfromindonesia.id. Diakses tanggal 15-11-2025.
- ^ rakyatempatlawang.com. "Mengungkap Keunikan dan Kekayaan Budaya Mentawai: Memahami 7 Warisan Budaya Takbenda yang Membanggakan". rakyatempatlawang.com. Diakses tanggal 2025-11-15.
- ^ a b c "Tujuh tradisi di Kepulauan Mentawai terima sertifikat Warisan Budaya Tak Benda dari Kemendikbudristek RI". Website Resmi Dinas Kominfo Kabupaten Kepulauan Mentawai. 2024-11-07. Diakses tanggal 2025-11-15.
- ^ a b c Alga Setiawan, Yohanes (02-11-2023). "Terancamnya tradisi Punen Panunggru: prosesi pemanggilan arwah di Pulau Siberut". goodnewsfromindonesia.id. Diakses tanggal 15-11-2025.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


